Nina dari Samdhana Institute dan Albert dari Lembaga SEI Swedia saat memberikan materi tentang perubahan iklim dunia di Pondok Pesantren Haramaen Putra, Narmada, Lombok Barat

Mataram, MATARAMnews – Saat ini dunia global tengah menghadapi isu besar yang sama yakni global warming. Pulau-pulau kecil tak urung mejadi sasaran dengan potensi kerusakan yang signifikan bila dampak global warming ini tidak segera diatasi. Isu-isu tentang dampak global warming maupun isu-isu lain yang lazim ditemui di wilayah kepulauan menjadi topik utama pembahasan diskusi lokakarya lapangan Kongres warga SUKMA yang berlangsung hari ini, Selasa (22/05).

Pada diskusi yang berlangsung di Pantai Lekoq, Kabupaten Lombok Utara, perwakilann raja Negeri Haruku, Zefnat Ferdinandus, menyampaikan pengalaman di pulaunya yang terus menjaga kearifan lokal sebagai upaya untuk melestarikan wilayah pesisir.

Hal yang sama juga diungkap LMNU yang terus mendorong terjadinya revitalisasi nilai lokal untuk mengadaptasi perubahan iklim yang telah mengakibatkan banyak kerugian bagi masyarakat pesisir KLU (Kabupaten Lombok Utara) seperti terjadinya abrasi pantai, banjir lautan, sumur warga mejadi asin dan payau, dan lain sebagainya. Forum SUKMA, untuk itu diharapkan dapat membuat rekomendasi kelembagaan yang kuat dan menjadi ruh pusat pemberdayaan warga yang bernuansa lokal.

Selain masalah perubahan iklim, dalam diskusi SUKMA yang berlangsung di Pondok pesantren Haramaen Putra, juga disampaikan bahwa masyarakat kepulauan juga perlu memperhatikan mainstream para pengusaha lokal maupun internasional yang cenderung mengambil setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi, namun justru sangat merusak dan merugikan masyarakat.

Untuk isu tersebut, dapat disebutkan beberapa daerah, misalnya, yang memiliki potensi pariwisata, seperti gili-gili yang ada di NTB ataupun Alor di Maluku. Selain itu, perusakan terhadap situs-situs budaya seperti hilangnya arca-arca di Bali pun kerap terjadi akibat dijual ke luar negeri. Di Mutis juga dapat ditemukan satu wilayah yang awalnya gunung namun sekarang telah rata dengan tanah dan menjadi lapangan sepakbola akibat ulah pengusaha pertambangan mineral mangan yang melakukan pegerukan disana.

Masalah pertambangan tetap mencuat dalam identifikasi masalah yang berlangsung di empat lokasi. Terkait masalah ini, Wakil Bupati KLU, Najmul Ahyar, secara tegas menyatakan bahwa daerah KLU adalah daerah bebas pertambangan.

“KLU bebas pertambangan, karena kita (KLU) ini daerah kepuluan. KLU punya banyak potensi unggul selain pertambangan. Ada pariwisata, perkebunan, dan juga daerah pesisir,” ujarnya.

Menurutnya, tambang merupakan sesuatu yang memberikan dampak ekonomi besar tetapi juga memberikan dampak yang buruk juga pasca tambang. Sering juga terjadi konflik terkait pertambangan, untuk Lombok Barat saja terdapat 38 orang meninggal dalam 3 bulan terakhir akibat tambang. Jika dilihat dari kesejahteraannya, maka pertambanganpun tidak dapat menjaminnya. Di Kabupaten Sumbawa Barat, misalnya, jumlah kemiskinan terbesar justru berada di daerah lingkar tambang.

Kedepan, KLU akan menjadi daerah wisata. Kami juga berharap KLU bisa digarap juga oleh semua kementerian. Kemiskinan di KLU adalah 43,17% yang justru diatas rata-rata provinsi NTB, dan angka gizi buruk yang meningkatpun sudah mulai kami atasi. Oleh karenanya,  KLU cepat mencapai tujuan. KLU bahkan memiliki tingkat pengangguran terendah di NTB yaitu hanya 2%.

Para peserta Kongres Warga SUKMA hari ini telah seluruhnya menyebar di empat lokasi lokakarya lapangan, yakni Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Para peserta telah berangkat sejak hari Senin (21/05) sore, kecuali peserta yang akan ke Lombok Barat yang  baru berangkat ke lapangan pada selasa pagi.

Di masing-masing lokasi tersebut, para peserta akan turun langsung ke lapangan melihat bagaimana isu-isu kepulauan terjadi. Peserta di Lombok Timur akan secara khusus membahas isu Tatakelola SDA dan Ruang Hidup Masyarakat Lingkar Hutan, Lombok Tengah membahas Kelangsungan dan Matapencaharian, Ketahanan Pangan dan Kemandirian Energi. Lombok Utara membahas Tatakelola SDA dan Ruang Hidup Masyarakat Pesisir Laut dan Masyarakat Adat. Dan terakhir, Lombok Barat membahas Kebudayaan Pendidikan Riset Tatakelola Pengetahuan.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !