Menumbuhkan Spirit Kerja Guyub Rukun

gambar ilustrai: istimewa

Oleh: SARJONO (Staf pada Bagian Humas dan Protokol Setda KLU)

BEKERJA sebetulnya aktifitas yang unik. Tidak lagi fenomena universal manusia semata, tetapi juga melibatkan pekerja tangan atau pekerja pengetahuan. Setiap pekerja harus ditata dalam suatu lembaga agar dapat mewujudkan setidaknya dua hal: mencapai produktivitas kerja yang dibutuhkan instansi, dan memperoleh kepuasan personal melalui kerjanya. 

Pada prinsipnya, kerja tergolong sesuatu yang sifatnya impersonal dan obyektif, untuk pelaksanaan tugas dan tanggung jawab. Dalam kerja seorang individu menerapkan logika dan aturan main yang berguna untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam kerja ada logika yang memerlukan kemampuan menganalisis, mengendalikan proses, dan membuat simpulan. Pekerja perlu memahami prinsip dasar kerja dalam suatu urutan yang logis, seimbang, dan rasional. Prinsip yang tak hanya berlaku pada pekerja yang menghasilkan materi, tetapi juga pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan yang menghasilkan konsep. Dengan memahami konsep kerja yang benar seseorang bisa mamahami betapa berharganya pekerjaan yang dilakoni. Bekerja juga tidak berorientasi uang semata, tetapi juga panggilan hidup, suara hati, pelayanan dan pengabdian kepada multipihak yang terlibat dalam pekerjaan, masyarakat, bangsa bahkan negara. Betapa pekerjaan memiliki arti mendalam bagi kehidupan kita sehingga agama manapun di dunia ini sangat mengapresiasi orang yang kerja dengan semangat, jujur, tabah, sabar dan kreatif mencari solusi jika menghadapi kesulitan. Dengan kerja orang mampu mengemban tanggung jawab ekonomi keluarga dan beraktifitas sosial. Karena itu, kita perlu memahat makna terbaik untuk pekerjaan kita lantaran dunia kerja sesungguhnya wahana bagi seseorang mencurahkan sebagian besar usia produktifnya. 

Dalam pada itu, guyub, memiliki makna hebat. Guyub juga berarti membersamai kebersamaan. Rukun berpadupadan dengan keselarasan (elok dan elegan). Dalam perspektif komunal, guyub rukun telah menjadi cornum kehidupan. Bisa kita bayangkan andaikan guyub rukun bisa terjalin di seluruh ladang pengabdian dalam bermasyarakat, tuah persatuan yang tertera dalam pembukaan konstitusi kita dapat terus hidup. Namun sayangnya, guyub rukun di era sekarang semakin sulit ditemui dalam pelbagai titian kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Masyarakat mungkin rukun namun tidak guyub, artinya tidak terjalinnya kebersamaan. Wujud masyarakat yang guyub dan rukun dilandasi adanya sikap saling menghormati, saling menghargai, bahu-membahu, empati, filantropi, dan lain-lain. Hemat penulis, jargon guyub rukun senada dengan kata “bersama kita bisa”, kata yang penuh makna dan krama. Dikatakan demikian lantaran kalimat ini terdiri dari tiga kata yang mempersuasi seluruh lapisan dalam sebuah lembaga, misalnya instansi pemerintahan mulai dari cleaning service hingga pimpinan tertinggi untuk saling meneguhkan diri di dalam ikatan kebersamaan. Bersama-sama mengajak segenap elemen instansi pemerintahan guna mewujudkan tujuan bersama.

Spirit guyub rukun yang diusung bersama harus menjadi framing dalam bersikap dan berperilaku pada setiap aktifitas kerja di mana pun kita bekhidmat dengan ragam profesi. Jargon guyub rukun mesti menjadi spirit untuk kembali berbenah sekaligus membentuk komunalitas hidup se-iya se-kata dan se-ritme se-irama dalam tungkus lumus kerja kolegial. Semangat kolektif yang mengilhami benak dan jiwa untuk bersama-sama berperan mewujudkan pengabdi yang harmoni. Semoga.