15 Tahun Selaparang TV, Riwayatmu Kini

Hari ini, 17 Agustus 2019 merupakan hari istimewa dan paling bersejarah dalam perjalanan bangsa ini meraih kemerdekaannya. Pada hari ini pula, 15 tahun lalu, Selaparang Televisi hadir dan mengudara untuk kali pertama sebagai entitas lembaga penyiaran publik lokal televisi di Gumi Selaparang Lombok Timur.

Oleh : Sukri Aruman (Ketua Pelaksana Tugas Dewan Pengawas LPPL Selaparang TV, Mantan Ketua KPID NTB Periode 2014-2018)

Berjuang hingga titik darah penghabisan, merdeka atau mati telah mengantarkan bangsa ini mencapai puncak kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. Entah direncanakan, sengaja atau tidak, yang pasti penggagas lahirnya Selaparang Televisi pada momentum hari kemerdekaan Republik Indonesia itu, layak diapresiasi sebagai sebuah niat mulia, membuka jalan dan kran kebebasan berekspresi, menguatkan dan mengembalikan kembali fungsi media siaran itu semata-mata untuk kemajuan, kesejahteraan dan kepentingan rakyat. Karena Itulah hakekat sebenarnya dari eksistensi Selaparang Televisi sebagai lembaga penyiaran publik.

Nah, bicara media siaran, apalagi televisi, tentu tak kan pernah habisnya. Terlebih menyangkut televisi lokal yang lahir pasca tumbangnya rezim orde baru. Bagi saya, ini sangat luar biasa dan langkah berani. Yang lebih berani lagi, tentu komitmen yang ditunjukkan oleh penerus keberlangsungan media siaran itu, sehingga bisa terus bertahan hingga sekarang.

Adalah Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy, yang kembali menyatakan komitmennya untuk mendukung eksistensi Selaparang. Ini terungkap ketika Bupati Sukiman menerima kunjungan kerja Pimpinan dan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Barat di Pendopo Bupati, Jumat (16/8) kemarin. Hadir pada kesempatan itu, Kepala Dinas Kominfotik Lombok Timur, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Dewan Pengawas dan jajaran Direksi Selaparang Televisi.

Bupati Sukiman mengakui bahwa Selaparang Televisi lahir bukan di era kepemimpinannya. Baginya, di era siapapun TV ini dilahirkan, yang terpenting adalah bagaimana komitmen merawat dan memeliharanya agar terus tumbuh dan berkembang sebagai media siaran yang membanggakan masyarakat Lombok Timur. “Kalau sudah lahir, kita harus merawatnya,”ungkap bupati semangat.

Bagi saya, komitmen kuat mendukung Selaparang Televisi yang ditunjukkan HM Sukiman Azmy sebagai kepala daerah tentu merupakan sebuah kado istimewa ulang tahun sekaligus tantangan yang harus diterima oleh jajaran Dewan Pengawas dan Direksi Selaparang Televisi.

Bila dikaitkan dengan siklus kehidupan manusia, Selaparang Televisi saat ini sedang tumbuh memasuki usia remaja, generasi milenial yang gaya hidup dan seleranya sudah berbeda jauh dibandingkan ketika berusia balita dan anak-anak.

Tantangan yang dihadapi Pengelola Selaparang Televisi hari ini, tentulah sangat berbeda dibandingkan kondisi lima atau 10 tahun lalu terutama menyikapi fenomena digitalisasi, konvergensi media dan cara masyarakat Lombok Timur menonton televisi yang berubah total seiring masifnya serbuan media sosial dengan beragam platform media streaming dan aplikasinya.

Rendesvouz

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sesungguhnya punya pengalaman dan sejarah panjang mengelola media siaran, tepatnya di era 80 hingga pertengahan 90-an. Ketika itu, Pemda mengelola radio siaran dengan panggilan udara Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Lombok Timur yang mengudara di jalur AM (Amplitudo Modulation). Beberapa penyiar kenamaan kalau tak mau dibilang legenda pernah unjuk suara di radio plat merah yang kental dengan kepentingan penguasa orde baru. Sebut saja Anggaradesa, Makbul dan Taharudin dengan suara khas dan gayanya masing-masing.

Dalam perjalanannya, RSPD tutup dan muncul lagi dengan format baru, dimana Pemda Lombok Timur membangun kemitraan dengan RRI Mataram yang bersiaran lokal menjembatani kepentingan Pemda Lombok Timur hingga menjelang era reformasi.

Seiring dibukanya kran kebebasan pers tahun 1999 dan terbitnys revisi Undang-Undang penyiaran yang baru, maka seiring itu pula lembaga pers dan media siaran tumbuh bagaikan cendawan di musim penghujan. Apalagi ada ruang bagi Pemerintah Daerah untuk mendirikan juga stasiun radio dan TV publik lokal layaknya RRI dan TVRI.

Pilihan Pemda Lombok Timur untuk mendirikan stasiun Televisi pada awal kepemimpinan Bupati Ali BD merupakan sebuah langkah berani dan terobosan yang tentu bukan tanpa alasan. Salah satunya, bisa jadi karena alasan kekuatan televisi sebagai media penyebarluasan berita dan informasi pembangunan yang lebih powerful, atraktif dan lebih efektif dibandingkan radio.

Menyandang nama Kerajaan Selaparang, sebuah Kerajaan Islam Terbesar dan berjaya di Pulau Lombok pada masa lampau. Pemberian nama Selaparang Televisi, tentu saja mempunyai makna historis, strategis dan filosofis dengan harapan lembaga penyiaran ini mampu mengejawantahkan peranannya sebagai pengemban dan pengamal nilai-nilai Pancasila yang bersendikan nilai agama, nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Gumi Selaparang Lombok Timur dan Bumi Gora Nusa Tenggara Barat dalam kerangka mengawal moral dan citra bangsa.

Selaparang Televisi sebagai Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL), mulai bersiaran pada 17 Agustus 2004, bertepatan dengan hari peringatan kemerdekaan RI yang ke-59. Selaparang Televisi bersiaran mengacu SK Bupati Lombok Timur, yang pada saat itu dijabat oleh Ali Bin Dahlan yang memperkuat operasional siaran Selaparang Televisi dengan menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 16 Tahun 2005.

Tatkala pertama kali Selaparang Televisi mulai bersiaran, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Barat belum terbentuk. Proses pengurusan izin sebagaimana dimandatkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, baru dimulai sejak terbentuknya KPID NTB pada 2008.

Selaparang Televisi memperoleh Rekomendasi Kelayakan Izin Penyelenggaraan Penyiarann (RKIPP) dari KPID NTB setelah mengikuti proses Evaluasi Dengar Pendapat yang dilaksanakan lembaga negara independen tersebut pada tanggal 13 Desember 2008.
Selaparang Televisi secara kelembagaan dan pembiayaan tetap, ditopang oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Dengan demikian secara struktural penanggung Jawab Utama dijabat langsung oleh Bupati Lombok Timur, di bawahnya ada jabatan Dewan Pengawas, Direktur, sekretaris, dan masing-masing koordinator dari unsur pegawai negeri sipil dan tenaga honorer. Selaparang Televisi pada awal pendiriannya didukung oleh 28 orang karyawan dari berbagai disiplin ilmu.

Sebagai LPP lokal, Selaparang Televisi menggunakan kanal frekuensi 50 UHF dan didukung perangkat pemancar siaran berkekuatan 500 watt, dengan ketinggian tower 75 meter dari permukaan laut. Siarannyai dapat ditangkap di sebagian besar wilayah Kabupaten Lombok Timur, kecuali Kecamatan Sembalun; Kecamatan Sambelia; dan sebagian daerah Kecamatan Aikmel.

Oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Selaparang Televisi diberikan fasilitas gedung yang berfungsi sebagai studio siaran dan sekaligus sarana produksi siaran yang lain yang dipusatkan di Komplek LLK Selong. Di samping itu juga, pemerintah daerah menyediakan sarana tranportasi dan alat pendukung siaran yang secara kualitas sudah mendapat standarisasi dan sertifikasi peralatan dari instansi terkait.

Legalitas perizinan Selaparang Televisi menemui titik terang pada era kepemimpinan HM Sukiman Azmy periode pertama, seiring terbitnya Peraturan Daerah Lombok Timur Nomor 13 Tahun 2009 tentang Pembentukan Lembaga Penyiaran Publik Lokal Selaparang Televisi Kabupaten Lombok Timur, maka Selaparang Televisi secara resmi mendapatkan legalitas dari negara dengan terbitnya Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) Nomor 1081 tahun 2015 dan Izin Stasiun Radio (ISR) Nomor 01731454-000SU/2020142019.

Kontribusi dan Peran Strategis Selaparang TV

Kabupaten Lombok Timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara diuntungkan dalam segi pencapaian segmentasi khalayak, sedangkan secara demografis juga diuntungkan dari keberagaman budaya yang dimiliki oleh masyarakat Lombok Timur. Ditambah dengan beragam potensi ekonomi, sosial dan budaya lainnya mencakup bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, pariwisata menjadikan potensi LPPL sebagai penyebarluasan informasi serta perekat sosial.

Hadirnya LPPL Selaparang Televisi tentu saja memberikan dampak dan manfaat yang besar dalam rangka ikut serta mensukseskan visi misi Pemerintah kabupaten Lombok Timur yakni mewujudkan Masyarakat Lombok Timur yang adil, sejahtera dan aman 2018-2023. Adapun manfaat tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, LPPL Selaparang Televisi membantu proses pengembangan sektor pertanian melalui program penyuluhan pertanian. Masyarakat pertanian umumnya berbeda dengan masyarakat di perkotaan. Dalam penerimaan pesan komunikasi umumnya masyarakat pertanian lebih “kena” dengan pesan oral dan visual dibanding dengan pesan tulisan. Karena itu, dengan adanya , LPPL Selaparang Televisi program penyuluhan pertanian dapat diadopsi dalam program siaran khusus yang membahas seputar masalah pertanian guna meningkatkan kesadaran dan pengetahuan petani untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Kedua, LPPL Selaparang Televisi sebagai Media Silaturahmi dan Komunikasi Penyiaran Nilai Agama khususnya dakwah dan siar Islam. Mengingat mayoritas penduduk Kabupaten Lombok Timur yang memeluk Agama Islam, tentunya prosentase penyiaran dakwah Islam menjadi lebih besar dan dominan sesuai kebutuhan khalayak pemirsa di Bumi Selaparang tersebut.

Ketiga, LPPL Selaparang Televisi sebagai sarana bagi kelompok usaha untuk mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui pemanfaatan slot iklan. usaha dan pemanfaatan LPPL Selaparang Televisi sebagai media promosi. Meningkatkan penjualan dengan ide kreatif dan diversifikasi usaha. Dalam tahapan yang paling awal dengan diinformasikannya produk (barang/ jasa) melalui siaran , LPPL Selaparang Televisi maka terbuka peluang permintaan pasar hingga mencapai akumulasi dari banyaknya UMKM di daerah akan berkorelasi terhadap penyerapan tenaga kerja.

Keempat, LPPL Selaparang Televisi sebagai alat stimulasi dari gagasan-gagasan untuk memunculkan industri kreatif. Input utama industri ini adalah kreativitas. Industri kreatif dapat berupa industri fashion, musik, desain grafis, fotografi, pasar seni, periklanan hingga arsitektur. LPPL Selaparang Televisi juga dapat dijadikan sebagai media praktek kerja lapangan mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di beberapa universitas di kabupaten Lombok Timur pada khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada umumnya.

Kelima, LPPL Selaparang Televisi membantu pelestarian budaya, ciri khas masyarakat daerah (lokalitas). Di samping itu, keberadaan LPPL televisi juga dapat dijadikan sebagai pelestari tradisi, nilai-nilai dan budaya masyarakat.

Penyiaran publik merupakan entitas penyiaran yang memiliki perhatian lebih terhadap identitas dan kultur (Sendjaja, 2006). Televisi publik adalah suatu sarana yang ampuh untuk membangun budaya dan jati-diri bangsa, juga budaya dan jati-diri tiap provinsi yang merupakan bagian integral dari Negara (Mulyana, 2008). Contohnya adalah bagaimana pelestarian sub bahasa Sasak yang memiliki berbagai kategorisasi, seperti Bahasa Sasak di Lombok Timur yang mempunyai ragam dialek dan logat di wilayah Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Oleh karenanya, melalui siaran dengan muatan lokal yang menggunakan sub bahasa daerah tersebut, LPPL Selaparang Televisi dapat melestarikan bahasa dan mendekatkan masyarakat dalam suatu ikatan sosiologis. Jika menggunakan analogi studi tentang proksemik, maka melalui siaran berbahasa daerah LPPL Selaparang Televisi dapat memperpendek jarak publik menjadi jarak personal untuk membentuk kesadaran kebersamaan menjadi satu kesatuan bagian dalam suatu daerah. LPPL Selaparang Televisi juga dapat melestarikan nilai-nilai, tradisi dan seni masyarakat, seperti kegiatan wisata religi (ziarah kubur), pesta budaya Bau Nyale, kesenian tradisional Gendang Belek, Gamelan, Cilokaq, Kecimol, Rudat, dan olahraga tradisional seperti Presean, Belanjakan dan banyak lagi nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat yang dapat dilestarikan terdokumentasikan dalam format audio-visual.

Keenam, LPPL Selaparang Televisi sebagai media pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. LPPL Selaparang Televisi berkewajiban untuk menyiarkan isi siaran dengan muatan lokal yang lebih ditujukan untuk pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Pemberdayaan merujuk pada kemampuan orang untuk memiliki kekuatan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya, dan berpartisipasi dalam proses pembangunan (Suharto, 2011). Sedangkan pengembangan masyarakat memiliki fokus terhadap upaya membantu anggota masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi kebutuhan bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Suatu pertanyaan muncul: “bagaimana LPPL Selaparang Televisi dapat menjalankan fungsi pemberdayaan dan pengembangan masyarakat?” Jawabannya dihadapkan pada proses efek komunikasi pesan dari media dan pengaruhnya kepada masyarakat dengan tahapan umum yang dimulai dari kesadaran, pengetahuan, ketertarikan, evaluasi, percobaan dan tindakan. Dalam teori difusi inovasi media massa dan sumber informasi kosmopolitan terbukti berpengaruh pada tahap pembentukan kesadaran terhadap inovasi (Melkote, 1991). Meskipun pada tahap evaluasi, percobaan dan tindakan, sumber-sumber informasi interpersonal dan lokal menjadi pengaruh yang dominan.

Karena itu, fungsi LPPL Selaparang Televisi dalam memberdayakan dan mengembangkan masyarakat bersifat fungsionalisme atau saling keterkaitan dan menyeluruh. Karena itu diperlukan elemen-elemen “off-air” keterlibatan lembaga komunikasi sosial seperti keberadaan kelompok informasi masyarakat (KIM) di tingkat desa/ kelurahan, lembaga komunikasi tradisional serta lembaga pemantau media, selain itu juga diperlukan suprastruktur penunjang optimalisasi diseminasi informasi pembangunan di tingkat kabupaten/ kota, kecamatan hingga desa/ kelurahan yang dalam hal ini diatur dalam Permenkominfo Nomor 8 tahun 2010 tentang Pedoman Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial serta Permenkominfo Nomor 17 Tahun 2009 tentang Diseminasi Informasi Nasional.

Ketujuh, LPPL Selaparang Televisi sebagai ruang diskusi untuk masyarakat; membahas permasalahan ril, menyampaikan aspirasi dan berbagai kepentingan publik lainnya. Ruang publik merupakan suatu konsep yang digagas oleh Jurgen Habermas. Ruang publik merupakan suatu celah yang terletak antara komunitas ekonomi dan negara, di mana publik melakukan diskusi yang rasional, membentuk opini mereka, serta menjalankan pengawasan terhadap pemerintah. Konsepsi public sphere pada intinya juga menunjuk kepada suatu kawasan atau ruang yang “netral” di mana publik memiliki akses yang sama dan berpartisipasi dalam wacana publik dalam kedudukan yang sejajar pula, bebas dari dominasi negara ataupun pasar. Dalam konsep ruang publik terdapat tiga kondisi ideal, yakni pertama ialah akses yang sama terhadap informasi; kedua, tidak ada perlakuan istimewa terhadap peserta diskusi dan prinsip ketiga, mengemukakan alasan-alasan yang rasional dalam berdiskusi dan juga dalam mencari konsensus.

Terakhir, LPPL sebagai alat konstruksi potensi daerah melalui program berita dan non berita untuk pertumbuhan ekonomi daerah yang dihasilkan melalui investasi. Potensi daerah yang dimiliki Kabupaten Lombok Timur meliputi sumber daya alam, pertanian, kelautan dan pariwisata belum terekspos ke publik secara optimal. Dengan LPPL Selaparang Televisi khususnya melalui program siaran yang mempromosikan potensi daerah dan mampu menjangkau khalayak tanpa batas seiring pengembangan siaran berbasis digital (konvergensi media), akan membuka peluang investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA).

Dalam rangka itu semua, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem perencanaan yang tepat dan jelas, agar keberadaan Selaparang Televisi sebagai garda utama penyebarluasan informasi pembangunan daerah, sarana pendidikan, perekat dan kontrol sosial dapat berjalan sebagaimana mestinya. (bersambung)