123 Peserta Parade Ogoh-Ogoh Dilepas Wali Kota Mataram

MN, MATARAM — Sekitar 123 ogoh-ogoh yang diikut sertakan dalam parade yang diadakan setiap tahun dengan melibatkan ribuan anak muda Hindu Kota Mataram, sebagai salah satu ritual adat dan keagamaan menjelang puncak Hari Raya Nyepi.

Parade ratusan ogoh-ogoh yang digelar panitia pelaksana Pecaruan dan Ogoh-Ogoh Kota Mataram itu dilepas langsung oleh Walikota Mataram H. Ahyar Abduh, pada Kamis (7/3/2019).

Parade Ogoh-Ogoh selalu menarik minat masyarakat sebagai salah satu kegiatan yang bernilai budaya, sehingga dalam setiap penyelenggaraannya selalu diramaikan oleh masyarakat dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Selain Wali Kota beserta para pemuka agama Hindu Kota Mataram dan Nusa Tenggara Barat, turut hadir pula segenap anggota Forkopimda Kota Mataram serta segenap jajaran Pimpinan OPD lingkup Kota Mataram untuk mengikuti acara pelepasannya.

Ketua Panitia Pelaksana Pecaruan dan Ogoh-Ogoh Kota Mataram AA Made Djelantik Agung Barawangsa, dari 123 ogoh-ogoh yang diarak dalam parade, 111 diantaranya dari Kota Mataram. Sedangkan 10 ogoh-ogoh merupakan partisipasi masyarakat Hindu Kabupaten Lombok Barat, dan dua ogoh-ogoh lainnya dari Kabupaten Lombok Tengah.

Menurut ketua panitia yang juga merupakan Krama Pura Meru, kegiatan ini merupakan sebuah bentuk pendidikan dini bagi anak muda Hindu untuk dapat mengenal wujud-wujud Bhuta Kala yang direpresentasikan dengan sosok raksasa ogoh-ogoh. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mengikut sertakan 128 ogoh-ogoh dalam parade, jumlah ogoh-ogoh yang diarak tahun 2019 ini diakuinya berkurang. Namun hal tersebut diikuti dengan peningkatan dari segi kualitas. “Secara jumlah berkurang, tapi secara kualitas bertambah”, ucapnya.

Sementara Ketua Paisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Mataram Ida Made Santi Adnya, momentum Parade Ogoh-Ogoh bukan hanya atraksi budaya saja melainkan juga sebagai sebuah forum komunikasi yang membawa pesan-pesan persatuan dan persaudaraan.

Meski saat ini suhu politik tengah memanas menjelang pelaksanaan Pilpres dan Pileg, dirinya berharap agar momentum ini tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak semestinya dan dapat menghormati umat Hindu yang tengah melaksanakan ibadah penyepian.

Disamping itu dirinya berpesan agar setelah pelaksanaan parade, para peserta tidak memajang ogoh-ogoh terlalu lama karena tidak sesuai dengan etika, serta dapat mengganggu kelancaran lalu lintas, dan berpoensi mencemari lingkungan. “Kita mendukung semangat Lombok Bangkit dan Mataram Bangkit pasca gempa”, ujarnya.

Sesaat sebelum melepas secara resmi Parade Ogoh-Ogoh, Wali Kota Mataram H. Ahyar Abduh dalam sambutannya menyatakan rasa bangga atas suasana harmonis yang terbangun di Kota Mataram ditengah perbedaan latar belakang suku, agama, dan budaya yang ada.

Kegiatan ini merupakan sebuah contoh yang baik dalam menjaga semangat kebersamaan meskipun komposisi penduduk Kota Mataram diakuinya sangat heterogen. Wali Kota menyatakan bahwa dirinya sangat menghargai dan ikut mengambil makna dari Catur Bratha Penyepian meskipun tidak mengikuti ritualnya.

Diingatkan pula bagi umat Hindu Kota Mataram agar dapat menjalankan ibadah penyepian dengan penuh khidmat sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, sementara bagi yang tidak menjalankan agar dapat memberikan dukungan serta bersama-sama menjaga kondusifitas Kota Mataram. “Menjaga semangat kebersamaan, karena itu modal utama kita di Kota Mataram ini”, tandasnya.

–(hs-mtr/mn-03)