Gerbang Tani NTB Libatkan Peneliti IPB

MATARAM – Menyambut hari lahirnya Gerbang Tani kedua, yang diperingati tepat pada 24 September 2017, Gerbang Tani NTB gelar sejumlah kegiatan. Salah satunya dialog dengan mengangkat isu nasib para petani dan nelayan di era pemerintahan Jokowi-JK.

Tidak tanggung-tanggung dalam dialog yang bertemakan “Memotret Keberpihakan Kebijakan Pemerintah di Sektor Pertanian dan Perikanan” itu, Gerbang Tani NTB menghadirkan pembicara peneliti dari IPB Pramiga Aditya SE MSi.

Ketua Gerbang Tani NTB, Muhammad Akbar Jadi, mengatakan bahwa diskusi atau dialog yang digelar saat ini dalan rangka menyambut Harlah Gerbang Tani kedua.

“Dialog ini dalam ramgka Harlah Gerbang Tani yang lahir pada 24 September, dan besok dua tahun”, ucap pria yang akrab disapa Viken Madrid itu.

Karena itu, ungkap Viken, diusia kedua Gerbang Tani NTB khususnya saat ini, sedang fokus dalam melakukan pendampingan terhadap nelayan Lobster Lombok yang terkena dampak dari kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

“Di usia kedua ini, Gerbang Tani NTB sedang dampimgi nelayan Lobster dan harapan para nelayan agar kebijakan Menteri Susi dicabut”, ujar Viken dalam dialog yang digelar di Mataram, Sabtu 23 September 2017.

Namun lanjut dia, perlu diketahui bahwa Gerbang Tani dalam mendampingi masyarakat tidak hanya melakukan kritik pada pemerintah, tetapi juga memberikan solusi.

Viken berharap lewat kerjasama peneliti dan kajian bersama dengan Pramiga Aditya, nantinya bisa menghasilkan data-data yang valid, dengan itu bisa menambah daya juang dalam membela nelayan lobster khususmya.

Pramiga Aditya mengatakan bahwa pihaknya bersama dengan Gerbang Tani NTB akan membantu untuk melakukan penelitian mendapatkan hasil kajian akademis terhadap nelayan.

“Kajian ini untuk bahan advokasi. Kita gak mau kritik pemerintah, tapi gak ada dasar. Harapan hasil kajian ada potensi dan handycapnya. Karena itu, harus punya data base ada kemampuan bicara berdasarkan data, kalau tak ada data maka akan subjektif”, tegas peneliti ITB itu.

Dilanjutkannya bahwa penelitian atau kajian yang akan dilakukan terhadap nelayan lobster tersebut akan memakan waktu paling cepat selama enam bulan.

Sementara itu diskusi yang digelar di salah satu wahana hiburan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen organisasi pemuda dan mahasiswa serta kemasyarakatan.

(mn-07/r3)

Bagikan :