PERESMIAN: Pemotongan pita oleh Bupati Loteng, H.M. Suhaili FT, sebagai tanda peresmian gedung baru DPRD Loteng
- advertisement -

KLU, MataramNews  – “Madang Dunia” demikianlah para tokoh adat Bayan menyebut pemanasan global yang sekarang ini lagi ramai dibicarakan diseluruh belahan dunia ini. Semua ini terjadi akibat ulah manusia artinya kerusakan didaratan dan di lautan akibat tangan-tangan masnusia. Bahasa adat ini sesuai juga dengan apa yang tercantum dalam sebuah ayat di Al-Qur’an.

Ungkapan “Madang Dunia”, sering kita dengar dari para tokoh adat yang ada di Bayan. Madang Dunia ini dapat diatasi bila para tokoh-tokoh adat kompak dan sepakat dalam melakukan acara ritual seperti selamat olor dan bangaran.

“Coba lihat perubahan iklim sekarang ini, kendati hujan turun tapi rasanya tetap panas. Berbeda dengan puluhan tahun yang lalu, jika sudah saatnya hujanpun tetap turun menyiram bumi paer ini, sehingga para petani bisa melakukan turun bibit (menyemai bibit) baik di bangket (sawah) maupun di oma atau ladang. Tapi sekarang ini hujannya sudah mundur sampai empat bulan yang menyebabkan para petani  yang menanam menjadi rugi”, ungkap Mak Lokak Walin Gumi.

“Memang dalam penghitungan Adat Bayan setiap tiga tahun selalu ada perubahan musim, dan dalam satu tahun itu bisa berdampak tiga tahun. Tapi sekarang ini bukan tahunnya yang berubah, namun ini adalah ulah manusa (sabda palon-bahasa adat Bayan)”, ungkap Pembekel Belek Desa Loloan.

Sementara menurut Raden Asjanom, seorang tokoh adat Bayan mengungkapkan, ini akibatnya bila hutan kita ditebang dan digunduli. Padahal hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan serta masyarakat secara keseluruhan.

“Ketika iklim ini berubah, hutan dan manusia harus terbiasa dengan perubahan curah hujan yang tidak menentu serta suhu udara yang  cukup panas. Dan dampaknya musibahpun datang silih berganti, bila hujan terjadi banjir dan longsor dan jika panas terjadi kebakaran.

Demikian juga dengan gempa bumi, seolah-olah belahan dunia secara bergantian merasakan goyangan bumi ini ditambah lagi dengan abrasi pantai yang semakin hari semakin parah”, timpal H. Abdurrahman, tokoh adat Karang Bajo.

Dan secara adat untuk mengatasi madang dunia, perlu diadakan acara ritual seperti melakukan ‘bangaran’ di Subandar Labuahan Carik. Karena di tempat inilah dulunya terdapat sebuah rumah dinas adat subandar (syahbandar) dan termasuk tanah ulayat.

Selain itu, para tokoh adat mengatakan, terjadinya madang dunia ini, juga disebabkan adanya acara ritual yang jarang dilakukan, yaitu menggelar rirual adat “Pesta Gawe Alip”.

“Gawe Alip ini seharusnya dilaksanakan sekali dalam sewindu atau delapan tahun, yang diawali dengan selamat desa yang tujuannya memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar dunia ini aman, damai dan sejahtera”, kata Budanom, salah saorang tokoh adat keturunan Mangku Walin Gumi Karang Bajo.

Dikatakan, masyarakat adat Bayan memiliki perhitungan tahun delapan yaitu, tahun Alip, Ehe, jimawal, Ce, Dal, Be, Wau dan tahun Jimahir. Dari perputaran tahun, ketika sudah memasuki tahun Alip, seyogyanya masyarakat adat melaksanakan pesta alip yaitu Alip Endos dan Alip Numbuk. Pada pesta alip endos, masyarakat adat memohon kepada Allah SWT agar diberikan rezeki yang melimpah serta keturunan yang banyak.

Sementara pasangan pesta alip endos adalah alip numbuk yang pada acara rituanya dilakukan doa bersama agar apa yang dianugrahkan oleh Allah seperti rezeki dan anak keturunan membawa baroqah dan mamfaat bagi umat manusia dijagad raya.

Puluhan tokoh adat Karang Bajo mengaku, acara ini memang sulit dilaksanakan, karena harus mengumpulkan 44 orang keturunan pemangku dan Mak Lokak. Selain itu membutuhkan biaya yang besar untuk pelaksanaan ritual adat pesta alip, sedangkan sebagian mereka sekarang ini sudah tidak memimiliki pecatu tempat mereka mencari kehidupan. Dan konon acara ini pernah dilaksanakan sekitar tahun 1957, dan setelah itu tidak pernah lagi diritualkan.

Lalu hubungannya dengan pemanasan global atau madang dunia sekarang ini? “Ini sebenarnya sebuah peringatan bagi kita umat manusia dimuka bumi ini yang telah banyak melakukan tindakan kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan. Dan hal ini para orang tua masyarakat adat jauh sebelumnya sudah meramalkan kejadian madang dunia. Dan para tetua dulu sudah mengingatkan, jika terjadi seperti ini harus segera melakukan penyelamatan dengan mengadakan ritual adat selamat desa yang dilanjutkan dengan pelaksanaan gawe alip”, jelas Budanom.

Dibalik itu semua ada ramalan yang cukup menggembirakan, seperti diutarakan oleh H. Abdurrahman, bahwa madang dunia ini akan berakhir pada tahun 2011, dan setelah itu kondisi cuaca yang tidak menentu ini akan kembali normal. “Para orang tua kita dulu sudah menceritakan apa yang terjadi sekarang ini, dan kondisi ini, Insya Allah akan kembali normal pada tahun 2012 ini. Wallahu’alam.