Plan Indonesia Adakan Lokakarya Pembelajaran Respon Bencana Gempa Lombok

Plan Internasional Indonesia
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti

MATARAM, MN — Yayasan Plan Internasional Indonesia merespon bencana gempa bumi berkekuatan 6.4 SR di Lombok pada 29 Juli 2018 sampai 28 Februari 2019 melalui serangkaian kegiatan, yang diawali dengan rapid need assessment (kaji cepat kebutuhan/RNA) agar respons yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, juga tepat waktu dan sasaran.

Plan Indonesia bersama mitra YAKKUM Emergency Unit dan GAGAS Foundation, hingga 28 Februari 2019 tercatat sebanyak 6.899 keluarga telah mendapatkan manfaat dari bantuan di berbagai sektor respons Plan Indonesia yang mencakup sektor perlindungan anak, pendidikan, bantuan non-pangan, serta sanitasi dan air.

Pada fase awal gempa bumi Lombok terjadi, Plan Indonesia menyadari bahwa dibutuhkan komitmen dari berbagai pihak agar Lombok dapat bangkit dan pulih kembali, melihat adanya kesenjangan di antara kebutuhan dan upaya pemenuhan kebutuhan warga yang terdampak.

Oleh karena itu, Plan Indonesia sebagai yayasan yang berfokus pada pemenuhan hak anak dan kaum muda perempuan turut mengidentifikasian kelompok penyintas yang paling membutuhkan.

Langkah pengidentifikasian ini menjadi poin pembelajaran dan hal yang sangat penting, sehingga bantuan yang diterima oleh kelompok penerima manfaat respons Plan Indonesia yang terfokus untuk anak, ibu hamil, ibu yang sedang menyusui, serta perempuan dan laki-laki dengan disabilitas bisa memenuhi kebutuhan dan tepat waktu.

Plan Indonesia juga merangkul masyarakat, terutama kaum muda untuk berperan aktif membangkitkan dan memberdayakan komunitas dan lingkungannya kembali. Dengan melibatkan mereka sebagai relawan kegiatan distribusi bantuan dan juga fasilitator Ruang Ramah Anak, Plan Indonesia menemukan bahwa kaum muda bukan hanya sebagai penyintas, namun kelompok yang berdaya dan sangat partisipatif.

“Partisipasi mereka sangat berarti bagi anak-anak karena kedekatan budaya, bahasa, dan pengalaman sehingga anak-anak yang berkegiatan di Ruang Ramah Anak, bermain dan belajar bersama teman sebayanya dengan lebih nyaman,” ujar Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia, di Mataram ketika membuka Lokakarya pembelajaran respons gempa bumi Lombok, Sabtu (16/3/2019).

Menurut Dini Widiastuti, selain itu Plan Indonesia juga berupaya untuk membangkitkan sektor perekonomian dan pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan, dalam pendistribusian bantuan non-pangan berupa paket keperluan pribadi (Dignity Kit).

Dalam proses distribusi paket keperluan pribadi, Plan Indonesia melibatkan pedagang lokal untuk menyediakan kebutuhan spesifik masyarakat, sehingga masyarakat punya kesempatan untuk memilih sendiri kebutuhannya (dari jenis barang, model, dan ukuran), mengingat anak perempuan dan perempuan dewasa terutama ibu hamil dan menyusui mempunyai kebutuhan yang spesifik yang tidak bisa diabaikan seperti kebutuhan akan pembalut dan pakaian dalam.

Setelah melakukan kerja intensif bersama mitra YAKKUM Emergency Unit dan GAGAS Foundation, dan juga melibatkan masyarakat dan kaum muda dalam melakukan respons gempa bumi Lombok, Emergency Response Team (ERT) kemudian Plan Indonesia mengadakan Lokakarya Pembelajaran Respons Gempa Bumi Lombok agar pemerintah, organsasi non-pemerintah, dan masyarakat mengetahui pembelajaran yang bisa dipetik selama proses respons gempa bumi di Lombok.

Lokakarya ini juga bertujuan untuk mengingatkan kembali komitmen rencana tindak lanjut dari pemerintah, organisasi non pemerintah, dan masyarakat.

Dalam agenda kegiatan lokakarya, diselenggarakan juga berbagai agenda lainnya seperti diskusi panel, sesi berbagi pembelajaran dalam rangka mewujudkan respons pendidikan dalam situasi darurat yang lebih baik bagi anak, dan tak lupa mendengarkan testimoni anak-anak, pendamping RRA, guru, dan kepala UPTD tentang pendidikan pasca bencana.

Lokakarya ini diikuti oleh staf Plan Indonesia yang terlibat dalam respons gempa bumi Lombok beserta para relawan, pemangku kepentingan, serta mitra kerja. Di antaranya, perwakilan dari Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, BPBD, BAPPEDA, guru, tokoh masyarakat, anak-anak, pendamping Ruang Ramah Anak (RRA), serta organisasi kemanusiaan lainnya.

Sementara itu, pihak pemerintah NTB melalui Bapedda menyambut baik dan apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan oleh pihak Yayasan Plan Internasional Indonesia.

“Apa yang dilakukan oleh Yayasan Plan Internasional Indonesia ini sangat strategis dan esensial dalam terutama sekali bagaimana kedepan dalam melakukan program mitigasi,” ucap Kepala Bidang Perencanaan Sosial Budaya Bapedda NTB, Lalu Husbulwadi.

Karena itu, Ia berharap dari Lokakarya pembelajaran respons gempa bumi Lombok bisa dihasilkan satu rumusan yang bisa diadaptasikan dan replikasikan ke kabupaten Kota yang lain.

“Terobasan model mitagasi bencana karena NTB masuk dalam salah satu provinsi rawan bencana,” terangnya.

Maka karena itu tambahnya, perlu langkah strategis dalam peningkatan SDM baik pemerintah maupun non pemerintah untuk secara bersama melakukan model penanganan mitigasi bencana kedepannya.

(mn-07)