Diaspora Olahraga Daerah: Proyeksi Atlet (3)

Lalu Muhammad Zohri, atlet asal Lombok Utara yang berhasil mengukir prestasi kelas dunia (foto: ilustrasi)

Oleh: Sarjono (Mantan Ketua Umum IPMLU Yogyakarta)

Daerah otonom dalam pusaran otonomi daerah semestinya mempunyai atlet yang membanggakan. Mereka berjuang untuk kemenangan dan pengharuman nama daerahnya. Betapa keberadaan mereka sangat penting sebagai salah satu di antara tolak ukur kemartabatan daerah otonomi. Hingga tak ayal jika pemimpin bangsa kita terdahulu telah menginspirasi dan sebagiannya bahkan mengimpresi betapa olahraga itu aspek penting bagi harkat dan martabat bangsa ataupun sebuah daerah. Fakta, ternyata makna kemenangan dalam suatu pertandingan olahraga telah menjadi parameter harga diri sebuah daerah (otonom).

Olahraga kemudian telah menjadi satu sarana perjuangan kolektif-kolegial, perjuangan berotonomi. Di mana otonomi itu mesti menjadi “jembatan emas” bagi kemakmuran, kesejahteraan masyarakat, dan kemenangan berolahraga di daerah otonomi bersangkutan. Olahraga adalah simbol prestasi manusia yang otonom.

Menjadikan olahraga sebagai preferensi harga diri dan kemartabatan daerah di era otonomi daerah saat ini, maka wajar jika Pemerintah Kabupaten Lombok Utara optimis pada saatnya daerah yang baru genap berusia sebelas tahun ini dapat menjadi “gudang” atlet nasional masa depan. Lantaran potensi generasi muda Lombok Utara untuk berprestasi di bidang olahraga terlihat terang dari tumbuhnya embrio atlet yang berprestasi. Embrio atlet tersebut dapat menjadi investasi dalam bidang olahraga sesuai dengan cabor yang ada ataupun cabor baru yang mau dibentuk oleh KONI setempat. Tetapi demikian, mewujudkan daerah ini menjadi “stok” atlet masa depan adalah pekerjaan rumah yang cukup berat. Sebab berbagai aspek menunjangnya harus mendukung mulai dari fasilitas, pelatih, kesiapan pendampingan yang optimal dan tentunya anggaran yang memadai. Belajar dari pengalaman daerah lain bahkan dalam skala nasional misalnya, betapa anggaran pembinaan cabang-cabang olahraga berikut prestasi maupun kesejahteraan atletnya menjadi kendala utama. Faktor ini harus menjadi kepedulian yang sungguh-sungguh dari semua pihak baik KONI, pemerintah daerah, pihak swasta, masyarakat maupun stakeholder terkait, karena prestasi bidang olahraga pada kenyataannya berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan suatu daerah. Dalam arti makin tinggi prestasi olahraga, maka makin sejahtera pula daerah yang bersangkutan, demikian pula sebaliknya. Daerah-daerah di Indonesia yang prestasi olahraganya maju umumnya memiliki produk domestik bruto per kapita yang tinggi dan sekaligus menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. 

Atlet Warga Lombok Utara

Laksana pemerintah daerah lainnya di Indonesia, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara pun terus memotivasi semangat generasi muda bumi Tioq Tata Tunaq untuk terus berprestasi dalam berbagai cabang olahraga. Kita pun sebagai warga daerah menghendaki kemenangan dari tiap atlet Lombok Utara. Misalkan saja dalam arus gemuruh laga pertandingan olahraga, kita menyaksikan betapa arena olahraga ingar bingar, suara gemuruh penonton tetap ramai, dan kita selalu menunggu medali diperoleh untuk daerah tercinta-Lombok Utara.

Kita kerap pula berharap atlet-atlet daerah ini mampu menunjukkan kebolehan dan kepandaiannya dalam pertandingan yang diikuti dan lebih bersemangat untuk tetap tampil maksimal dengan segala kesiapan yang dimiliki agar bisa menjadi jawara dan tentunya dapat mengharumkan nama daerah. Warga dan Pemerintah Lombok Utara senantiasa menunggu medali dari mereka.

Namun demikian, ke depan jika kita ingin daerah ini menjadi lumbung atlet yang berprestasi, maka hal utama yang mesti diprioritaskan sejak dini selain pembinaan kepada atlet terkait kesejahteraannya. Seperti yang kita ketahui dari daerah lain bahwa prestasi atlet ternyata berbanding lurus dengan kesejahteraannya.

Riset yang pernah dilakukan terkait faktor penurunan prestasi olahraga dalam skala nasional mengungkap beberapa fakta tentang prestasi olahraga kita tidak bisa unjuk taring di hadapan negara lain. Hasil riset tersebut ternyata menemukan beberapa faktor penyebabnya. Pertama, profesi atlet tidak atraktif bagi generasi muda. Bisa kita lihat bahwa saat ini beberapa bidang olahraga memang cukup menarik minat para generasi muda kita seperti bulutangkis dan sepakbola. Namun bidang-bidang olahraga di luar itu jarang sekali diminati. Faktor penyebab ternyata ketidakjelasan jalur karir di bidang-bidang olahraga tersebut. Hal ini kemudian membuat regenerasi atlet menjadi tersendat. Oleh karena itu, KONI dan Pemkab Lombok Utara harus berani memberi garansi bahwa olahraga juga menjadi lahan basah karir seseorang laiknya profesi lain seperti dokter, bidan dan lainnya. Kedua, olahraga tidak terbangun secara terintegrasi dengan sistem pendidikan. Sejauh ini orientasi sebagian masyarakat memang belum melihat olahraga sebagai ladang karir yang membanggakan dan menjanjikan. Ibaratnya, pendidikan dan olahraga bukan paduan yang pas, seperti dua kutub magnet yang sama yang mencoba untuk bergabung. Tentunya tak akan pernah terwujud. Banyak lembaga pendidikan yang memberikan ‘hukuman’ pada siswa yang lebih memilih olahraga dibanding belajar untuk nilai pelajaran yang bagus. Selain itu memang tidak ada program pelatihan dari pemerintah yang memberikan ruang bagi setiap siswa untuk memilih jalur olahraga untuk berprestasi lebih baik. Mengacu realitas tersebut, Pemkab Lombok Utara dan KONI perlu mencari solusi dan terobosan baru agar olahraga terintegrasi dengan sistem pendidikan di daerah ini. Tentunya ekspektasi ini perjuangan yang tidak mudah. Menjadi pekerjaan rumah yang cukup sulit, namun bukan berarti tertutup harapan untuk mewujudkannya. Butuh sinergi dan ikhtiar semua stakeholder. Ketiga, ketelibatan pelbagai pihak dalam pembinaan olahraga belum optimal. Diperlukan kemitraan kolegial dengan berbagai pihak terutama pihak swasta untuk menemukan solusinya. Habis