Simbol Elit dan Preferensi Voter

Oleh: Sarjono (Warga Lombok Utara)

BEBERAPA pekan terakhir, para elit desa terus menggencarkan komunikasi membangun atau memantapkan basis pendukung dengan merangkul tokoh-tokoh dusun dalam rangka penguatan dukungan calon kepala desa yang diusung. Publik pun kemudian riuh gemuruh ‘menebak’ simbol-simbol yang dilontarkan para elit dalam pertemuan yang diadakan mulai dari gaya pertemuan, cara pakaian, gesture, hingga isu dan setting pertemuan.

Intensitas komunikasi di antara elit-elit lokal desa meningkat seiring dengan semakin menggeliatnya suhu politik menjelang Pilkades serentak di Kabupaten Lombok Utara 2019, terlebih setelah pemerintah daerah setempat mengeluarkan kebijakan waktu pelaksanaan pesta demokrasi desa pada 21 Nopember mendatang.

Tulisan ini ingin mendeskripsikan fenomena menarik kenyelenehan para elit di salah satu desa yang ikut Pilkades serentak tahun ini. Fenomena yang cukup seksi untuk disimak terkait sikap dan tindakan aktor politik desa. Ibarat drama dapat digambarkan dengan jelas alur ceritanya lantaran cukup menggelitik naluri politik.

Bermula dari obrolan ringan penulis dengan seorang kawan yang juga karib dekat membincangkan episode politik selanjutnya setelah perhelatan akbar pemilu serentak 2019. Berselang tiga pekan setelah perbincangan diadakan, seorang elit politik bersama faksinya bertandang ke kediaman salah seorang tokoh untuk meminang dan sekaligus meminta kesiapan yang bersangkutan untuk maju dalam kontes pemilihan kepala desa di wilayah bersangkutan.

Sehari setelah itu, sekelompok warga pun tampak mengunjungi kediaman sang tokoh guna menindaklanjuti pertemuan sehari sebelumnya. Inti pertemuannya membahas seputar kesamaan pandangan di antara kelompok warga dengan sang elit menyangkut persoalan desa secara umum. Jalan menuju kesepakatan terbuka lebar. Pertemuan diakhiri dengan pernyataan bersama sekelompok warga tersebut untuk mendukung dan kesiapan memenangkan tokoh bersangkutan. Kunjungan itu kemudian berbalas pantun saat keluarga dan kerabat dekat sang tokoh melakukan hal yang sama ke kediaman sang elit.

Gurindam politik beralun. Usai perayaan Idul Fitri 1440 Hijriah, beberapa tokoh tampak kompak menyambangi kediaman sang mantan kepala desa setempat. Beberapa hari pasca kedatangan tokoh-tokoh itu, petahana dan pendukungnya bertemu dengan beberapa perwakilan tokoh dusun.

Dus, belakangan terpantau aktivitas pertemuan di “kubu” petahana juga tak kalah intens. Pada malam hari tanggal 11 Juni 2019, kubu sang petahana pun mengadakan pertemuan lanjutan di kediamannya dengan perwakilan dari berbagai wilayah dusun. Pertemuan bersama para pendukung dan tokoh representasi dusun itu kemudian diisi dengan deklarasi majunya sang incumbent pada pesta pilkades serentak 2019.

Gaya Pertemuan

Warga dan para netizen dunia maya pun kemudian “sibuk” mengomentari pertemuan yang mereka anggap sarat makna itu. Tergambar pada saat sang petahana menyampaikan pengantar sebelum deklarasi di atas “berugak”. Filosofi berugak menguak komunikasi nonverbal yang menarik dari budaya Sasak. Warga mengomentari soal betapa santainya gaya perbincangan dan penampilan si pejawat dan para pendukungnya. Pesan yang ingin disampaikan bahwa ‘politik itu serius, tapi bisa dilakukan dengan santai, dapat dilakukan dalam situasi informal serta di berbagai tempat’.

Para pengamat lokal menuturkan makna pertemuan itu, bahwa publik terutama para pemilih pada Pilkades 2019 akan senantiasa memperhatikan berbagai simbol yang dilontarkan oleh para elit desa, termasuk calon kepala desa. Secara umum, pesan yang bisa ditangkap dari incumbent dan para pendukungnya adalah rasa percaya diri dan santai. Sementara itu, bakal calon pendatang baru dan pendukungnya yang tampil rapi dengan mengenakan pakaian formal saat menghelat deklarasi kepastian maju dalam bursa Pilkades mendatang bisa dimaknai bahwa politik itu sesungguhnya menuntut keseragaman kehendak, kerapihan gerakan dan strategi, kesantunan sikap, dan keseriusan berdemokrasi. Realitas ini antara lain diperkuat dengan beredarnya foto sang tokoh yang terpampang pada spanduk yang dipajang di sepanjang jalan utama desa setempat dengan latar belakang mengenakan topi.

Semakin mendekati hari pendaftaran, publik pun semakin disuguhi dengan berbagai simbol dan citra yang ingin ditampilkan oleh elit-elit lokal yang sedang membangun “power” dukungan bagi kandidat yang akan bertarung. Simbol politik ini tampaknya kian menguat saat pengusungnya mendaftarkan kandidat ke Panitia Pilkades. Publik menyaksikan simbol-simbol imajiner dari para calon kepala desa yang berkompetisi. Semakin mendekati hari pendaftaran, publik pun akan semakin disuguhi berbagai simbol dan citra yang ingin ditampilkan oleh elit-elit lokal yang sedang membangun “powerless” bagi kandidat yang berlaga.

Impresi, penampilan para kandidat, dalam sebuah kontestasi politik lokal yang demokratis, dan keterkaitannya dengan preferensi pemilih sudah banyak dikaji oleh para peneliti perilaku pemilih. Shawn W Rosenberg dkk. dalam “The Image and the Vote: The Effect of Candidate Presentation on Voter Preference” (1986) menuturkan, bahwa tampilan fisik kandidat bisa mencitrakan kualitas personal. Hasil eksperimentasinya menunjukkan adanya relasi positif antara tampilan kandidat dalam sebuah foto terhadap penilaian para pemilih.

Sedangkan Leonard Mlodinow dari California Institute of Technology, Amerika Serikat dalam tulisannya di The Guardian (2012), “A Candidate Looks Count for Far More than Voters Like to Believe”, bahwa data empiris menunjukkan penampilan kandidat berdampak besar terhadap pilihan publik. Hanya saja, para pemilih secara umum tidak awas terhadap masuknya aspek penampilan sebagai faktor yang memengaruhi keputusan mereka. Dengan demikian, otak sadar pemilih memperhitungkan latar belakang, keyakinan, dan kebijakan, tetapi pikiran bawah sadarnya menimbang kandidat dalam tingkatan yang lebih emosional dan naluriah. Begitulah imajinasi dan sikap calon pemilih terhadap para kandidat yang bertarung di medan politik “elektoral”.

Peneliti dengan pendekatan psikoanalisis umumnya memahami bahwa keputusan seseorang bisa dipengaruhi pertimbangan rasional kalkulasi untung-rugi dalam alam sadar, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh alam pikir bawah sadarnya. Dalam kajian lain juga mengaitkan dampak penampilan seorang kandidat terhadap alam bawah sadar atau subliminal seseorang memang banyak, tetapi hasilnya relatif non-konklusif. Ada riset menunjukkan kecenderungan itu, tetapi ada pula yang tidak. Hanya saja, ada pula konsultan politik yang meyakini efek dari hal itu, sehingga menyarankan menggunakan simbol subliminal.

Dalam konteks Lombok Utara secara umum, bahwa faktor kalkulasi rasional untung-rugi masih lebih kuat memberi pengaruh preferensi pemilih ketimbang simbol dan citra maupun ketokohan seseorang sebagai daya pikat memengaruhi alam bawah sadar publik. Intinya, para pemilih menggunakan variabel kunci dengan kalkulasi untung rugi bahwa para kandidat yang bertarung bisa memberikan mereka apa. Lalu apakah rekam jejak sang kandidat bagus, dan bagaimana pula pengalaman sang kandidat.

Konklusi silogismenya, kandidat yang hendak merebut suara pemilih pada ajang Pilkades 2019, tidak bisa hanya mengandalkan pesan-pesan simbolis untuk memengaruhi alam bawah sadar pemilih. Justru tawaran gagasan dan program empirislah yang bisa memberi dampak positif bagi kandidat atau keuntungan bagi masyarakatlah yang akan memberi pengaruh besar terhadap voter atau faktor yang lebih memberi kepastian untuk menentukan kemenangan kandidat pada hajatan gawe demokrasi Pilkades serentak beberapa bulan kedepan. semoga!