Litbang Pertanian: Produktivitas Inpari 43 Unggul di Bali

MN, BALI — Badan Litbang Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali telah banyak mengembangkan Inpari di Bali, diantaranya Inpari 7, 8, 9, 36,37, 40, 43 dan Inpari Blas. Masing-masing Inpari yang dikembangkan memiliki keunggulan tersendiri, baik dalam hal produktivitas maupun ketahanan terhadap hama penyakit.

Inpari atau Inbrida Padi Irigasi merupakan padi yang ditanam di lahan sawah. Inbrida memiliki arti yaitu varietas yang dikembangkan dari satu tanaman melalui penyerbukan sendiri sehingga mempunyai kemurnian dan homozigositas yang tinggi.

Pada 2018, BPTP Bali kembali mengembangkan varietas padi Inpari melalui kegiatan diseminasi teknologi inovasi mendukung program swasembada pangan. Menurut Peneliti BPTP Bali, Ida Bagus Gde Suryawan, P.hd, teknologi inovasi yang dikembangkan khususnya Varietas Unggul Baru (VUB) tahan Organisme Penganggu Tanaman (OPT), sistem tanam jajar legowo 2:1, dan Jarwo Super.

Lebih lanjut disampaikan rata-rata hasil gelar teknologi VUB padi tahan OPT di enam Kabupaten di Bali yaitu Jembrana, Bangli, Karangasem, Tabanan, Badung dan Gianyar menunjukkan VUB Inpari 43 memiliki produktivitas tertinggi bahkan mencapai 13,50 ton/ha di Kabupaten Gianyar.

Kepala BPTP Bali, I Made Rai Yasa, menyatakan rasa optimisnya untuk merekomendasikan pengembangan VUB Inpari 43. “Dari laporan penjab kegiatan kami diketahui Inpari 43 menjadi varietas favorit petani di seluruh Bali” ungkapnya, saat ditemui ditempat kerjanya di Denpasar pada Kamis (31/1/2019) kemarin.

Lebih lanjut Kepala BPTP Bali menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kegiatan gelar teknologi VUB padi tahan OPT, beberapa VUB mendapat respon positif dari petani. “Inpari 9 di Gianyar, Inpari 36 di Jembrana, Inpari 37 di Karangasem, dan Inpari 40 di Badung,” paparnya. –(mapitek-mn-03)