Bupati Suhaili: Tradisi Madak Perlu Dilestarikan

Penampakan kemah atau tenda warga Rambitan yang melaksanakan Tradisi Madak Madek Mare selama tiga hari tiga malam, di kawasan wisata pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah.

Lombok Tengah, MN – Bupati Lombok Tengah H.M. Suhaili FT mendukung tradisi leluhur Madak Madek Mare warga Rambitan Pujut, Lombok Tengah, agar terus dilestarikan. Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah sedang memikirkan cara agar tradisi tersebut menjadi daya tarik wisatawan.

“Kita akan mengatur tradisi ini kedepannya, baik dari lokasi maupun hal lainya,” ucap Bupati Suhaili, di Lombok Tengah, Senin (17/9/2019).

Menurut Bupati, pengaturan itu kedepan agar tradisi Madak atau Madek Mare tidak mengganggu keindahan pantai di kawasan yang saat ini sedang dibangun untuk mendukung kemajuan pariwisata di Lombok Tengah dan umumnya di NTB.

“Yang pasti tempat tradisi Madak itu tidak saling mengganggu, baik antara pihak ITDC dan masyarakat,” tandasnya.

Kepala Desa Rambitan, Lalu Minaksa mengungkapkan bahwa tradisi turun temurun Madak adalah tradisi bukan sekedar berkemah atau cari ikan di laut, tetapi silaturahmi antar dusun di desa Rambitan.

Ditegaskan Kades Rambitan, perlu dicatat bahwa tradisi madak masyarakat desa Rambitan membuat kemah atau tenda dari ilalang dengan sederhana dan tidak dibuat berkotak-kotak namun panjang agar silaturahmi terus terjalin.

“Inilah nilai sakral dari sebuah tradisi madak dan kesederhanaan hidup itulah pesan moral yang disampaikan,” ungkap Kades.

Terkait kabar jika masyarakat desa Rambitan yang mengadakan tradisi madak tidak berkordinasi dengan ITDC, ditegaskan Kades, bahwa kabar itu tidak benar.

Tradisi Madak Madek Mare merupakan tradisi turun temurun suku Sasak yang dilaksanakan dalam setahun tiga bulan berturut selama tiga hari tiga malam per bulan bersangkutan, tradisi warga menangkap ikan saat air laut sedang surut dan dilakulan oleh warga desa Rembitan.

Ritual tradisi Madak atau Madek Mare memiliki makna filosofi dan mengandung kearifan lokal yang tinggi. Tidak hanya menyangkut soal makan ikan bersama-sama akan tetapi dari kegiatan itu adalah tumbuhnya rasa persaudaran yang kuat serta terjalinnya silaturahmi antar warga masyarakat. (mn-08)