Pengurus STN Bima: Nuskin, Arif Bugis, Jego, Imam (dari kiri ke kanan)

Bima, MN – Serikat Tani Nasional (STN) Kabupaten Bima mendorong pilkada serentak 2020 menghasilkan kepala daerah pro rakyat, yang berpihak pada program kerakyatan dan penyelesaian persoalan pokok rakyat.

“Hemat kami, pilkada (pemilihan kepala daerah) boleh saja dibuat heboh, seheboh-hebohnya mungkin. Namun kita tidak boleh melupakan persoalan pokok yang dihadapi masyarakat,” kata Ketua STN Bima, Nuskin, Jumat (31/1/2020).

Semua masalah pokok masyarakat, sebutnya, tidak mampu diselesaikan dengan cara sumbang-menyumbang, tidak dengan mencaci maki, membenci, menghujat, berceloteh tanpa makna di media, bahkan dengan mengundang investor.

“Kita bisa menyelesaikan semua persoalan dengan membangun persatuan nasional yang kuat, dengan membangun kesadaran bergotong royong, berdiri di atas kaki sendiri tanpa ketergantungan dari investor dengan berlandaskan UUD 1945 (Pasal 33) dan Pancasila sebagai dasarnya. Dengan semua itu kita bisa mengejar impian kita menjadi daerah yang maju, adil dan makmur,” ujarnya.

Berbagai persoalan pokok yang dihadapi masyarakat saat ini, disampaikan Nuskin bersama Arif Bugis, Jego, dan Imam, yaitu ada banyak petani di berbagai desa mengeluh atas mahalnya harga dan langkanya pupuk subsidi dan obat-obatan. Ditambah lagi musim panas tidak kunjung usai yang mengakibatkan petani gagal tanam dan gagal panen.

Tidak sampai disitu, lebih jauh diungkapkan STN Bima, persoalan masyarkat miskin juga tidak bisa menikmati pelayanan kesehatan yang baik, lantaran tidak memiliki BPJS. Kemudian masih banyak anak bangsa tidak mengenyam pendidikan secara merdeka.

Banyak persoalan pokok masyarakat, menurut pengurus STN Bima ini, harus disuarakan lebih kencang lagi untuk kepentingan masyarakat dan daerah.

“Perilaku ASN tidak senonoh, pemerintahan menjadi pelayan senjati investor, mahalnya gas elpiji 3 kg, mahalnya minyak tanah, kriminalisasi gerakan rakyat, serta tidak demokratisnya setiap pelayanan rakyat, namun kita lupa menyuarakan lebih kencang atas persoalan tersebut,” ujarnya.

Ditengah kesengsaraan masyarakat tersebut juga, disebutkan STN Bima, para politisi mulai menebarkan kebencian, mencaci maki antar sesama, mengumbar janji akan memperbaiki nasib rakyat. Rakyat ingin menggantungkan nasib kenegaranya namun pemerintahannya justru menjadi pelayan resmi investor dengan alasan kehadiran investor justru akan meningkatkan kesejahteraan sosial.

“Kemunculan figur-figur borjuasi di pilkada kabupaten Bima untuk siapa?. Benarkah untuk Rakyat?. Atau justru akan menjadi pelayan sejati para investor?,” ujarnya. Dengan adanya pilkada 2020, menurutnya, justru harus menjadi pendidikan politik bagi semua orang dengan mendorong program-program kerakyatan yang mampu menjawab keresahan rakyat di segala sektor.

Kabupaten Bima yang dikenal dengan daerah agraris, kelautan, dan lain-lain, sungguh menjadi ruang bagi kaum muda mengintervensinya dengan mendorong penyelesaian persoalan pokok rakyat.

“Ingat, dulu kita bersatu karna dengan persamaan nasib dan cita-cita, tapi sekarang jangan bersatu karna membenci satu orang, kelompok dan golongan, maka bersatulah untuk kesejahteraan. #UbahCaraPandang #MenangkanPancasila,” tandasnya.

(mn-10)



Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !