- advertisement -

MataramNews – Seni tradisi wayang kulit khususnya di Pulau Lombok, belakangan ini semakin mengalami kemunduran baik dari sisi dalang maupun kuantitas pementasannya, sehingga ada kehawatiran putusnya usaha transformasi budaya dari generasi masa lalu ke generasi masa depan.

Pada umumnya cerita pewayangan  di Indonesia memiliki kesamaan baik di tinjau dari krakter dari masing – masing tokoh maupun cerita yang dipentaskan, hanya penyebutan/penamaannya saja yang berbeda.

Menurut cerita para ahli pewayangan di Pulau Lombok, wayang kulit merupakan salah satu bentuk kesenian yang dikembangkan oleh para wali (Wali Songo) sebagai media untuk menyampaikan syiar islam. Berawal dari kerajaan islam Demak di Banten. Pada perkembangannya, wayang kulit hanya ditemukan di tiga pulau yakni Pulau Jawa, Pulau Bali dan Pulau Lombok.
Di Pulau Lombok khususnya dalam perkembangan wayang tak hanya digunakan untuk proses Islamisasi, terutama islamisasi wetu telu, tetapi juga sebagai hiburan yang dimainkan pada acara sunatan atau perkawinan.

Ditempat lain, tokoh–tokoh seperti Jayeng Rane, Umar Maya, Maktal, Alam Daur dan lain – lain memiliki nama yang berbeda, namun karakter yang diperankan hampir tidak mengalami perubahan. Jayeng Rane Misalnya adalah tokoh utama yang memerangi kejahatan, Jayeng Rane berarti hati yang bersih, dalam setiap cerita yang dimainkan Jayeng Rane selalu di dampingi oleh Umar Maye tokoh yang berperan untuk memberikan saran/nasehat dalam setiap tindakan yang akan di ambil oleh Jayeng Rane.

Apabila Jayeng Rane selalu memperhatikan nasihat yang disampaikan oleh umar maye maka segala tindakannya akan berujung pada kebaikan, begitu juga sebaliknya. Kedua tokoh tersebut menggambarkan sinergitas antara hati dan pikiran, dimana Umar Maye diartikan sebagai pimpinan yang tersembunyi yakni akal/pikiran positif keduanya harus sejalan satu sama lain untuk mendapatkan keselamatan.

Selain kedua tokoh tersebut dikenal juga yang namanya Baktak, yakni seorang patih yang terkenal licik, Patih baktak menggambarkan pikiran yang negatif, pikiran Positif maupun negatip hampir tidak memiliki batas, demikian juga dalam penggambarannya, Patih Baktak adalah mertua dari Umar Maye. Jika diperhatikan, beberapa cerita yang dimainkan dalam pewayangan, sangat erat kaitannya dengan agama, dimana berisi petunjuk, pesan–pesan moral yang dapat dijadikan tuntunan hidup, yang sangat wajar untuk syi’ar Islam.

Dalam perkembangannya saat ini, wayang kulit tidak hanya digunakan untuk kegiatan syiar islam, tetapi  sering juga di kaitkan dengan kegiatan politik pada setiap pemilihan berlangsung, misalnya pemilihan Bupati bahkan juga pada pemilihan kepala desa yang dilakukan oleh calon tertentu untuk memenangkan pemilihan. Pesan–pesan yang disampaikan syarat dengan muatan politik untuk memenangkan calon tertentu melalui tokoh kocaknya yakni Amaq Baok, Amaq Kesek dan lain–lain.

Menurut Mastur Ismail, salah satu dalang dari Langendriya Group, pada pewayangan lama belum ada tokoh kocak yang bernama Amaq Baok dan lain–lain, yang lebih populer adalah Egon dan lain–lain.

Baru pada era 70-an mengalami perubahan setelah munculnya Wayang Gerung, tokoh – tokoh tersebut kemudian diperkenalkan oleh ki dalang H. Lalu Nasip AR, Perombakan itu tidak hanya dilakukan pada tokoh tadi, namun juga pada metode-metode penyampain pesan–pesan sosial, agama, bahkan pada alur cerita tanpa menghilangkan inti cerita.

Karena pada pewayangan lama tekhnik penyampaian terkesan monoton sehingga cenderung lebih cepat menimbulkan kejenuhan terhadap penonton. Akhir–akhir ini kesenian wayang kulit sudah mulai terlupakan, dimana sudah semakin jarang ditemukan pentas wayang kulit, sehingga menimbulkan keresahan baik bagi pelaku sendiri maupun kalangan pemerhati budaya.

Ditambahkan pula oleh Mastur Ismail “saat ini memang sudah terjadi pergeseran kultur, dimana masyarakat sekarang merupakan masyarakat modern yang cenderung lebih menyukai seni kontemporer dan menganggap seni wayang kulit adalah kesenian kuno yang layak dikonsumsi oleh para orang tua.”

Disamping itu pula wayang kulit dipengaruhi oleh 4 faktor yakni, bakat skill, wawasan dan hobi. Saat ini yang banyak dikeluhkan oleh pelaku kesenian wayang kulit adalah sulitnya mendapatkan orang yang bias memainkan wayang (Dalang) seorang dalang harus berperan multyi karakter, baik oleh penjiwaanya maupun terhadap cara memainkan wayang itu sendiri.

Selain itu ki dalang harus memiliki kemampuan dalam berbahasa jawa kuno (Sansakerta) sebagai bahasa standar yang digunakan, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk bisa berbahasa daerah lainnya atau bahasa asing sehingga akan semakin memperkaya ide dan menjadi daya tarik tersendiri.

Seorang dalang juga harus memiliki wawasan yang luas, peka terhadap perkembangan situasi wilayah baik yang sifatnya regional maupun nasional sehingga seni pewayangan tidak terkesan monoton.

Ketiga hal di atas tentu tidak akan lebih baik apabila tidak dibarengi dengan hobi, faktor inilah yang akan mendukung terbentuknya kreatifitas dan pengayaan ide. Seorang dalang yang baik, tentu sehari-harinya memiliki aktifitas yang tinggi dalam seni pewayangan, sehingga eksistensinya mendapat pengakuan penuh dari masyarakat.

Pendapat lain datangnya dari H. Lalu Nasip AR tentang perlunya pembinaan yang dilakukan sejak dini melalui wadah khusus, sehingga dapat melahirkan generasi baru seni pewayangan, di Pulau Lombok hal ini sudah sering disampaikan kepada Pemerintah maupun pihak–pihak terkait, bahkan beliau berharap hal tersebut dapat dinasukkan kedalam mata pelajaran Muatan Lokal namun sampai saat ini belum ada respon dargi pihak–pihak tersebut.