Maksimalkan Potensi Pariwisata NTB, Indonesia dan Jerman Teken Kerja Sama Bilateral

MN, LOMBOK — Maksimalkan potensi pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB), kerja sama bilateral pemerintah Indonesia dan Jerman tanda tangani nota kesepahaman dengan sejumlah pemangku kepentingan Terkait.

Kerja sama bilateral pemerintah Indonesia dan Jerman yang didukung oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Peren Pembangunan Nasional (Kementerian PPN Bappenas) dan Deutsche Intemationale Zusammenarbeit (G1Z) GmbH, melalui proyek Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan yang Inklusif (ISED) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/Mou) dalam rangka memaksimalkan potensi pariwisata di NTB dengan fokus pada promosi ketenagakerjaan.

Kerja sama strategis ini meilibatkan sejumlah pemangku kepentingan terkait, salah satu diantaranya adalah Indianesia Tourism Development Corporation (ITDC) Kegiatan ini didukung dan juga disaksikan oleh Gubernur NTB H. Zuikieflimansyah.

Pariwisata menjadi sektor pilihan dalam pembangunan ekonomi yang paling layak dan berkelanjutan, dan sejak 2014 sektor ini telah menjadi andalan, setelah minyak dan gas, batu bara dan CPO.

Kegiatan pariwisata terus meningkat dan menyumbang pendapatan devisa tertinggi dari keseluruhan sektor jasa dan pemerintah telah menetapkan pengembangan sepuluh destinasi pariwisata prioritas termasuk didalamnya NTB Komitmen pembangunan pariwisata yang masif pun datang bersama dengan beberapa tantangan dan hambatan.

Dua hal yang paling menonjol adalah kurangnya jumlah pekerja terampil dan ketidakcocokan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja antara keduanya.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, menyatakan NTB berkomitmen untuk menyumbang sekitar empat juta wisatawan pada tahun 2019.

“Kami pun akan terus berupaya untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapai pada tahun 2016 sebagai Destinasi Halal terbaik,” ucapnya.

Karena itu untuk mencapai hal tersebut, ungkap Gubernur, pihaknya masih harus menjalankan banyak tugas terlebih dengan bencana alam gempa bumi yang baru-baru ini menimpa daerah ini.

“Walaupun demikian, seluruh NTB siap, kami harus maju dan membangun masa depan bersama. Kami sangat optimistis untuk mencapai komitmen ini dan mengimplementasikan upaya promosi apa pun,” kata Gubernur.

Karena itu, Gubernur sangat mengapresiasi penandatanganan kerja sama strategis ini, yang sudah tentu sejalan dengan komitmen yang kami miliki Fokus utama kerja sama ini adalah promosi ketenagakerjaan.

Kedua Nota Kesepahaman yang ditandatangani berfokus pada dua bidang implementasi yang berbeda dengan menggandeng beragam pemangku kepentingan yang berbeda.Salah satu daerah implementasi adalah Mandalika yang telah menjadi salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang dikembangkan oleh ITDC untuk menjadi destinasi pariwisata baru kelas dunia, lengkap dengan berbagai fasilitas melalui konsep pembangunan yang ramah lingkungan.

Mandalika diharapkan untuk memiliki sekitar 2.000 kamar hotel dan bisa menarik wisatawan asing hingga dua juta setiap tahunnya. Pada 2030 pembangunan diproyeksikan dapat mempekerjakan hingga 56.000 pekerja.

“ITDC memahami tantangan dan hambatan yang ada dan berkomitmen untuk turut berupaya menghadapinya bersama melalui kerja sama ini. Kami akan mengadaptasi bisnis inklusif dan pendekatan promosi ketenaga kerjaan yang sesuai guna meningkatkan keterampilan dan kesempatan masyarakat,” tambah President Director ITDC, Abdulbar M. Mansoer

Implementasi area kedua akan dipusatkan di Desa Billebante, Lombok Tengah dengan fokus area kerja sama pada Desa Wisata Kebugaran.

Head of Corporate Communication and CSR Martha Tilaar Group, Palupi Candra menyatakan, “Kami merasa senang dapat terlibat dalam inisiatif ini. Kami memiliki sumber daya yang memadai untuk mengembangkan Desa Wisata Kebugaran ini. Desa ini memiliki potensi yang baik dan kita perlu memaksimalkan kapasitas sepenuhnya, sehingga masyarakat pun bisa menikmati manfaatnya bersama. Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi proyek percontohan yang dapat direplikasi ke seluruh Indonesia dalam waktu dekat.

Dalam kerjasama ini, Martha Tilaar Group melalui Kampoeng Djamoe Organik. Roemah Martha Tilaar dan Martha Tilan Training Center yang akan memberikan pelatihan yang diharapkan masyarakat dapat menjadi individu- individu yang berdaya, mandiri, dan bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga Indonesia adalah salah satu negara prioritas pemerintah Jerman dalam konteks kerja sama permbangunan internasional.

Kerja sama teknis bersama Indonesia dimulai pada 1958. Mewakili Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), Deutsche Gesellschaft für internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH telah bekerja sebagai agensi implementasi di Indonesia sejak 1975 dan membuka kantor di Jakarta di tahun yang sama. Mitra kerja sama utama dan agensi pelaksa untuk proyek ISED adalah Bappenas.

Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappenas, Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo, menjelaskan bahwa dengan perspektif baru, kerja sama antar pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta ini memiliki fokus yang berbeda, karena Proyek ISED berupaya menghadapi tantangan dari sisi permintaan (demand side) dengan berkerja secara erat dengan pihak swasta industri.

Dibutuhkan satu desa untuk mengasuh satu anak menjadi aplikatif dalam kerja sama ini Kerja sama strategis ini melibatkan sejumlah pihak yang datang dari sektor publik dan swasta pusat dan juga daerah, yaitu Bappenas, Pemerintah Provinsi NTB, Martha Tilaar Group, PT. Panorama Sentrawisata Tbk, Hotel Santika Mataram, Yayasan Allianz Peduli, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kementerian Desa PDTT), Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop dan UKM), Politeknik Pariwisata Lombok, Desa Wisata Hijau Bilebante, dan Geman Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ) yang diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

—(mn-07)

Bagikan :