SMPN 2 Jadi Sasaran Program Penguatan Pendidikan Karakter

LOBAR – Tim Pusdiklat Kemendikbud dan UPI mengunjunggi SMPN 2 Kuripan dalam rangka implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Sekolah ini menjadi salah satu sasaran program Penguatan Pendidikan Karakter.

Salah satu tim Pusdiklat Kemendikbud Tejawati mengatakan pendidikan karakter sangat penting di implemnteasi di semua lini ,pendidikan karakter tidak saja di implementasikan di sekolah, tetapi pendidikan karakter dimulai dari rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat. Kepala sekolah harus proaktif dalam menerapkan gerakan Pendidikan Penguatan Karakter (PPK), tanpa sikap proaktif, keberhasilan PPK tidak akan maksimal karena minimnya peran masyarakat dan orang tua.

”Pendidikan karakter modal utama pembentuk karakter anak, saya bangga dengan aplikasi program PPK sekolah ini, harus ada pembiasan ke sekolah lain. Displin merupakan cerminan PPK,” kata Tejawati, saat mengunjunggi SMPN 2 Kuripan, Lobar, Sabtu (16/11/2017).

Tejawati menerangkan PPK adalah suatu gerakan menyeluruh di lingkungan sekolah, yang didasarkan nilai-nilai praksis kurikulum pendidikan. Misalnya, anak diberi pengetahuan dan dibiasakan untuk tidak buang sampah sembarangan, berbudaya antri, dan hemat kertas. Perilaku ini merupakan nilai-nilai praksis kurikulum yang sangat mendasar.

Tejawati mengungkapkan, tujuan pembelajaran sebenarnya untuk memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. Tidak semata-mata pengetahuan secara murni, tapi bagaimana pengetahuan itu harus menjadi pembiasaan. Hanya saja, hal ini seringkali belum dipahami oleh pihak sekolah. Banyak kepala sekolah dan guru belum paham tataran praksis kurikulum di sekolah. Ini menjadi tantangan bagi Gerakan PPK.

“Pembiasaan itu harus dikondisikan oleh sekolah, melalui berbagai kegiatan yang terprogram, pembiasaan yang terus-menerus,” ujar dia.

Tejawati menegaskan, komitmen sekolah sangat diperlukan dalam menerapkan PPK. Kepala sekolah harus menguasai kompetensi manajerial, akademik, dan kewirausahaan. Dalam menerapkan PPK ini, sekolah dituntut berkolaborasi orang tua, komite sekolah, masyarakat, kepolisian, puskesmas, pemerintah daerah, bahkan dunia industri.

kepala sekolah dituntut proaktif menjalin jaringan. Karena, keterlibatan masyarakat sangat ditentukan pada kemampuan kepala sekolah dalam melakukan komunikasi. Lebih lanjut, Tejiwati melihat perlunya pendampingan kepada sekolah dalam penerapan PPK dengan memanfaatkan learning community.

Kepala SMPN 2 Kuripan Darsiah mengaku mendapatkan pemahaman baru dalam penerapan PPK. Ia dapat berbagi pengalaman dan belajar dari sekolah-sekolah unggulan. Meski sudah menerapkan PPK, Darsiah melihat program-program yang ada di sekolahnya belum terarah.Kami akan buatkan program selanjutnya agar lebih terarah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penerapan PPK di SMPN 2 Kuripan sudah dilakukan lewat beberapa pembiasaan. Seperti, dia mencontohkan, berjabat tangan dan memberi salam, piket sekolah, serta membersihkan lingkungan, berdoa bersama, harga-menghargai antar sesama agama, dan upacara bendara.

(mn-09/r3)

Bagikan :