RS Sanglah Sukses Transplantasi Ginjal, Biaya Ditanggung BPJS Kesehatan

DENPASAR – RS Sanglah, Denpasar berhasil melakukan transpalantasi (cangkok) ginjal keempat kalinya. Terbaru, rumah sakit rujukan terbesar Bali-Nusa Tenggara (Nusra) ini melakukan cangkok ginjal pada 10 Juli 2017 lalu. Transplantasi ginjal ini ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Keberhasilan ini mendorong keinginan menjadikan cangkok ginjal sebagai layanan unggulan untuk wilayah Indonesia Timur.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah, Dr dr I Ketut Sudartana SpB-KBD, mengatakan, pihak rumah sakit saat ini sedang melakukan persiapan transplantasi ginjal untuk yang kelima kalinya, Agustus 2017 mendatang. Namun, untuk cangkok kelima nanti tidak lagi mendatangkan tim dari RSCM, melainkan tim dari RSUP Sanglah yang berdasarkan evaluasi sudah siap melakukan tindakan tersebut.

Dia menambahkan, pihaknya tidak saja telah menyiapkan sarana prasarana serta SDM atau tim medis namun juga tim advokasi. Tugas tim advokasi adalah memastikan bahwa pendonor tersebut tidak ada paksaan untuk menyumbangkan ginjalnya, sehingga di kemudian hari tidak terjadi masalah. “Tim advokasi ini terdiri dari ahli hukum, psikolog dan pskiater yang bertugas untuk menganalisis semua persiapan dan kesiapannya pendonor maupun pasien,” ungkapnya, Selasa 11 Juli 2017.

Dikatakan, transplantasi ginjal sebagai pengganti hemodialisa (cuci darah). Transplantasi ginjal dinilai menjadi salah satu pilihan yang lebih murah dibandingkan dengan cuci darah. Berdasarkan data selama tahun 2016, Instalasi Pelayanan Dialisasi RSUP Sanglah rata-rata melayani tindakan hemodialisis sebanyak 2.587 orang. Sedangkan untuk data per Juni 2017, tindakan hemodialisis yang dilakukan hanya 69 orang. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan posisi Mei 2017 yang mencapai 91 tindakan.

Terkiat biaya, transplantasi ginjal ditanggung oleh BPJS Kesehatan, baik bagi pasien maupun pendonor. “Ini semua ditanggung BPJS jadi meskipun kelas tiga tetap kami berikan ruang VIP karena perlu monitoring khusus. Kalau tidak salah untuk pendonor biaya yang dicover BPJS itu sekitar Rp 250 juta sedangkan pasien sekitar Rp 425 juta. Sedangkan proses penyembuhan berkisar satu minggu,” jelasnya.

Dr Sudartana menambahkan, selama ini pendonor ginjal dengan pasien masih ada hubungan keluarga. Karena sejauh ini pihaknya belum berani langsung mencarikan pendonor dari luar. “Sejauh ini kami memang belum ada mencarikan pendonor untuk operasi cangkok ginjal ini. Biasanya, pasien datang satu paket dengan pendonor untuk melakukan operasi tersebut,” ungkapnya.

Meskipun demikian, pihaknya tidak serta merta langsung melakukan tindakan operasi. Perlu melakukan pemeriksaan kesehatan bagi pendonor dan kondisi pasien. Karena untuk melakukan cangkok ginjal ini harus ada kecocokan antara ginjal yang akan diterima dengan pasien. “Pendonor ini harus benar-benar sehat dan ginjal yang akan diberikan kepada pasien cocok setalah dilakukan analisis sebelumnya,” katanya.

“Tindakan medis apapun itu pasti ada reskionya. Karena itu harus dilakukan pemeriksaan secara detail sebelum melakukan tindakan. Sementara hingga saat ini pasien dan pendonor transplantasi ginjal yang telah ditangani tidak ada mengeluh terkait kesehatannya,” imbuhnya.

Disebutkan, pasien yang menjalani operasi gagal ginjal selama tahun 2016 lalu hingga saat ini dalam kondisi masih tetap sehat. Hanya saja perlu melakukan kontrol, namun tidak perlu melakukan hemodialisis (cuci darah). Bagi pendonor, kata dia, juga tidak ada batasan aktivitas yang dilakukan. “Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah pola hidup sehat dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, soda dan lainnya,” pungkasnya.

(r3/nusabali/bpjs-kesehatan)

Bagikan :