Gapoktan Pada Angen Panen Raya Buah Semangka

Panen Semangka

(KLU), MATARAMNews – Gabungan Kelompok Tani Pada Angen Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara (KLU), 15 Februari 2012 menggelar panen raya buah semangka. Panen raya ini selain dihadiri Kepala Seksi Budidaya Tanaman Holtikultura Provoinsi Nusa Tenggara Barat, juga hadir  Plt. Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan Kelautan dan Perikanan, (PKKP) KLU serta kepala seksi pertanian dan rombongan lainnya.

Kasi  Budidaya tanaman holtikultura provinsi NTB, Ir. Abdurrahim dalam kesempatan tersebut mengaku, panen raya buah semangka di Kecamatan Bayan merupakan panen perdana. “Pemerintah hanya mengetahui kalau pengembangan tanaman buah semangka dan melon hanya berada di Kabupaten Lombok Tengah, namun ternyata sekarang ini sudah bisa dikembangkan di kecamatan Bayan”, katanya.

Abdurrahim juga menegaskan,  kalau selama ini  pertanian KLU masih masuk ke data pertanian Kabupaten Lombok Barat, sehingga setiap ada bantuan seperti penanaman mangga beberapa waktu lalu, dialihkan ke kecamatan Sekotong.

“Data pertanian KLU, masih bergabung dengan data di Kabupaten Lombok Barat, sehingga setiap ada dana usulan dari KLU dilimpahkan penyalurannya ke Lombok Barat”, katanya. Dikatakan, dirinya tidak menyangka kalau buah semangka ini bias dikembangkan dilahan tadah hujan di Kecamatan Bayan.

Karenanya apa yang menjadi kebutuhan para kelompok diminta agar diusulkan melalui dinas terkait baik ditingkat kabupaten maupun provinsi. Sementara Plt. Kepala Dinas PKKP KLU, Ir. Nanang Matalata, mengaku cukup terkesan atas panen raya yang dilakukan Gapoktan Pada Angen, dan panen seperti ini perlu terus dilanjutkan.

“Saya cukup terkesan atas panen raya buah semangka ini,  ternyata para kelompok tani cukup giat mengolah lahannya, dan ini patut kita dukung”, katanya. Tekait adanya usulan dari kelompok tani Pada Angen, khususnya pembangunan jalan dan sumur bor menuju lokasi pertanian, Nanang berjanji akan mengusahakannya.  “Untuk pembangunan jalan dan sumur bor kita akan usahakan”, katanya.

Disisi lain, Nanang Matalata yang juga Kepala Bapeda KLU ini mengaku, kalau KLU yang baru mekar 3,2 tahun ini  dilihat dari semua sisi seperti angka kemiskinan, sumber daya manusia dan lainnya masuk katagori paling rendah. Dan pada tahun ke tiga ini, KLU memasuki masa pencepatan pembangunan di segala bidang.

Angka kemiskinan hingga saat ini masih bertengger diurutan pertama dari semua kabupaten yang ada di NTB, yaitu 43, 14 persen. Demikian juga dengan konsisi pembangunan infrastruktur jalan. “Ketika kita masih gabung dengan Kabupaten Lombok Barat, infastruktur jalan yang baik hanya tidak lebih 20 persen. Namun setelah kita mekar sekarang ini,  pembangunan infastruktur  jalan naik hingga mencapai angka 40 persen lebih”, katanya.

Dibidang pertanian, KLU dikenal sebagai penghasil mangga. Namun sangat disayangkan mangga yang dihasilkan dibeli oleh orang luar dan diolah serta diberikan merek dengan mangga Probolinggo. “Jadi sebaiknya apa yang dihasilkan dan diaolah oleh petani kita, seperti kerepek ubi, pisang, kacang mente dijadikan sebagai snack pada setiap pertemuan di KLU, dan bila perlu di SK-kan bupati”, katanya.

Selama ini, lanjut Nanang, pada setiap kali pertemuan, snack yang dihidangkan selalu makanan olahan dan kadang-kadang dibeli di toko. Padahal jika kita ingin memberdayakan petani, apa yang sudah dihasilkan itu perlu ditampilkan.

Sementara Kepala Desa Sambik Elen, Muhammad Katur, ketika ditemui seusai panen raya  mengatakan, bahwa kelompok tani Pada Angen telah berhasil mengembangkan tanaman semangka di lahan tadah hujan, yang hasilnya dapat menunjang perekonomian para petani. Selain kelompok tani, Desa Sambik Elen juga memiliki kelompok nelayan yang berada di Lendang Danger, yang tidak pernah tersentuh sedikitpun oleh pemerintah daerah. “Kelompok nelayan ini, hidupnya benar-benar cukup memprihatian, karena sejak masih begabung dengan Kabupaten Lombok Barat hingga KLU dimekarkan, belum pernah tersentuh bantuan sedikitpun”, katanya.

Kondisi ini diperparah lagi dengan rumah yang ditempati termasuk rumah tak layak huni, sehingga perlu mendapat perhatian dari pemerintah.

Bagikan :