Para mulud akan memasuki Masjid Kuno

KLU, MATARAMNews – Bulan Rabi’ul Awal khususnya bagi umat Islam, diperingati sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw, atau dikenal dengan Maulid Nabi. Berbagai kegiatanpun dilaksanakan. Ada sebagian masyarakat memamfaatkan untuk acara ngurisan (potong rambut) bagi bayinya yang baru lahir, ada juga  yang melakukan khitanan anaknya untuk mengambil barokah dari datangnya bulan kelahiran Baginda Nabi, Saw.

Suasana yang berbeda dalam peringatan ini adalah yang dilakukan oleh komunitas Adat Bayan Kabupaten Lombok Utara, dimana tradisi Maulid atau Mulud (sebutan penduduk asli Bayan-red) berjalan selama dua hari.

Hari pertama adalah persiapan bahan makanan dan piranti upacara lainnya yang dikenal dengan istilah “kayu aiq”. Sementara pada hari kedua do’a dan makan bersama yang dipusatkan di masjid kuno Bayan. Prosesi pelaksanaan Mulud adat Bayan dilakukan oleh warga Desa Loloan, Anyar, Sukadana, Senaru, Karang Bajo dan Desa Bayan. Semua desa
tersebut merupakan kesatuan wilayah adat yang disebut dengan Komunitas Masyarakat Adat Bayan. Lalu bagaimana prosesi Mulud Adat Bayan ini? Berikut penulusuran
wartawan Corong Rakyat.

Berdasarkan perhituangan Sareat (syari’at) Adat Gama Bayan, bahwa Mulud Adat dilaksanakan dua hari yaitu tanggal 14-15 Rabiul Awal, yang pada tahun 2012 ini bertepatan dengan tanggal 7-8 Februari. Kendati demikian, namun kesibukan komunitas adat menyambut peringatan Mulud Adat ini sudah mulai tampak jauh sebelumnya. Mereka sudah mulai bersiap-siap melakukan rangkaian acara perayaan Maulid Nabi yang digelar secara adat.

Sejak pagi buta, 14 Rai’ul Awal, komunitas adat Bayan menuju sebuah kampu yaitu sebuah rumah yang diyakini sebagai area pertama didiami oleh suku Sasak Islam Bayan. Mereka membawa dan menyerahkan sebagian sumber pengahasilannya dari hasil bumi seperti padi, beras, ketan, kelapa, kemiri, sayur-sayuran buah-buahan dan hewan ternak berserta
batun dupa (uang) dan menyertakan nazarnya kepada inan meniq, yaitu seorang perempuan yang dipercaya untuk menerima dan mengolah hidangan yang disajikan kepada para kiyai, penghulu dan tokoh adat pada hari puncak perayaan mulud adat.

Hal ini dilakukan sebagai tanda syukur atas keberhasilan panennya. Kemudian inan menik memberikan tanda di dahi warga adat dengan mamaq dari sirih sebagai ritual adat yang dikenal dengan nama menyembek. Setelah itu, komunitas adat Bayan saling bahu membahu membersihkan tempat yang disebut balen unggun atau tempat sekam dan balen tempan (alat menumbuk padi) serta membersihkan rantok (tempat menumbuk padi) yang dibawa oleh komunitas adat. Prosesi inipun dilanjutkan dengan membersihkan tempat gendang gerantung yang akan disambut oleh sebagian kelompok komunitas adat. Setibanya gendang gerantung pada tempat yang disediakan, acara ritual dilanjutkan dengan selamatan penyambutan dan serah terima dengan ngaturan lekes buaq (sirih dan pinang) sebagai tanda taikan mulud atau rangkaian maulid adat dimulai.

Sekitar pukul 15.30 Wita, waktu itu disebut dengan gugur kembang waru, para wanita adat mulai melakukan kegiatan menutu pare (menumbuk padi) bersama-sama secara berirama dengan menggunakan tempat yang terbuat dari bambu panjang. Padi tersebut ditumbuk pada lesung seukuran perahu yang disebut menutu.
Pada saat bersamaan, ritual menutu pare ini diiringi dengan gamelan gendang gerantung khas Desa Bayan. Di sisi lain, kaum laki-laki beramai-ramai mencari bambu tutul untuk dijadikan tiang umbul-umbul (penjor) yang akan dipasang pada setiap pojok masjid kuno Bayan. Acara ini dikenal dengan nama pemasangan tunggul yang dipimpin oleh seorang pemangku atau Melokaq Pengauban. Ini dilakukan setelah mendapat restu dari inan meniq dengan menyediakan lekok buaq. Ritual ini dijadikan sebagai media betabiq (penghormatan) pada pohon bambu yang akan ditebang.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !