Warga kembali lakukan aksi dengan setengah telanjang

(KLU), MATARAMnews – Dua warga Trawangan yang diduga actor dibalik sejumlah pengerusakan dan penggeregahan pagar beton yang dibangun oleh PT.Wah dilahan sengketa Gili Trawangan, kamis (23/2) kemarin dijemput paksa pihak kepolisian polda NTB.

Penangkapan yang dilakukan pihak Kepolisian Polda NTB tersebut dilakukan persis setelah terbentuknya kesepakatan antara pihak Pemkab KLU dengan Warga Gili Trawangan yang tergabung dalam aksi unjukrasa tuntut pencabutan HGB dan HGU yang dipegang oleh PT Wah, dinilai masyarakat Gili Trawangan cacat hukum.

Tertangkapnya Lambing (50) tahun dirumahnya kemudian disusul oleh penjemputan paksa terhadap Mulyadi (37) pada saat usainya mediasi antara Pemkab KLU dengan Warga.

Tampak sekitar 5 orang Polisi berpakaian preman sedang menunggu Mulyadi keluar dari halaman Kantor Bupati, sontak Polisi yang berpakaian preman tersebut langsung menangkap Mulyadi dengan memperlihatkan surat perintah penangkapan, “kami membawa surat perintah penangkapan anda,” kata salah seorang Polisi tersebut.

Saat itu juga Mulyadi yang berusaha berontak dan alhasil tidak bisa berbuat banyak atau melakukan perlawanan, dalam keadaan kedua tangan di pegang oleh dua orang polisi tersebut langsung menyeret dan menjebloskan Mulyadi ke dalam Mobil Avanza yang sudah disiapkan. “apa salah saya,” teriak Mulyadi keras.

Masa yang bergerumun tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dijaga ketat oleh polisi yang melakukan pengamanan pada aksi warga. Bahkan ketika seorang warga yang berusaha menolong, diancam akan ditembak oleh aparat yang melakukan penangkapan.

Tidak terima dengan sikap dan perlakuan aparat yang dinilai telah melanggar kesepakatan tersebut, Masa aksipun langsung menghadap kembali ke Wakil Bupati KLU untuk meminta penangguhan penahanan kedua orang yang diduga actor pada sejumlah pengerusakan dilahan sengketa Gili Trawangan.

Salah seorang warga Trawangan, Bimbo, yang masuk keruang pertemuan mengancam akan keluar dalam keadaan telanjang dari kantor Bupati jika rekan mereka tidak dibebaskan oleh aparat.

Selain itu masa aksi juga menuntut penangguhan penahanan 3 orang warga Trawangan yang ditangkap kamarin, “kami minta penagguhan penahanan karena prosedur penangkapan yang dilakukan aparat dinilai  menyalahi aturan dan sewenang-wenang dengan menyeret dan melempar rekan mereka seperti binatang, kami menggelar aksi ini karena kami sudah bersurat ke Polres Lobar, kenapa salah seorang dari kami ditangkap padahal kami tidak melakukan anarkis,” teriaknya.

Wakil Bupati bersama Wakil Ketua DPRD KLU yang melihat aksi warga yang ingin menelanjangi diri didepannya langsung memerintahkan ajudannya untuk membuatkan surat yang isinya meminta Kapolda untuk menangguhkan penahanan 3 orang warga Gii Trawangan tersebut, “kami akan segera membicarakan hal ini dengan pihak Kapolda dan akan mengirimkan surat penanguhan penahanan 3 warga tersbebut,” tungkas H. Najmul Akhyar.

Setelah isi surat itu dibacakannya, Wakil Bupati KLU yang sedikit kesal dengan penangkapan paksa 2 orang warga Terawangan tersebut langsung berangkat ke Polda NTB untuk meminta penangguhan penahanannya 2 orang warga Trawangan tersebut.

Sementara Kabag Ops Polres Lombok Barat ketika dimintai keterangan sejumlah wartawan mengatakan, Terkait penangkapan kedua orang tersebut memang sudah menjadi target operasi yang sudah ingkrah menjadi tersangka pada tahun 2010 lalu.     





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !