Menginspirasi “Apresiasi”

Oleh: Sarjono (Warga Lombok Utara)

Ada pesan “inspiratif” yang tersirat dari pagelaran pekan apresiasi budaya (PAB) Kabupaten Lombok Utara beberapa waktu lalu. PAB itu digelar sebagai bentuk apresiasi (empatik) dan ruang ekspresi kebudayaan atas berbagai pranata dan institusi budaya yang ada di bumi Tioq Tata Tunaq.

Beragamnya entitas budaya, norma dan kearifan lokal mesti dapat diinternalisasi oleh masyarakat luas. Sehingga penting untuk memahami dan melestarikannya secara turun temurun dalam lintas generasi baik budaya di kalangan masyarakat adat maupun di kalangan masyarakat luas.

Ciri khas Lombok Utara ada pada identitas kebudayaannya, lantaran bumi bersesanti Tioq Tata Tunaq tersebut kaya dengan pranata budaya. PAB, salah satu cara meneradisikan adat dan budaya di samping melaksanakan norma-norma yang ada di wilayah setempat. Salah satu bentuk nyata pranata budaya Lombok Utara adalah atraksi budaya, misalnya prosesi maulid adat, prosesi khitanan, prosesi pengantenan, prosesi basuh beras dan lain-lain.

Dalam perspektif teologi, atraksi budaya tersebut sesungguhnya menunjukkan betapa budaya itu memuliakan manusia, dan juga memanusiakan manusia (humanisasi insani). Sementara dalam kajian budaya secara umum, segala hidup dan kehidupan manusia atau masyarakat dalam arti luas, selalu mengandung nilai-nilai adat dan budaya. Bisa dikatakan manusia adalah kebudayaan itu sendiri, pun sebaliknya.

Dalam skala lokal Lombok Utara, PAB merupakan aktivitas seremonial yang dihelat setiap tahun oleh seluruh elemen masyarakat setempat. Tulisan ini ingin membidik makna “apresiasi” dalam konteks hasil karya seni dan budaya di bumi Tioq Tata Tunaq. Lantaran Lombok Utara terkenal dengan kabupaten berbasis budaya di Provinsi NTB.

Dalam perspektif antropologi budaya, seni dan budaya tidak dapat dibatasi, dikebiri bahkan dimusnahkan sekalipun selama manusia masih hidup di dunia ini. Manusia cenderung membawa aliran seni, ide dan gagasannya serta hal-hal yang dianggap benar sebagai budaya yang dianut dalam sistem kehidupan yang plural dan kompleks. Itulah kiranya gambaran kehidupan manusia yang kental dengan aktivitas seni dan budaya di manapun manusia itu berada. Laksana objek “cair” yang selalu mengalir ke mana pun takdir membawanya, bahkan bisa membuat arus yang deras sebagai aplikasi seni budaya di dalam lingkungan yang mendukungnya.  

Kita patut bersyukur sebagai makhluk yang berakal dan berperasaan. Namun, tak hanya cukup mensyukuri saja lantaran yang lebih penting dari sekadar mensyukuri adalah mampu memahami, mengembangkan dan memanfaatkan apa yang menginternal dalam diri dengan menuangkannya ke dalam bentuk karya yang terkonsepsi dalam sistem budaya. Kebutuhan manusia dalam berkesenian dan berbudaya merupakan kebutuhan dan hak dasar yang membutuhakan konsepsi dan langkah untuk mengembangkannya. Dalam konteks inilah, peran semua pihak baik pemerintah, pelaku seni, budayawan, dan stakeholders dibutuhkan dalam menjunjung tinggi aktivitas seni budaya di tengah kehidupan masyarakat. Namun dalam realitanya, belum semua pihak berperan optimal sesuai dengan kapasitasnya.

Sejurus waktu, kebutuhan berbudaya berikut dinamikanya ternyata tidak diwariskan secara generatif, melainkan hanya mungkin dapat diperoleh dengan cara belajar secara seksama dalam kehidupan bermasyarakat. Lantaran kebutuhan itu diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat akan sulit bagi manusia untuk dapat membentuk kebutuhannya, begitu pun sebaliknya tanpa kebutuhan tak mungkin bagi manusia baik secara individual maupun kelompok (hidup berguyuban) untuk mempertahankan kehidupannya.

Lanskap kehidupan manusia dan kebudayaannya seperti deskripsi di atas tidak akan bisa bertahan lama apalagi mewujud dalam bentuk nilai cipta dan karya dalam kehidupan keseharian seseorang tanpa adanya sebuah “penghargaan/apresiasi” dalam bentuk nyata dan senyatanya. Sebab, dalam koridor budaya apresiasi itu inkulturatif dengan pemahaman yang komprehensif guna menumbuhkan penghargaan dan penilaian terhadap hasil budaya. Atau kegiatan persenyawaan hasil budaya dengan sungguh-sungguh sehingga bisa menimbulkan apresiasi yang nyata atas dasar kepekaan kritis dan kepekaan naluriah yang baik terhadap hasil karya seserorang atau pegiat budaya.

Dalam pada itu, di antara fungsi apresiasi dalam kehidupan manusia adalah sarana untuk meningkatkan rasa cinta seseorang atau masyarakat terhadap karya anak bangsa di samping bentuk kepedulian terhadap sesama. Sedangkan tujuan apresiasi dapat meningkatkan serta mengembangkan kemampuan berkreasi dan berimajinasi manusia. Sebetulnya manfaat apresiasi cukup banyak bagi masyarakat, misalnya memberi dampak positif dan kontributif bagi individu dan masyarakat dalam kehidupannya, dapat meningkatkan rasa cinta terhadap karya seni, serta mengembangkan suatu karya seni untuk lebih baik di masa mendatang.

Dalam kaitan inilah sedungguhnya pemahaman terhadap apresiasi berikut maknanya bisa ditanamkan sejak dini, di sekolah ataupun di lingkungan keluarga dan masyarakat. Memang, penanaman makna apresiasi tidak mudah, perlu waktu yang lama agar tertancap kuat dalam jiwa seseorang. Peran pendidikan terutama pendidikan jenjang PAUD sangat dibutuhkan. Artinya proses pengenalan lewat pendidikan PAUD menjadi langkah dini penanaman esensi apresiasi pada peserta didik. Melalui pendidikan usia dini, kita mempersiapkan jiwa-jiwa yang benar-benar paham makna apresiasi. Apresiasi tidak ditujukan untuk kebudayaan saja, tetapi untuk berbagai karya yang dihasilkan anak bangsa.

Penekanan penulis dalam tulisan ini adalah pemerintah dan semua pihak dibantu dengan pendidikan mesti dapat menanamkan rasa apresiasi sedini mungkin pada anak bangsa. Ekspektasinya dapat membantu dalam pembangunan bangsa dan daerah ini khususnya pembangunan kebudayaan (lokal). Siapa pun kita yang mengaku anak bangsa tidak hanya mengambil untung atas apa yang dihasilkan. Tetapi niscaya menjadikan apresiasi itu menginspirasi setiap orang.