Pertemuan Sekelompok Masyarakat Dibubarkan Pemdes dan Warga Semokan

MATARAMnews – Sekelompok masyarakat yang melakukan pertemuan di rumah salah seorang Kiyai Adat di dusun Semokan Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, Senin malam (9/10/2011) dibubarkan Pemerintah Desa dan masyarakat setempat.

{xtypo_info}FOTO: Kaur Trantib Desa sukadana, Mawa Musbiris {/xtypo_info}

Pertemuan sekelompok masyarakat tersebut dinilai meresahkan warga dan mengajarkan aliran sesat atau dikenal dengan istilah “bedatuan”. “Ajaran ini biasanya diawalai dengan pengobatan ala dukun dan muncul beberapa kali di Desa Sukadana. Bahkan beberapa tahun lalu, salah seorang warga yang bernama Raminem diusir dari Sukadana karena tidak mentaati aturan adat yang berlaku,” kata Kepala Desa Sukadana, Sojati, ketika ditemui diruang kerjanya (10/10/2011).

Waktu itu, lanjut Sojati, Raminem tidak mau dilarang mengadakan pesta padahal secara adat tidak diperbolehkan. Konon dia menerima perintah langsung dari sahabat Nabi Sayyidina Ali bin Abi Tholib, dan pengakuan inilah yang cukup meresahkan warga, sehingga dia diusir dari Kabupaten Lombok Utara.

Sementara pertemuan yang terjadi pada malam senin itu dihadiri oleh salah seorang yang mengaku dari Jawa keturunan leluhur presiden pertama RI Soekarno yang bernama Raden Batara Surya Dilaga. “Katanya dia keturunan leluhur Soekarno dan ada hubungan dengan masyarakat Bayan”, terang Sojati. Karena peretemuan yang dihadiri oleh orang luar itu tanpa sepengetahuan pemerintah desa dan berlangsung pada malam hari, sehingga beberapa kepala dusun dan warga sekitar melaporkannya, dan kepala desa bersama, sekdes dan kaur trantib serta ratusan masyarakat sekitar langsung ke lokasi pertemuan.

“Saya sempat terkejut, karena didalam pertemuan itu ada juga hadir oknum Pol PP KLU, dan salah seorang warga yang mengaku keluarga bupati. Setelah ditanya pertemuan tersebut hanya silaturrahmi dan mensosialisasikan sebuah PT Krisna Lembayung Sejati, yang bergerak
dibidang sosial, pertenian dan peternakan”, jelas Sojati.

Dikatakan, seharusnya  pertemuan apapun bentuknya, lebih-lebih mensosialisasikan sebuah PT, terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pemerintah desa atau minimal dengan kepala dusun setempat, bukan asal nyelonong begitu saja. “Kan ada aturan yang harus diikuti. Dan yang membuat warga tidak yakin karena dia mengaku dari keturunan Soekarno”, tambahnya.

Sementara Kaur Trantib Desa sukadana, Mawa Musbiris membenarkan kejadian tersebut. “Pertemuannya terpaksa kami bubarkan untuk menghindari amukan masa, karena mengingat ajaran bedatuan ini sudah berulang kali terjadi di desa Sukadana dan cukup meresahkan warga”, kata Mawa. Memang sebagian masyarakat ada yang ikut kelompok ini dan seolah-olah anggotanya seperti kena hipnotis. “Apapun yang diminta oleh ketua kelompoknya selalu dikeluarkan. Misalnya dia minta sapi, kambing atau uang, pasti diusahakan sampai dapat untuk diberikan kepada orang yang datang mengaku dari keturunan leluhur Soekarno atau lainnya. Jadi seolah-olah warga terhipnotis”, jelas Mawa Musbiris.

Ditegasknan, bila orang seperti ini datang kembali, maka pemerintah desa dan warga setempat akan melakukan tindakan tegas, karena kegiatan seperti ini sangat meresahkan masyarakat.

Kapolres Lombok Barat melalui Kapolsek Bayan, IPDA Kadek Metria, ketika dikonfirmasi terkait masalah tersebut mengaku belum menerima laporan. “Kami belum menerima laporan, namun tetap kita akan pantau demi keamanan masyarakat”, katanya singkat.

(Laporan : Ari | Lombok Utara)

Bagikan :