- advertisement -

LOTIM, MataramNews – Sosok ibu Saupiati, seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini  (PAUD) TK Bangun Mandiri yang terletak di Dusun Otak Desa, desa Ketangga Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur, patut ditiru oleh generasi bangsa ini. kendati gagal memperoleh dana insentiv, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk mengajar.
Soupiati, sosok guru yang sabar. Buktinya sudah 11 tahun mengabdi sebagai guru, mengajar anak-anak mungil dengan honor Rp. 300 ribu per-tahun, dirinya tetap menjalankan tugas dengan baik.
Di TK Bangun Mandiri, Soupati tidak sendiri. Beliau ditemani tiga rekannya mengalami nasib yang sama. Mereka mengenyampingkan persoalan honor, yang hanya diambil dari bayar SPP dari 50 siswanya. Yang penting bagaimana mereka mendidik bocah-bocah kecil ini menjadi anak yang cerdas.
“Guru banyak yang enggan mengajar, karena tidak ada honornya. Dan pada tahun 2009 lalu, saya bersama yang lainnya pernah mengusulkan insentif yang diprogramkan Dinas Pendidikan, namun sampai awal tahun 2012 tak pernah ada realisasinya”, katanya.
Menurutnya, usulan ini pernah diumumkan oleh pemerintah, kalau dua orang guru dari TK Bangun Mandiri akan mendapatkan bantuan insentiv pada tahun 2010 lalu. “Keberadaan insentif itu sendiri kami tidak tahu, apakah sudah hangus atau ada orang lain mengambil hak kami”, ungkapnya.
Guru juga manusia, dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Jangan hanya tenaganya dimamfaatkan, namun dari sisi finansial tidak pernah diperhatikan.