62 FKTP dan 13 Rumah Sakit Telah Dibayar BPJS Kesehatan Mataram

MATARAM, MN–Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Mataram kucurkan dana sebesar Rp 89,548 Milyar untuk pembayaran dana kapitasi dan klaim kepada Fasikitas Kesehatan baik tingkat pertama maupun tingkat lanjut untuk bulan pelayanan Februari 2019.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mataram, Muhammad Ali, mengatakan di wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Mataram yaitu Kota Mataram, Lombok Barat dan Lombok Utara terdapat 62 Fasilitas Kesehatan Tagihan Pertama (FKTP) dan 13 FKRTL atau Rumah Sakit, telah dibayarkan dana kapitasi dan klaimnya.

“Terhadap 62 FKTP terdiri dari puskesmas klinik pratama dan dokter praktek perorangan dan 13 Rumah sakit telah dibayarkan dana kapitasi dan klaimnya sebesar Rp 89.548 milyar sepanjang bulan April 2019 ini, untuk pelayanan bulan Januari dan Februari 2019,” ucapnya kepada wartawan, di Mataram, Selasa (16/4/2019).

Menurutnya pembayaran tersebut mengacu kepada mekanisme first in first out dengan memprioritaskan klaim klaim yang telah jatuh tempo.

“Tidak semua klaim rumah sakit itu kita terima juga bersamaan waktunya ya, ini bergantung kepada proses pengajuan klaim dan proses verifikasinya,” ujarnya.

Dipaparkannya bahwa dari dana sebesar Rp 89.548 milyar yang dibayarkan pada bulan April ini, itu sebanyaj Rp 8,2 miliar untuk peruntukan kapitasi dan non kapitasi bagi seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di wilayah kerja BPJS Cabang Mataram.

Kemudan pembayaran klaim bagi 13 Rumah Sakit sebanyak Rp 57 milyar bervariasi ada yang klaimnya Januari dan Februari 2019.

“Artinya ada yang belum terproses verifikasi klaimnya sampai dengan April artinya sampai dengan bulan pelayanan Februari, kemudian juga termasuk di dalamnya untuk klaim klaim yang disusulkan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu saja dana tersebut juga untuk pembayaran klaim klaim dari 10 optik yang bekerja sama untuk pelayanan kacamata sampai dengan bulan pelayanan Februari 2019 sebesar Rp 180 juta.

“Dana tersebut juga termasuk untuk denda pelayanan akibat keterlambatan dampak defisit yang lalu, kita juga sudah membayar kepada seluruh rumah sakit yang bekerja sama yaitu denda keterlambatan pembayaran ini Rp 1,9 milyar denda keterlambatan,” pungkasnya.

Sementara itu RSUP NTB yang merupaka sebagai rumah sakit pusat rujukan di wilayah NTB dan juga menerima rujukan dari NTT tersebut yang terbesar mengajukan klaim, kemudian disusul oleh RSUD Kota Mataram yang juga sama sama kelas rumah sakitnya dengan rumah sakit provinsi kelas/type B.

Kemudian rumah sakit patut patuh Lobar menjadi terbesar ketiga, lalu RS Wira Bakti, RS Tanjung, RS Permata Hati dan RS Mutiara Sukma, kurang lebih hampir sama klaimnya.

(mn-07)