Ekonomi Global Melambat, OJK Tak Pasang Target Tinggi Pasar Modal 2020

Lombok, MN – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat berpengaruh terhadap kondisi melambatnya laju pertumbuhan ekonomi secara global, hal tersebut juga ikut mempengaruhi pasar modal hingga pihak otoritas tidak memasang target yang tinggi.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen, mengatakan otoritas tak akan memasang target tinggi pasar modal pada 2020 karena kondisi pertumbuhan ekonomi.

“Saat ini pertumbuhan ekonomi sedang terkoreksi, jadi suka atau tidak perlambatan ekonomi sedang berlangsung dan ini terjadi secara global bukan hanya di Indonesiaa. Jadi jika kami memasang target terlalu tinggi malah tak masuk akal,” ucap Hoesen dalam acara media gathering Pasar Modal di Senggigi Lombok Barat, NTB, Jum’at (25/10/2019) sore.

Menurut dia, pihaknya masih optimistis dengan pertumbuhan kinerja pasar modal tahun depan. Dimana pertumbuhan investor di sektor retail terus bertambah bisa ikut mendorong pertumbuhan likuiditas.

“Tahun depan keadaannya tidak akan jauh berbeda dengan kondisi hari ini. Tapi kami punya optimis terhadap investor retail,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling sedikit mendapat koreksi proyeksi pertumbuhan ekonominya, baik di wilayah kawasan atau jika dibandingkan negara Amerika dan Eropa. Misalnya dari prediksi menjadi 5 persen dari sebelumnya 5,2 persen oleh World Bank atau Bank Dunia pada 2020.

Sementara itu secara umum, pertumbuhan jumlah investor terus meningkat dari tahun ke tahun,dimana investor Saham telah mengalami peningkatan hampir 2 kali lipat (194%) sejak tahun 2014.namun investor Reksa Dana telah mengalami peningkatan hampir 3 (tiga) kali lipat (345%) sejak tahun 2014 begitu juga dengan SBN mengalami peningkatan hampir 3 (tiga) kali lipat (276%) sejak tahun 2014.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Bursa Efek Indonesia atau BEI Inarno Djajadi mengatakan bahwa otoritas bursa mematok target konservatif terhadap pertumbuhan kinerja pasar modal 2020. Dia menilai, tahun depan volatilitas market masih akan terjadi.

“Kita akan konservatif, tapi tidak mau pesimistis juga. Diperkirakan rata-rata transaksi harian pada 2020 kurang lebih sama dengan 2019 sekitar Rp 9,5 triliun,” ucapnua

Dimana data BEI menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hingga 18 Oktober 2019 mencapai angka Rp 9,36 triliun. Jumlah ini tercatat meningkat signifikan dibandingkan 2018 yang mencapai Rp 8,50 triliun. Sedangkan hingga 18 Oktober 2019, IHSG mengalami koreksi sebesar 1,09 persen secara year to date (ydt).

Secara umum, pihak OJK dan BEI tetap optimis bahwa kedepan perekonomian Indonesia dan global akan pulih dan memberikan sentimen positif terhadap sektor-sektor riil yang ada.

Kedepan pihak OJK dan BEI akan memperbaiki dan meningkatkan sistem yang sudah ada saat ini, sehingga para investor akan merasa lebih aman dan nyaman untuk berinvestasi di pasar modal, langkah ini sebagai bentuk untuk meningkatkan pelayanan publik dan perlindungan terhadap investor. (mn-07)