LPG di Kota Mataram Langka

Mataram, MATARAMnews – Kelangkaan LPG kemasan 3 kg di wilayah Kota Mataram kembali terjadi bahkan semakin parah. Akibatnya, harga LPG pun melambung. Harga LPG ukuran 3 kg di Mataram saat ini mencapai dua kali lipat dari biasanya, yakni Rp15 ribu menjadi Rp18 ribu hingga Rp20 ribu. Kondisi tersebut semakin parah dengan sudah berjalannya konversi minyak tanah ke gas, sehingga semua orang beralih ke gas. Pada saat yang bersamaan, minyak tanah sulit diperoleh dan harganya pun melambung.

“Kelangkaannya sudah satu minggu ini. Alasanya stock LPG lagi kosong,” kata Maman (30) warga Karang Tapen, Kecamatan Mataram, Kota Mataram, Kamis (2/2/2012). Ia menuturkan, sudah seharian keliling mencari LPG di sejumlah agen LPG yang ada di wilayah Kota Mataram, bahkan rela mencari hingga perbatasan Kota Mataram dan Lombok Barat. Namun, hasilnya tetap nihil. “Ini aja sudah dari pukul 08.00 wita mencarinya tapi tetap tidak ada,” ketusnya.

Ia berharap kondisi itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, pria yang berprofesi sebagai penjual nasi ini sangat tergantung dengan LPG karena cukup hemat. Kalaupun memakai minyak tanah harganya sudah cukup mahal perliternya. “Untuk sementara kita pakai kayu bakar dulu sambil menunggu LPG datang,” paparnya.

Senada dengan, Maman. Leni seorang ibu muda yang tinggal di Kelurahan Kebon Sari, Kecamatan Ampenan, mengaku kesulitan dengan kelangkaan LPG itu, sementara ini untuk masak sehari-hari ia harus kembali menggunakan kompor. “Kalaupun pakai minyak tanah harganya sudah mahal Rp10.000,” terangnya.       

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, H. Wildan saat di konfirmasi terkait kelangkaan LPG yang akhir-akhir ini kembali terjadi di wilayah Kota Mataram, mendesak pihak Pertamina untuk segera mengatasi hal itu karena telah merugikan masyarakat. Seharusnya kalau memang pihak Pertamina belum siap untuk mendukung program konversi minyak tanah ke gas, jangan dipaksakan seperti ini.

“Saat ini pengisian LPG baru bisa dilakukan di satu tempat, yaitu Mataram dan Lobar. Sementara yang memakai LPG sepulau Lombok, padahal kebutuhan masyarakat akan LPG kan sedang tinggi-tingginya,”katanya.

Untuk itu, dirinya meminta kepada Pertamina untuk memberlakukan pengawasan dan fungsi kontrol yang ketat karena diduga bukan hanya berkurangnya pasokan tetapi telah terjadi permainan distribusi LPG. “Meski konversi ini dari sisi ekonomi lebih hemat seharusnya Pertamina juga memikirkan alternatif lain, bila perlu subsidi minyak tanah jangan dulu di kurangi,” tandasnya.

Bagikan :