Mataram, MATARAMnews – Empat dari enam pemuda yang ditahan dalam kasus dugaan pemerkosaan mengaku sebagai pelaku pemerkosaan. Hal ini diketahui setelah dilakukan pemeriksaan secara itensif terhadap enam orang pemuda yang telah ditetapkan sebagai tersangka dan kini meringkuk dibalik jeruji besi Polres Mataram.

Mereka ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pemerkosaan yang dialami Bunga (16)-nama samaran .

Kapolres Mataram melalui Kasat Reskrim Polres Mataram, AKP Lalu Salehuddin SH, mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan ada yang melakukan pemerkosaan dan ada yang melakukan pencabulan.

“Dari keterangan empat tersangka mengaku sebagai pelaku pemerkosaan dan dua mengaku hanya berbuat cabul,” katanya ketika ditemui Rabu (28/3/2012) pagi.

Menurutnya, bahwa aksi yang dilakukan oleh para tersangka terjadi disekitar kantor Golkar Lobar yang terletak dijalan Sriwijaya Mataram, Rabu (21/3/2012) lalu. Para tersangka itu diantaranya SA (16), RI (15) RA (16),  D (17) W (17) dan S (18).

Atas perbuatannya para tersangka ini dijerat dengan pasal 81 ayat 1 Undang-Undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 3 tahun penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus dugaan pemerkosaan ini bermula ketika korban diajak pacarnya berinisial SA untuk bertemu. Tanpa berfirasat aneh, korban menuruti permintaan itu dan berangkat dari rumah menuju lokasi tempat mereka bertemu. Sesampai dilokasi tersebut korban langsung diajak SA ke sekitar TKP, korban juga manut.Setelah sampai ditempat kejadian, korban disuruh SA duduk bersama lima pelaku lainnya sambil menikmati makanan ringan. Namun, beberapa menit kemudian niat busuk pelaku muncul dengan mengajak korban berhubungan intim. Sontak korban menolak, namun terus dibujuk SH bahkan dipaksa melayani nafsu bejatnya. Rupanya perbuatan amoral itu sudah direncanakan SA bersama lima rekannya. Karena saat itu para pelaku lainnya membantu memegang tubuh korban yang terus meronta. Bahkan ada yang membekap mulutnya agar tidak berteriak. Dalam keadaan tak berdaya, Bunga pun diperkosa secara bergilir.

Nasib tragis itu sempat disembunyikan korban, namun akhirnya diketahui pihak keluarganya sehari kemudian dilaporkan kepolisi. Kasus tersebut kini sudah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !