KLU, MataramNews – Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara memiliki aset wisata yang cukup menarik dan banyak di kunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Sayang, informasi khususnya tentang wisata budaya dinilai masih kurang.

Muliadi seorang guide tamu mancanegara pada MataramNews mengaku banyak tamu yang merasa kecewa karena tidak mendapat informasi yang lengkap tentang obyek wisata budaya yang dikunjunginya.

“Misalnya, ketika mereka berkunjung ke beberapa masjid kuno atau rumah adat di kecamatan Bayan, yang disuguhkan hanya antraksi budaya, tanpa ada informasi yang detail baik tentang sejarah maupun budaya itu sendiri”,katanya.

Seandainya semua tempat wisata budaya, lanjut Muliadi, memiliki papan informasi atau buku sejarah tentang keberadaan tempat, arsitek ataupun hal-hal lainnya yang berkaitan dengan tempat tersebut, tentu para wisatawan akan lebih banyak dan tertarik untuk berkunjung.

Beberapa orang tamu mancanegara, lanjut Muliadi, yang pernah dibawa berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di Kecamatan Bayan, seperti dari USA, Jerman, Perancis mengakui, kalau wisata Lombok sebenarnya lebih menarik dari Bali. “Tapi satu hal yang kurang di Lombok yaitu informasi tentang situs-situs wisata sejarah dan budayanya masih sulit didapatkan”tutur Muliadi menirukan ungkapan turis yang pernah dibawanya.

Bayan memang dikenal memiliki obyek wisata yang cukup menarik baik bagi wisatawan lokal maupun asing. Karena disamping memiliki wisata Danau Segara Anak dan Air Terjun Sendang Gila Senaru, juga memiliki banyak wisata budaya, sperti masjid kuno Bayan Beleq, Masjid kuno Semokan dan masjid kuno Barung Birak serta ditambah dengan beberapa rumah adat di Karang Bajo, Segenter, Loloan dan rumah adat lainnya.

Selain itu obyek wisata yang belum tergarap sampai sekarang ini adalah sumur Majapahit yang terletak di Dusun Batu Santek Desa Sambik Elen. Sumur Majapahit yang memiliki kedalaman sekitar 1 meter ini, juga tidak pernah kering airnya walaupun di musim kemarau. Bahkan sebagian masyarakat sekitar meyakini bahwa airnya bisa dijadikan obat bagi anak-anak yang penyakit demam. “Hanya saja airnya tidak bisa diminum”, ungkap Bambang warga desa Sambik Elen.

Para tamu yang berkunjung bukan saja mereka datang untuk berwisata, tapi juga banyak yang datang untuk melakukan penelitian tempat-tempat bersejarah. “Sayang, kebanyakan para wisatawan ini belum mendapat informasi yang jelas tentang keberadaan situs-situs bersejarah ini”, ujar Asri seorang guru di Desa Sambi Elen.

Karenanya diharapkan kepada pemerintah khususnya yang menangani pariwisata dan budaya, sudah saatnya membuat papan informasi ataupun buku-buku sejarah khususnya tentang budaya wisata yang ada di Kecamatan Bayan.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !