Abdul Gafur, S.Sos (Penulis adalah Pendamping PKH Kabupaten Lombok Utara)

Oleh : Abdul Gafur, S.Sos (Penulis adalah Pendamping PKH Kabupaten Lombok Utara)

DALAM dua tahun terakhir, Indonesia dihadapkan dengan bencana yang menyisakan duka maupun luka yang mendalam, mulai dari gempa Lombok NTB, gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah, tsunami (senyap) di Selat Sunda Banten serta banjir di Jakarta. Teranyar hingga kini bencana non alam Pandemi Covid-19 merebak dimana-mana menjangkiti sekat dan lorong-lorong geografis bernegara. Bahkan, mewabah membelah benua yang hampir terjadi di seluruh belahan dunia.

Ketika bersinggungan dengan diksi bencana, naluri kemanusiaan kita merespons dengan aksi nyata seperti berbagi bantuan (moril-materil). Demikian realita yang terjadi dikala berbagai peristiwa bencana merundungi kehidupan masyarakat di negeri ini, misalnya pada bencana gempa bumi 7.0 skala richter mengguncang Pulau Lombok (Lombok Utara) dua tahun silam, tak dinyana, kalangan yang pertama kali terjun dan memberi bantuan kepada para penyintas bencana bukanlah lembaga-lembaga pemerintahan terlebih hirarki pemerintahan di daerah dan desa. Namun, mereka yang memiliki sense kedermawanan yang tinggi terutama pemuda baik yang terhimpun dalam kelompok-kelompok relawan ataupun organisasi kepemudaan.

Dalam konteks gempa bumi 2018 merundungi Pulau Lombok (KLU), institusi pemerintahan daerah dan desa bisa dimaklumi jika tidak memberi bantuan lantaran keduanya bagian dari korban keganasan bencana tersebut.

Realitas terkini kita tengah dikoyak bencana non alam pandemi Covid-19. Menghadapi situasi gawat darurat, para pemuda bersatu dan berjibaku saling menguatkan semangat kebersamaan untuk kemudian melakukan aksi kuratif sekaligus preventif. Ikhtiar ini nampak jelas sejak awal merebaknya informasi wabah corona virus berpandemi menulari daerah ini. Terlebih setelah pemerintah melalui Satgas Covid-19 NTB merilis pasien pertama terkonfirmasi positif, para pemuda, paling tidak di tempat tinggalnya masing-masing melakukan aksi preventif pencegahan Covid-19, misalnya melakukan penyemprotan desinfektan, membuat portal, membuat tempat CTPS serta menyebarkan imbuan protokol kesehatan secara masif-intensif melalui kanal media online maupun media cetak.

Mencermati kelumit naluri kemanusiaan sekeping segmen pemuda, betapa sifat kedermawanan penting dipupuk sedini mungkin guna memperkuat otot sosial menghadapi krisis dan realitas aksidental. Keniscayaan menghadirkan kembali sifat-sifat filantropi untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19.

Mengutip laman resmi Bappenas, kata “filantropi” (bahasa Inggris: philanthropy) secara etimologis berasal dari dua kata (bahasa Yunani), yaitu philos artinya cinta dan anthropos artinya manusia. Filantropi kemudian bermakna mencintai sesama manusia, dalam arti peduli pada kondisi manusia lainnya dan menyayanginya.

Dalam ajaran Islam, praktek filantropi integral dalam tuntunan syariat Islam sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an pada surah Al-Baqarah ayat (261) atau ayat (268). Dalam ayat 261 diterangkan: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan, Allah maha luas, maha mengetahui.”

Wujud nyata filantropi dapat dilihat dari dua indikator: perilaku kedermawanan dan kepedulian membangun relasi sosial antara yang kaya dan yang miskin. Inti perilaku filantropi mendorong terwujudnya kemaslahatan bersama, public good, dan kesejahteraan masyarakat. Kenyataan kefilantropian telah dicontohkan oleh para pemuda dalam upaya penanggulangan serangkaian peristiwa bencana yang terjadi di negeri ini. Minimal wujud kedermawanan mereka tampak di wilayahnya masing-masing.

Secara empiris, kefilantropian para pemuda dalam upaya pencegahan pandemi Covid-19 saat ini terlihat pada beberapa hal. Pertama, di tingkat Dusun, para pemuda berkiprah dalam satuan gugus tugas Dusun, ikut serta secara aktif menjaga portal Dusun, membagi masker kepada warga, dan ikut serta membantu pemerintah menyosialisasikan imbauan dan anjuran terkait pencegahan Covid-19 melalui kreasi short video maupun memo-memo singkat. Kedua, di tingkat Desa, para pemuda bergabung dalam satuan gugus tugas Desa, menjalankan protokol relawan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Desa, melakukan penyemprotan desinfektan (massal) dan tugas-tugas lainnya sesuai keputusan rapat satgas Desa. Ketiga, di tingkat Daerah dan hirarki pemerintahan yang lebih atas, pemuda banyak terlibat dalam satuan gugus tugas yang dibentuk pemerintah. Keempat, para pemuda yang berafiliasi dalam LSM dan/atau organisasi kepemudaan secara sukarela dan masif bergerak melakukan aksi-aksi solidaritas.

Walhasil, serangkaian kejadian bencana alam yang mendera negeri ini pada dua tahun terakhir maupun kini bencana non alam Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) seyogianya mendorong multipihak terutama para pejabat di semua tingkatan pemerintahan bilamana mengetahui atau merasakan suatu kejadian bencana, semestinya bertindak cepat mengambil peran seraya terjun membantu penyintas bencana. Dalam situasi darurat kebencanaan (masa golden hour) masyarakat tak hanya butuh bantuan materi saja tapi kekuatan mental-spiritual adalah yang utama.

Jangan sampai menungggu bala bantuan dari donatur atau relawan baru mau turun ke titik-titik lokasi bencana. Hadir di tengah masyarakat meskipun sekadar sambung rasa sembari mengajak mereka tertawa bersama guna mengurangi penderitaan sekaligus membangun semangat mereka adalah separuh dari obat, pelipurlara duka-luka penyintas bencana.

Perlu mencontoh dan belajar dari spirit para pemuda yang bertindak cepat tanpa tedeng aling-aling membantu mengurangi duka para korban, ikut berperan secara aktif memitigasi bencana yang terjadi seperti aksi dalam menangkal pandemi Covid 19. Pewaris estapet pembangunan bangsa masa depan, setidaknya pemuda telah mengimplementasikan perannya melalui aksi filantropi sosial dengan beragam peran, berjibaku dan dejavu mencegah penyebaran pandemi wabah Covid-19 hingga terbangunnya otot sosial yang kuat demi kenyamanan, kemaslahatan dan kesejahteraan publik.