Cerdas Mencerna Informasi

Oleh: Dr. H. Lalu Muchsin Muchtar (Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Lombok Utara)

“Kabar bohong (hoax) dibuat oleh orang-orang pintar yang jahat dan disebarkan oleh orang bodoh yang baik.”

Tulisan ini beranjak dari kata-kata di atas, bahwa betapa konflik antara mahasiswa Papua dan ormas di Surabaya dinyana salah satunya dipicu kesalahan dalam mencerna informasi dan komunikasi. Kesalahan penyerapan itu kemudian ditunggangi kepentingan lain atau informasi-informasi yang justru tidak dapat dipertanggungjawabkan (hoax) karena sumbernya tidak jelas.

Terhadap masalah ini masyarakat Papua dan pemerintah dengan segenap perangkat yang dimilikinya kini tengah berusaha melakukan pengawasan atas konflik yang terjadi antara kedua belah pihak agar konflik tidak melebar serta kerukunan umat beragama dapat tetap terjaga dan harmonis demi bersemainya persaudaraan dan persatuan sesama anak bangsa. Ekspektasinya konflik itu cepat terselesaikan oleh para pihak yang berwenang.

Selain itu, masyarakat luas diharapkan tidak mudah terpovokasi oleh konflik yang bergulir antara mahasiswa dan ormas di Surabaya tersebut. Kita perlu lebih bijak dalam membaca dan melihat suatu fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat. Terlebih lagi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dan kompleks seperti di Surabaya sudah barang tentu friksi-friksi antar individu atau antar kelompok kerap menyeruak. Kondisi ini kemudian perlu disikapi secara bijak dan arif oleh semua pihak agar tidak meluas yang kemudian bisa menimbulkan gejala pertentangan satu sama lain dalam irisan sosial yang berujung pertikaian dan dapat mengganggu kohesi sosial kehidupan bermasyarakat yang telah terbangun kokoh dan ajeg.

Terkait konflik yang terjadi di Surabaya itu warga NTB dan warga Lombok Utara khususnya yang terkenal hidup rukun dan harmonis jangan sampai merasa terusik dan apalagi merasa tersinggung terhadap peristiwa konflik tersebut. Lantaran saat ini tengah dalam proses mediasi antara pemerintah dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, serta masyarakat Papua guna menyikapi secara arif dan bijaksana untuk menemukan jalan keluar atas permasalahan tersebut. Perlu juga dicamkan bahwa pertikaian yang terjadi di kota pahlawan itu sebetulnya bukanlah permasalahan etnis, suku, budaya dan agama. Pun, semua pihak mesti cermat menyerap ragam informasi yang terpublis di media massa dan media sosial. Perlu menyaring informasi yang berseliweran di media sosial dan tidak cepat percaya dengan berita, isu sara, dan hoax.

Melalui pelbagai kanal media massa dan media sosial pelbagai informasi baik berita, isu sara dan hoax maupun opini cepat sekali tersebar dan menyebar luas ke tengah kehidupan bermasyarakat. Ibarat cendawan di musim hujan yang tumbuh dan menjamur bahkan melanta di hamparan tanah yang luas. Demikian juga ragam informasi dan komunikasi terus terdiseminasi menerobos sekat-sekat ruang dan waktu bahkan ada pula di antaranya merasuki relung qalbu manusia.
Perlu disaring seselektif mungkin sebelum kemudian dicerna atau bahkan di-sharing kepada orang lain jika dirasa perlu untuk diketahui oleh pihak lain.

Dalam pada itu, di era digital sekarang, dunia telah beralih dari teks ke visual sehingga mendulum romantika zaman yang cepat bahkan telah mengubah banyak sekali hal-hal di dunia ini. Dalam
kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini, hoax menjadi salah satu “mimpi buruk” bagi keadaban kehidupan kita. Setiap orang dapat dengan mudah menyebarkan atau bahkan memproduksi informasi dengan cepat melalui media sosial seperti BBM, whatsapp, facebook, twitter dan lainnya tanpa mengenal waktu. Penyebaran berita atau informasi bohong dapat dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Dan, hoax yang diproduksi dengan kesengajaan ditujukan untuk membangun opini masyarakat agar mempercayai sesuatu dari si pembuat hoax. Sedangkan mereka yang ikut menyebarkan bahkan memviralkan hoax misalnya, cenderung mengonsumsi informasi dengan mentah tanpa proses klarifikasi dari sumber-sumber lainnya. Tentunya hoax tidak hanya ada sejak kehadiran media sosial namun telah ada sejak dulu, tapi distribusi dan dampaknya tidak sedahsyat saat ini.

Maraknya kabar bohong di berbagai media sekaarang ini menuntut semua orang untuk semakin cerdas dan kritis dalam menyikapinya agar tidak termakan berita hoax, hasut dan fitnah yang menjangkau kalangan masyarakat luas. Kebiasaan masyarakat menggunakan internet juga berperan dalam beranak pinaknya kabar hoax.

Kebohongan itu memang meresahkan dan bahkan dapat merugikan kepentingan banyak orang, karena kabar hoax dapat berujung fitnah. Sebagaimana petuah bijaksana bahwa fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Oleh karenanya, pembuat ataupun penyebar kabar hoax merupakan suatu tindak tidak terpuji yang dekat dengan kemungkaran. Selaras dengan pepatah yang dipercaya orang Jawa: “becik ketitik olo ketoro, baik terdeteksi buruk tertampakan”.