Basri, ketua adat Mekaki

Mataram, MATARAMnews – Sidang kasus tuduhan penipuan yang ditujukan terhadap Basri, Ketua adat Mekaki Pancoran Salat Sekotong, digelar dipengadilan Negri Kelas 1 Mataram, Senin (30/4/2012). Dalam sidang itu Jaksa Penuntut Umum, L.Rudy Gunawan membacakan tuntutannya terkait tuduhan kasus  penipuan yang dilakukan oleh Basri terhadap anggota masyarakat Mekaki.

Ada yang luar biasa dalam sidang itu, dimana dalam persidang Basri menolak tawaram Hakim yang menganjurkan agar didampingi penasihat hukum, namun demikian Hakim yang memimpin jalannya sidang yaitu Efendi Pasaribu SH, menilai itu adalah hak dari tersangka dan menyerahkan sepenuhnya kapadanya.

Sementara itu, dalam pembelaan yang dibuat sendiri menggunakan selembar kertas folio dari dalam tahanan, Basri menyanggah semua tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya oleh Jaksa penuntut umum, bahkan sebaliknya Basri menuding jaksa penuntut umum berkonsfirasi dengan perusahaan membuat tuduhan palsu karena dalam kenyataannya orang-orang yang disebut melaporkan penipuan terhadap dirinya tersebut adalah orang-orang yang merupakan pelaku tindak pidana perampokan ternak miliknya dan pelaku pembantaian terhadap 3 warga adat Mekaki Pancoran Salat yang tewas.

Sidang yang berlansung cukup alot dan lama, meski dalam pembacaan pembelaannya, Basri membaca secara terbata-bata, namun dalam sidang tersebut Basri terlihat begitu menggebu membacakan pembelaan terhadap dirinya karena merasa sangat yakin atas pembelaannya.

Sidang berlansung sekitar satu setengah jam, dan diakhir pembelaannya, Basri meminta Hakim memberikan keadilan terhadap dirinya serta meminta meninjau kredibilitas jaksa penuntut umum yang dinilai telah mengangkangi hukum atas segala apa yang dituduhkan terhadapnya. Usai pembacaan eksepsi pembelaan dari terdakwa Basri, hakim kemudian menanyakan tanggapan atas pembelaan terdakwa kepada Jaksa penuntut umum. Sidang akan digelar kembali tanggal (9/5) minggu depan.

Ditemui usai sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum, L.Rudy Gunawan terkait eksepsi terdakwa, Rudy menyatakan  eksepsi dari terdakwa yang dibacakan tadi merupakan materi perkara. Jika kita lihat secara proseduralnya menurut KUHAP, eksepsi yang diajukan oleh terdakwa bukan merupakan syarat eksepsi yang dimaksud oleh KUHAP. “Jadi harusnya syarat materil dan formilnya dari dakwaan dan tadi pada semua eksepsinya materi perkara yang akan kita periksa nanti dibuktikan didepan sidang. Materi perkara bukan dari lahan eksepsi, jadi itu yang mungkin nanti akan saya tanggapi dalam sidang tanggal 9.” jelas Rudy “.

Selain disaksikan oleh keluarga dan anggota adat, beberapa elemen mahasiswa dan LSM juga turut hadir guna memberi dukungan kepada Basri. Sri Sudarjo dari Front Aksi Berantas Kejahatan Indonesia yang hadir mendampingi Basri menyatakan persoalan Basri ini sebenarnya kalau kita ikuti dari kronologis awal, kesannya terlalu sarat dengan Rekayasa, banyak pihak yang memiliki kepentingan dalam kaitan dengan persoalan Basri dan masyarakat adat Mekaki Pancoran Salat.

“Dalam hal ini saya melihat Basri merupakan korban keniscayaan dari kepentingan pihak-pihak yang berkiblat kepada perusahaan untuk mendapatkan uang, sehingga hari ini kita sendiri dapat menyaksikan institusi hukumpun melegalkan kekerasan dan penganiayaan atas diri saudara Basri didalam tahanan,” ungkapnya.

Darjo juga mengungkapkan, persoalan Basri tidak hanya merupakan isu lokal akan tetapi sudah masuk menjadi isu nasional, bahkan internasional. “Gambaran dari apa yang saya katakan ini, menurut jadwal, kami sudah dikonfirmasi oleh “Comisioner For Human Rights” akan tiba pada Tanggal 8 Mei di Mataram dan akan melakukan Investigasi terhadap kasus kekerasan yang dilakukan terhadap komunitas Masyarakat Adat Mekaki Pancoran Salat,” katanya.

Kepada wartawan, Basri membenarkan bahwa terhadap dirinya yang mengalami tindakan kekerasan oleh oknum aparat kepolisian yang dipesan oleh kepentingan perusahaan PT.Teluk Mekaki Indah untuk menghabisi dirinya. Basri mengungkapkan, pada tanggal 13 ia ditahan dikamar nomor 18 kemudian pada malam hari ia didatangi dua orang kemudian mulutnya dibungkam dan matanya ditutup, lalu ia dibawa ke kamar tikus dan disiksa untuk dihabisi sesuai perintah.

Kondisi fisik Basri pasca penyiksaan saat ini diakuinya sering mengalami sesak napas, sakit kepala. Ia juga mengungkapkan saat ini membutuhkan seorang dokter untuk memeriksakan dirinya diluar Lapas.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !