Millenial Dobrak Revolusi Budaya 4.0

dwi arifin
Penulis : Dwi Arifin (Mahasiswa Ekonomi Pembangunan)

Revolusi Industri 4.0 merupakan bagian dari arus globalisasi dan teknologi informasi yang relativ sangat cepat memberikan dampak yang besar terhadap cara pandang, budaya, dan gaya hidup di kalangan generasi milenial saat ini. Karakteristik generasi milenial sendiri mungkin berbeda dimana ditentukan oleh berbagai daerah dan kondisi ekonomi.

Generasi millenial cenderung acuh terhadap budaya negeri sendiri. Namun bertolak belakang dengan adanya demam kpop budaya negeri sebrang. Budaya Kpop merupakan bukti dimana keterlibatan teknologi dan keseriusannya mengindustrialisasikan kebudayaan. Generasi millennial cendrung bersikap individualis yang mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Generasi millennial berpengaruh terhadap kehidupan sosial, yang lebih mementingkan ego masing-masing sehingga sikap dan prilaku yang terjadi adalah menyimpang melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan sendiri tanpa memikirkan sekitar.

Kurangnya pengelolaan kebudayaan secara serius dan terpadu terhadap budaya budaya di Indonesia membuat kurangnya peminat terutama untuk kalangan millenial.

Permasalahan permodalan terutama sering menjangkit berbagai komunitas untuk mengembangkan budaya setempat. Kurangnya perhatian pemerintah dalam memberikan permodalan salah satu bentuk bukti jalan ditempat pengelolaan kebudayaan. Pendidikan sejak dini menanaman cinta budaya bahkan sayup-sayup sudah tidak terdengar lagi. Bahkan anak kecil sekarang cenderung lebih menyukai dan mudah menghafalkan lagu percintaan hingga lagu-lagu dewasa lainya yang sedang ngetrend saat ini.

Pusat Pelayanan Terpadu Budaya Indonesia mungkin sebagai alternativ program solusi untuk meningkatkan minat bakat budaya. Dimana pelayanan ini melibatkan teknologi dalam mengelola sebuah kebudayaan setempat.

Dengan melibatkan teknologi yang ada pemodalan bisa menjadi jawaban. Dimana dengan adanya pemodalan crowd funding menjadikan solusi saat ini mencari dana kepedulian budaya setempat. Dari belahan bumi manapun seseorang dapat memberikan urun dana sebagai bentuk peduli budaya.
Siapapun itu dari latar belakang apapun bahkan pemerintah setempat bisa mengelontorkan dana lewat crowd funding. Selain itu dana desa pemerintah juga merupakan bagian dari pemodalan pengelolaan budaya. Sekarang ini dana desa kerap hanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur namun melewatkan untuk peningkatan karakter negeri kita. Oleh karena itu minimal 5-10% diharapkan dari dana desa bisa digunakan untuk pengelolaan sebuah budaya.

Dengan tersedianya pemodalan bisa digunakan untuk pembelian alat alat modern untuk mendokumentasikan pementasan budaya supaya lebih kekinian dan instagramable istilah bagi kaum millenial.

Belakangan ini sangat marak youtuber youtuber Indonesia namun masih kurang merambah dunia kebudayaan. Oleh karena itu pusat pelayanan ini bisa bekerja sama untuk mempromosikan budaya bersama dengan youtuber yang banyak digandrungi oleh remaja remaja kekinian.

Menurut para peneliti sosial, generasi Y atau Millennial ini lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Dengan kata lain, generasi millennial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun. Sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup.

Meningkatkan literasi kebudayaan merupakan tujuan utama dalam pengelolaan dimana pemuda peduli kebudayaan bisa mengeksplorasi kebudayaan yang belum terekspos oleh masyarakat luas. Didukung dengan adanya literasi history makna dari budaya yang mendalam menjadikan nilai tambah bagi budaya nusantara. Pemuda saat ini haruslah peka terhadap keadaan untuk memanfaatkan teknologi diera revolusi industri saat ini yang sangat deras arus informasi.

Dengan adanya pihak dari pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreativ bisa dijadikan batu loncatan untuk keseriusan industrialisasi Kebudayaan. Dipadupadankan dengan memasukan kurikulum dalam pendidikan, bukan hanya sebatas teori namun siswa mampu menunjukan budaya budaya yang saat ini belum terjamahkan. Sikap mengharhai toleransi terhadap perbedaan perbedaan saar ini. Harus dijadikan tongkat utama terus meningkatkan kualitas berbudaya.

Selain itupula keseriusan pengelolaan kebudayaan bisa meningkatkan jiwa kewirausaahan pemuda pemudi kita untuk terus mempromosikan kebudayaan. Dengan penjualan pernak pernik ciri khas daerah bisa dijadikan souvenir bagi para pelancong. Penjualan souvenir juga bisa diterapkan dengan penjualan online diera saat ini.

Keterlibatan pemerintah bersifat wajib untuk keseriusan mengelola budaya. Baik dari pembuatan website Visit Indonesia yang menyediakan laman laman artikel masyarakat dengan budaya wisata maupun souvenir ciri khas daerah. Diwebsite tersebut juga bisa dijadikan Usaha menjual souvenir souvenir daerah. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

Bagikan :