KPID NTB Cekal 10 Lagu Dangdut Berlirik Seronok

Sukri Aruman, Wakil Ketua KPID NTB

Mataram, MATARAMnews – Sepuluh judul lagu dangdut yang didendangkan penyanyi ibukota dilarang beredar di NTB, pasalnya dianggap liriknya mengandung kata-kata seronok. “Ada sepuluh lagu yang telah kami cekal, “kata Wakil KPID NTB Sukri Aruman, ditemui  Jumat (17/2/2012) sore. Lagu-lagu yang dicekal tergolong meresahkan masyarakat karena diperdengarkan secara bebas melalui siaran radio ataupun televisi lokal dan nasional.

Menurut Sukri, pencekalan tersebut telah resmi dikeluarkan dan telah diedarkan sejak Kamis (16/2/2012) kemarin. Adapun lagu-lagu yang dicekal antara lain:
1. Jupe Paling Suka 69, Julia Perez, house dangdut.
2. Mobil Bergoyang, Lia MJ & Asep Rumpi, house dangdut.
3. Apa Aja Boleh, Della Puspita, house dangdut.
4. Hamil Duluan, Tuty Wibowo, pop dangdut.
5. Maaf, Kamu Hamil Duluan, Ageng Kiwi, pop dangdut.
6. Satu Jam Saja, Saskia, pop dangdut.
7. Mucikari Cinta Rimba, Mustika, pop dangdut.
8. Melanggar Hukum, Mozza Kirana, house dangdut.
9. Wanita Lubang Buaya, Minawati Dewi, pop dangdut.
10. Ada yang Panjang, Rya Sakila, house dangdut.

Seluruh lagu yang dicekal dinilai bertentangan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, terutama Pasal 36 ayat 5 dan ayat 6 yang, antara lain, menegaskan bahwa isi siaran dilarang menonjolkan hal-hal yang bermuatan cabul dan mengabaikan nilai-nilai agama dan martabat manusia Indonesia.

Materi lagu-lagu tersebut juga bertentangan dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran tahun 2009, yakni Pasal 9 (penghormatan terhadap norma kesopanan dan kesusilaan), Pasal 17 (pelarangan adegan seksual), Pasal 18 (seks di luar nikah), dan Pasal 19 (muatan seks dalam lagu dan klip video).

Sukri juga menjelaskan, 10 lagu yang dicekal sebagian besar menggambarkan adegan hubungan intim (seks) secara vulgar, pembenaran terhadap perilaku seks di luar nikah, dan prahara rumah tangga yang berpotensi ditiru oleh orang lain, terutama anak-anak dan remaja.

Sementara dalam melakukan kajian tim KPID meminta masukan dari beberapa tokoh. Di antaranya Musbiawan (budayawan), Bochri Rohman (praktisi media), Dr. Kadri (akademisi), Adhar Hakim (praktisi media), dan Edi Karna Sinoel (jurnalis senior).

Bagikan :