Mataram, MATARAMnews – Seorang oknum Polisi Hutan (Polhut) dari Dinas Kehutanan NTB, Petrus Misa dimeja hijaukan karena diduga terlibat dalam kasus illegal logging. Pada persidangan lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, dengan agenda konfrontir terdakwa dengan keterangan saksi – saksi yang melihat perbuatannya.
 
Pada persidangan yang dipimpin oleh Mion Ginting, SH tersebut ada empat saksi yang dihadirkan dalam persidangan, dimana dua diantaranya Ketua Awig – Awig (aturan adat), Darwita dan ketua kelompok perlindungan hutan sesaot, Ahmad Muliadi.

Dalam keterangannya, Darwita menyebut, “pada Bulan April 2011 lalu mengaku melihat sebuah mobil patroli Polhut NTB melintas di depan kediamannya, di Desa Sesaot”.
Sesaat kemudian, dia melihat satu unit truk mengangkut kayu berbagai jenis. Darwita kemudian mengecek arah dua kendaraan tersebut, ternyata tidak diangkut keluar dari kawasan Sesaot, melainkan disimpan di kediaman H. Sudir.  “Saya kemudian melapor apa yang saya lihat itu ke ketua forum (forum peduli hutan sesaot,),” kata Darwita.  
 
Setelah melapor, dia kemudian bersama ketua forum, Ahmad Muliadi ke lokasi hutan lindung beberapa kilometer dari kampungnya. “Disana saya melihat ada beberapa pohon kayu yang sudah dipotong Chain Saw (gergaji mesin),”  kata Darwita. Jenis pohon yang terpotong seperti kayu Dadap, kemiri, nangka dan kepundung.
Karena merasa bertanggungjawab atas kelestarian hutan, Darwita dan Ahmad Muliadi kemudian melaporkan itu ke Polsek Narmada. Bersama Polsek, mereka kemudian naik ke lokasi yang sama untuk mengecek aksi perambahan hutan tersebut.
 
Namun ketika keterangan saksi Ahmad Muliadi yang senada juga dengan keterangan Ketua Awig – Awaig dikonfrontir dengan terdakwa, keterangan  keduanya tersebut dibantah.
“Tidak benar sama sekali yang mulia. Keterangan saksi tidak benar,” kata Petrus, yang didampingi pengacaranya, Ninik Kurniawati.
 
Ninik yang diberi kesempatan bertanya, mencecar saksi seputar pengetahuannya atas kejadian penebangan liar oleh kliennya itu. “Bagaimana Anda tau, bahwa yang melakukan penebangan pohon itu adalah terdakwa?,” tanya Ninik. Dijawab Saksi, tidak melihat langsung. Melainkan mendengar kabar, bahwa terdakwa Petrus memerintahkan Fajar Sidik yang memotong kayu tersebut, kemudian membawanya dengan truk ke rumah H. Sudir.  Bahkan Nanik sempat mempertanyakan soal keberadaan tersangka utama dalam kasus itu, Fajar yang tidak diajukan ke persidangan dan masih bebas.  
 
Selain bukti foto kendaraan dinas yang digunakan mengangkut kayu, Jaksa Penuntut  Umum (JPU), Yustika, SH juga menunjukkan barang bukti chain saw yang digunakan memotong kayu hutan.

Semetara itu, ketika ketua majelis hakim menanyakan perihal apakah boleh menebang kayu didalam hutan lindung tersebut dengan jelas saksi Ahmad Mulyadi menegaskan tidak boleh.
Bahkan Mion Ginting juga sempat mengingatkan akibat dari penebangan kayu yaitu terjadinya bencana alam akibat dari gundulnya hutan.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !