Nelayan Kecil di Lotim Dapat Jatah Terbesar Paket Konverter Kit dari ESDM

LOTIM – Kementerian ESDM membagikan 471 paket perdana konverter kit bahan bakar elpiji tabung tiga kilogram untuk nelayan kecil di Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial dalam siaran pers di Jakarta, Senin mengatakan pembagian tersebut merupakan bagian dari 2.000 unit paket perdana konverter kit untuk Kabupaten Lombok Timur.

“Salah satu tugas pemerintah adalah mengurus infrastruktur seperti jaringan gas rumah tangga, pembagian pipa transmisi, konversi minyak tanah ke elpiji, serta hari ini adalah paket perdana konverter kit BBM ke elpiji untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil,” katanya yang mewakili Menteri ESDM Ignasius Jonan membagikan paket perdana konverter kit tersebut di Pelabuhan Labuhan Haji, Lombok Timur, NTB, Senin (6/11/17) kemaren.

Ego mengatakan selain program BBM Satu Harga, konversi BBM ke elpiji bagi nelayan merupakan tindakan nyata dari program Nawacita yang manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat.

Program Nawacita yang paling nyata selain BBM Satu Harga, yang langsung mengena ke masyarakat, tanpa embel-embel, tanpa pencitraan. Langsung ke masyarakat. Ini untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.

Pada 2016, pemerintah mendistribusikan 5.473 unit paket perdana konverter kit di 10 kota/kabupaten di lima provinsi.

Sedang, pada 2017, akan dibagikan 17.081 unit paket perdana konverter kit di 28 kabupaten/kota, termasuk 2.000 paket di Lombok Timur.

“Lombok Timur mendapatkan jatah terbesar dari seluruh kabupaten di Indonesia,” kata Ego.

Berdasarkan data, setelah menggunakan elpiji, nelayan bisa menghemat biaya bahan bakar cukup signifikan dibandingkan sebelumnya saat memakai BBM.

“Kalau memancing 10 jam, rata-rata nelayan perlu tujuh liter BBM. Dengan harga BBM Rp6.450 per liter, maka biayanya Rp45.150. Jika dengan elpiji, maka cukup satu tabung seharga Rp17.000-Rp18.000, sehingga bisa berhemat Rp27.500 per hari. Kalau sebulan melaut 25 hari, maka bisa berhemat Rp700.000. Bisa hemat lebih dari 50 persen,” katanya.

Ego menambahkan salah satu upaya pemerintah mewujudkan ketahanan energi adalah diversifikasi berupa penyediaan alternatifnya yakni energi bersih.

Program konversi BBM ke gas adalah salah satu program yang mendukung diversifikasi energi tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi VII DPR RI Dr H Kurtubi menjelaskan program konversi memiliki tujuan menyejahterakan nelayan, sehingga pihaknya mendukung penuh program yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat tersebut.

“Pertama, program ini mendorong diversifikasi energi. Kedua, menuju penggunaan energi yang lebih bersih. Ketiga, membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan mesin yang menggunakan elpiji dibanding BBM, sudah terbukti di berbagai daerah yang sudah dikonversi, biayanya menjadi lebih murah cukup signifikan dengan jumlah jam yang sama di tengah laut,” katanya.

Hal itu jelas meningkatkan kesejahteraan nelayan. Karena biaya lebih murah, selain juga dengan adanya dua tabung (elpiji tiga kg), sehingga melaut bisa lebih jauh dan diharapkan hasil tangkapan meningkat, ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur Khairul Warisin mengungkapkan wilayahnya adalah salah satu kabupaten berpenduduk terbesar di NTB dengan mayoritas petani serta nelayan, sehingga nelayan perlu dibantu.

Program konversi BBM ke elpiji bagi nelayan itu telah diajukan Pemkab Lombok Timur sejak 2016.

“Awal 2016, kami membuat surat ke Kementerian Kelautan dan Perikanan supaya nelayan-nelayan di Lombok Timur yang jumlahnya banyak ini dapat diberikan bantuan mesin. Mesin yang kami harapkan dulu adalah mesin ketinting dan tempel. Tetapi, baru awal tahun ini terjawab bahwa yang dulu minta 2.300 mesin, Alhamdulillah dapat 2.000 mesin. Mesin elpiji ini lebih bagus dari yang kami minta,” ujarnya.

Khairul juga mengungkapkan pada 2017, pihaknya mengusulkan tambahan 1.600 paket konverter kit. “Insya Allah tahun depan akan kami terima,” lanjutnya.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menambahkan pembagian paket perdana konverter bagi nelayan kecil di Lombok Timur telah dilakukan sejak 4 Oktober 2017.

Hingga 4 November 2017, sudah dibagikan 1.438 paket di lima kecamatan di antaranya Pringgabaya (228 paket), Sambelia (244), Jerowaru (160), dan Kecamatan Keruak (realisasi 806 dari 897 paket).

Ditargetkan pada 18 November 2017, sebanyak 2.000 paket konversi terdistribusi seluruhnya.

Paket perdana konverter kit tersebut terdiri dari mesin kapal, konverter kit serta pemasangannya dan tabung elpiji beserta isinya.

(mn-07/r3)