Bangun Toleransi, Mahasiswa “Youth Camp Lombok” Kunjungi Sejumlah Rumah Ibadah

MATARAM – Sebanyak 200 mahasiswa berasal dari 78 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia yang menjadi peserta “Lombok Youth Camp Peace Leaders” mengikuti kegiatan “site visit” ke sejumlah rumah ibadah dan tempat-tempat bersejarah di Pulau Lombok.

Dimana peserta yang dibagi kedalam beberapa kelompok, kelompok pertama, peserta berkunjung ke Kemaliq, Pura Lingsar dan Makam loang baloq. Kelompok kedua berkunjung ke Vihara Bentek dan Masyarakat Lenek KLU.

Sementara peserta kelompok ketiga berkunjung ke Musium NTB dan GPIB (Gereja Immanuel). Kelompok empat berkunjung ke Taman Mayure dan Klenteng Ampenan. Sedang peserta kelompok kelima berkunjung ke Taman Narmada dan Ponpes Nurul Haramain Lombok Barat.

Direktur Nusa Tenggara Center Prof. Suprapto mengatakan bahwa kegiatan site visit yang merupakan rangkaian agenda dari Lombok Youth Camp yang berlangsung berkat kerjasama PPIM UIN Jakarta dengan Nusa Tenggara Centre NTB.

Menurutnya bahwa kegiatan tersebut bertujuan memupuk silaturahim dengan penganut agama lainnya. Disamping itu juga memperkenalkan ke para peserta keberagaman dan nilai-nilai toleransi, hal demikian sebagai wujud praktik atas nilai-nilai universalitas yang dimiliki agama Islam.

Sementara itu kedatangan sebanyak 40 orang peserta ketika berkunjung ke Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Mataram disambut oleh pihak pengurus gereja.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua II Bidang Gereja Masyarakat dan Agama GPIB Immanuel Mataram Daniel Rosang, menyambut baik dan mengapresiasi kedatangan para mahasiswa peserta “youth camp” dan berharap agar keberagaman antar pemeluk agama bisa tetap terjaga.

Sementara Komisi Germasa GPIB, Frederick S. Saboe mengemukakan dalam kekristenan pun diajarkan untuk membawa kedamaian untuk alam semesta. Selain itu, antara Islam dan Kristen mempunyai satu visi yang sama terkait dengan misi cinta kasih dan kedamaian itu tidak dibeda-bedakan

“Tetapi cinta kasih itu diperuntukkan untuk umat manusia. Perdamaian harus jadi kebutuhan”, terangnya.

Dia pun meminta agar mahasiswa sebagai agen penggerak perubahan dan perdamaian di tengah masyarakat.

“Jadilah tenaga penggerak perdamaian. Meski banyak masalah dan tantangan,” ujarnya.

Lebih jauh disebutkan, didalam ajaran umat Kristen sama sekali tidak mengajarkan kekerasan, melainkan justeru mengajarkan kedamaian antar setiap orang dan pemeluk agama lain.

“Mari senantiasa membangun komunikasi dengan orang lain. Komunikasi itu lahir ketika ada perjumpaan. Bangunlah perjumpaan seperti ini. Saling menerima, saling menghormati,” ujarnya.

Selama ini, umat Kristen di NTB senantiasa duduk bersama dengan umat agama yang lain. Bersama sama dengan tokoh agama, pemuda, Toma, hadir dalam bentuk interaksi dan dialog dengan baik serta membangun NTB dengan bersama-sama.

“Biarlah kita jadi orang berarti dan bermakna bagi siapa saja,” pesannya.

(mn-07/r3)

Bagikan :