BNNP: Penyalahgunaan Narkotika Meningkat

MATARAMnews – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) melansir jumlah korban penyalahgunaan narkoba yang dirawat inap dan rawat jalan di One Stop Center (OSC) yang berlokasi di Rumah sakit Jiwa Mataram dari periode Januari sampai Agustus 2011 sebanyak 31 orang.

Jumlah itu, diperkirakan BNNP NTB akan cenderung meningkat sampai akhir tahun 2011 mendatang. Berdasarkan jenis kelamin korban penyalahgunaan narkoba yang dirawat inap dan rawat jalan di OSC yang berlokasi di Rumah Sakit Jiwa Mataram, BNNP mencatat didominasi kaum laki-laki sebanyak 29 orang dan perempuan 2 orang.

Sedangkan berdasarkan zat yang digunakan, posisi pertama ditempati Ganja 19, Shabu 12, Ekstasi 4. Sementara berdasarkan usia para korban masih berusia muda antara 16 tahun sampai 30 tahun dengan usia terbanyak 20 sampai 24 tahun.

“Yang diterima (rawat-red) itu rata-rata bukan pengedar tetapi pengguna. Kalau pengguna berdasarkan undang-undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Surat edaran Mahkamah Agung No.4 tahun 2010 tanggal 7 April 2010 tentang Penempatan penyaalah guna, korban penyalahgunaan dan pecandu narkotika ke dalam lembaga rahabilitasi medis dan rehabilitasi sosial,” jelas Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNNP NTB, Dra. Baiq Rusniyati, MM kepada media ini, Selasa (4/10/2011).

Lebih lanjut ia mengungkapkan berdasarkan data yang diterima BNNP dari Direktorat Narkoba Polda NTB, data penyalahgunaan narkotika di NTB sejak Januari sampai Juni 2011 sebanyak 50 kasus dan 73 tersangka. “Kalau dilihat tahapan pengguna narkotika ini berawal dari coba-coba, kemudian kadang-kadang, memakai hingga akhirnya menjadi ketergantungan,” paparnya.

Melihat kondisi itu, pihaknya saat ini tengah berencana mengajak pondok-pondok pesantren sebagai tempat merehabilitasi para pengguna narkotika, selain One Stop Center yang berlokasi di Rumah sakit Jiwa Mataram. Hal ini, diperlukan untuk menyadarkan para korban penyalahgunaan narkotika agar segera keluar. “Kedepan kita sedang memfokuskan mengajak Ponpes untuk mau menerima korban narkoba, meskipun nati tidak semua Ponmmpes yang kita ajak tetapi hanya beberapa untuk sementara,” terangnya.

Selain itu, keterlibatan universitas, sekolah, LSM, media, tokoh masyarakat, tokoh agama serta organisasi kepemudaan tentang waspada narkoba tetap mengancam melalui sosialisasi terus digalakkan. “Kita berharap pendekatan ke dunia usaha bisa ditingkatkan terkait persoalan pembiayaan,”tandas Rusniyati.

(Laporan: Iman | Mataram)