Optimalisasi Peran Media Rakyat dalam Pembangunan

Oleh: Sarjono, S.I.Kom (Pranata Humas pada Bagian Humas dan Protokol KLU)

Dalam perspektif kemediaan, dewasa ini banyak pihak baik dalam arti individual maupun institusi publik cenderung memanfaatkan media modern berteknologi canggih dalam pembangunan0„2masyarakat. Namun pemanfaatan kanal ini secara empiris belum cukup semangkus-sangkil mendorong kesuksesan pembangunan masyarakat terutama masyarakat pedesaan. Padahal media modern dengan teknologi yang canggih sangat memungkinkan mengemas pesan yang kreatif dan menarik bahkan dominan berperan dalam soal-soal pembangunan masyarakat, terlebih lagi di daerah yang sedang berkembang. Kenyataan ini kemudian memerlukan pendekatan lain sebagai strategi pembangunan yang lebih relevan dan dapat lebih mengakomodasi kepentingan masyarakat grass root agar output peningkatan kehidupan dan kesejahteraannya dapat tercapai.

Oleh karena itu, diperlukan strategi baru sebagai media yang tepat untuk kanal penyampaian informasi pembangunan, sehingga pesan pembangunan dapat dengan mudah dipahami masyarakat. Strategi pembangunan yang baru menemukan bahwa media alternatif diperlukan dalam mengomunikasikan suatu ide, gagasan, terobosan ataupun inovasi pembangunan. Bahkan hasil-hasil riset para ahli menyimpulkan pentingnya media yang relevan agar pembangunan serta hasil-hasilnya tepat sasaran.

Dalam konteks ini, riset0„2 R.J. Griffin (dalam Dilla, 2007) misalnya, dapat menjadi acuan bagi para pemangku pembangunan. Hasil riset tersebut menemukan bahwa perencana kampanye informasi yang berhubungan dengan isu-isu kompleks masyarakat, secara eksplisit perlu memilih jenis media yang berbeda sehingga dapat menjangkau sektor khalayak yang berbeda pula.

Pendayagunaan media rakyat sebagai media alternatif yang relevan bagi kanalis informasi pembangunan, paling tidak didasarkan pada beberapa alasan antara lain masih minimnya pengetahuan dan ketrampilan, status sosial ekonomi yang rendah, kemampuan baca tulis yang kurang dan pola pikir yang cenderung irrasional. Pengetahuan dan ketrampilan masyarakat khususnya masyarakat Lombok Utara baik di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya cenderung masih rendah. Meskipun, kini masyarakat daerah otonomi terbelia di NTB ini ada yang mencecap pendidikan ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Namun masih saja dijumpai suatu kondisi yang miris, dimana masih ditemukan masyarakat yang enggan menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi. Faktor ekonomi dan alasan lainnya kerap menjadi justifikasi untuk membenarkan tindakan mereka. Bagi mereka pendidikan belum dianggap penting.

Semenjak mekar dari Lombok Barat 2008, perekonomian Kabupaten Lombok Utara mengalami peningkatan cukup progresif. Dus, kejadian bencana gempa bumi 2018 membuat sektor perekonomian daerah ini harus memulai lagi dari awal, lantaran sebagian besar infrastruktur penunjang perekonomian luluhlantak dalam durasi waktu hitungan detik. Tapi kejadian alam tidak bisa dijadikan alasan pembenar untuk tidak melanjutkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Pasalnya mengenyam pendidikan termasuk hak asasi anak yang dijamin konstitusi bernegara.

Dalam pada itu, peningkatan sektor perekonomian ini ternyata tidak seiring dengan peningkatan perekonomian masyarakat. Harus diakui masih banyak masyarakat Lombok Utara yang masih berstatus ekonomi rendah dalam artian memiliki penghasilan rendah. Meskipun data statistik menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Lombok Utara mengalami penurunan. Namun secara empiris, masih banyak warga yang miskin, sehingga menempatkan daerah ini dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kondisi semacam ini kemudian membuat pelaku pembangunan harus memiliki alternatif lain untuk menggerakkan hiruk pikuk roda pembangunan daerah, dan media rakyat menjadi alternatif yang paling mungkin untuk diterapkan.

Kemudian kemampuan baca tulis yang masih rendah menjadi alasan logis untuk kemestian memilih media rakyat. Penampilan teater, tradisi lisan, wayang, cupak gurantang, tarian dan nyanyian, dapat ditampilkan oleh seseorang tanpa harus pintar membaca ataupun menulis. Ketrampilan bermain lakon media rakyat tersebut bisa dipelajari secara mandiri atau belajar dengan orang lain. Syarat utama untuk dapat menguasai media rakyat adalah bakat dan kemauan berlatih.

Dengan demikian, media rakyat menjadi alternatif pilihan karena cara berfikir masyarakat yang masih irrasional. Masih banyak menggunakan perasaan, bukan akal sehat. Cara berfikir semacam ini sudah barang tentu menyulitkan dalam menyampaikan pesan pembangunan. Maka, lewat kesenian, tradisi dan budaya lokal, pesan tersebut dapat disampaikan. Media ini mengakomodir perasaan dan emosi0„2seseorang, sehingga pesan dapat dipahami dan dimengerti dengan mudah.

Untuk mengoptimalkan penggunaan media rakyat dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan daerah, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan atensi dalam menggunakan media rakyat.

Pertama, memahami secara saksama karakter kanal komunikasi berupa media rakyat dengan baik. Dengan memahami karakter media rakyat diharapkan tidak terjadi kesalahpahaman dalam penggunaannya. Hal ini dikarenakan media rakyat di beberapa wilayah di bumi Tioq Tata Tunaq menempati posisi sakral, sehingga dalam penggunaannya harus mengikuti aturan tertentu dan tidak boleh sembarangan.

Kedua, memadukan media rakyat dengan media massa adalah opsional yang tepat. Kehidupan modern dan serba canggih era ini, membuat media massa tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Televisi, surat kabar, radio, film dan internet setiap hari menyampaikan aneka ragam pesan dalam sekejap dan akrab dalam kehidupan kita. Bilamana media rakyat digabung dengan media massa, maka penggabungan ini dapat memberi keuntungan, di antaranya media rakyat yang bersangkutan dapat dikenal dan disampaikan kepada sejumlah khalayak dalam waktu yang singkat. Contoh kasus pemeranan media rakyat di Kabupaten Lombok Utara adalah penyiaran atau penayangan tradisi baca pepaosan di radio atau di televisi. Dalam penyiaran atau penayangan pelantunan pepaosan tersebut diselipkan pesan pembangunan seputar demokrasi, pendidikan politik dalam memilih, menjaga kesehatan atau pesan tentang keluarga berencana, dan lain-lain.

Epilogia tulisan ini, media rakyat memiliki potensi yang besar dalam menyampaikan pesan pembangunan. Kabupaten Lombok Utara memiliki keragaman media rakyat dalam bentuk kesenian, tradisi lisan dan lainnya. Secara empirikal, sejauh ini pemanfaatan media rakyat belum mendapat atensi dan tempat yang kontributif dari stakeholders pembangunan. Mulai saat ini dan masa mendatang, pelbagai pihak semestinya mengoptimalkan pemanfaatan media rakyat dalam upaya menyampaikan segala informasi dan pesan-pesan pembangunan. Semoga.