Oleh: Isnan Nursalim (Alumni Prodi Sosiologi Universitas Mataram)

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020 semula akan digelar pada 23 September 2020, namun akibat adanya pandemi covid-19 maka harus ditunda. Jika tidak ada aral melintang pilkada serentak 2020 akan digelar pada 9 Desember 2020 mendatang. Pilkada ini akan dilaksanakan di 270 daerah dengan rincian 9 Provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota. Sementara di Provinsi Nusa Tenggara Barat akan melaksanakan pilkada di tujuh daerah. Ketujuh daerah tersebut diantaranya yaitu, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara, Sumbawa, Sumbawa Barat, Kabupaten Bima dan Kota Bima.

Pilkada serentak 2020 seolah luput dari atensi publik. Menjelang pilkada serentak 2020 ruang publik masih adem ayem dari wacana, perbincangan dan diskusi terkait pilkada 2020. Perhatian publik saat ini masih tertuju pada wabah pandemi covid-19. Meskipun sempat ditunda akibat pandemi covid-19, tahapan Pilkada serentak 2020 sudah dimulai kembali pada 15 Juni 2020 yang lalu.

Seiring dengan proses tahapan, para bakal calon juga terus gencar melakukan konsolidasi dengan Parpol untuk merekomendasikannya. Bakal calon juga terus bergerilya untuk menarik perhatian masyarakat, baik perorangan maupun dengan calon pasangan. Hal ini nampak dari baliho, spanduk, selebaran dan iklan di media yang menampangkan wajah mereka.

Kota Mataram menjadi salah satu daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang akan mengikuti Pilkada Serentak 2020. Nama-nama tokoh mulai bermunculan meramaikan bursa pencalonan Wali Kota dan Wakil Walikota Mataram. Nama-nama seperti Mohan Roliskana, Putu Selly Andayani, Makmur Said, TGH. Abdul Manan, Irzani, TGH. Mujibburrahman, H. Baihaqi, H. Badrrutaman Ahda dan Bq. Diyah Ratu Ganefi merupakan nama yang digadang-gadang akan maju pada Pilkada Kota Mataram 2020.

Dalam masa pandemi covid-19 menarik untuk melihat pergerakan bakal calon Wali Kota Mataram dalam bergerilya mencari dukungan publik. Baru-baru ini Laboratorium Sosiologi Universitas Mataram merilis hasil Survai tingkat populeritas dan elektabilitas calon walikota Mataram di tengah pandemi Covid-19. Meskipun dilakukan secara online dengan margin of error sekitar 0,45%, menarik untuk melihat sejauh mana pergerakan bakal calon beserta tim sukses dalam mempengaruhi masyarakat selama pandemi.

Hasilnya popularitas Mohan Roliskana masih unggul 63,1% dibanding Putu Selly Andayani 17,3%, Makmur Said 11%, TGH. Abdul Manan 4,4%, Irzani 1,5%, TGH. Mujiburrahman 1,5%, H. Baihaqi 1,2%, H. Badruttaman Ahda 0,8% dan Bq. Diyah Ratu Ganefi sebesar 0,6%. Untuk elektabilitas juga tidak jauh beda, Mohan masih tertinggi dengan 57,5% diikuti Putu Selly Andayani 16,9%, Makmur Said 10,4%, TGH. Abdul Manan 4%, H. Baihaqi 2,9%, Irzani 1,9%, Bq. Diyah Ratu Ganefi sebesar 1,9%, TGH. Mujiburrahman 1,5%, dan H. Badruttaman Ahda 1,5%. Sementara untuk pasangan calon Mohan-Mujiburohman menjadi yang tertinggi dengan 53,1%, disusul Selly Andayani-Abdul Manan 19,2%, Makmur-Badruttaman Ahda 10,8%, Baihaqi-Ganefi 4,8%, Mohan-Badruttaman Ahda 4%, Makmur-Irzani 2,1%, dan belum menentukan sebanyak 6%.

Peradaban Layar

Covid-19 telah memaksa kita untuk menjauhi kerumunan dan melakukan social distancing hingga physcal distancing. Hal ini guna meminimalisir terjadinya penyebaran dan penularan virus covid-19. Sehingga banyak hal yang akan berubah pada kontestasi pilkada serentak kali ini. Dalam hal kampanye misalnya, bisa dipastikan akan beralih dari konvensional ke virtual/digital. Bertemu masyarakat secara tatap muka akan beralih ke tatap muka secara virtual, baliho/spanduk/iklan ke peradaban layar (virtual). Pandemi covid-19 menjadi momentum percepatan perkembangan tekhnologi komunikasi dan informasi dalam kampanye pilkada 2020.

Hal senada juga disampaikan oleh direktur media dan komunikasi Publik Politica Research and Consulting (PRC), Dudi Iskandar yang menegaskan bagi para calon yang akan maju pada Pilkada 2020 harus bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye. Hal ini karena terjadi pergeseran pola kampanye dari konvensional ke digital/virtual. Bakal calon dan tim suksesnya tentu harus jeli dalam melihat peluang ini.

Sesungguhnya kampanye secara virtual bukanlah realitas sebenarnya. Dalam peradaban layar, citra dibentuk oleh bantuan tekhnologi dan informasi yang kemudian dikonstruksi oleh masyarakat. Jean Baudrilard (1983) seorang sosiolog asal Perancis menyebutkan, gagasan virtual pada dasarnya tentang bagaimana manusia akan dilibatkan, tanpa mengetahuinya dalam tugas pemrograman kode untuk pelenyapan secara otomatis karena sudah tidak ada lagi realitas yang asli. Realitas virtual dinilai sebagai sesuatu yang rawan untuk dimanipulasi. Bahkan pada titik tertentu, dapat tercipta hyperreality, yakni sebuah tiruan dari kenyataan yang dibuat dan ditampilkan menjadi jauh lebih baik dari kenyataan sesungguhnya.

Dalam konteks Pilkada Serentak 2020, pergeseran pola kampanye dari konvensional ke digital/virtual menjadi berkah tersendiri bagi bakal calon yang akan maju pada pilkada mendatang. Bakal calon beserta tim suksesnya harus meracik kandidat agar dikonstruksi baik oleh masyarakat. Proses konstruksi ini kemudian dilipatgandakan secara masif melalui tekhnologi komunikasi dan informasi. Kreatifitas dalam membuat konten visual mutlak diperlukan oleh tim sukses dan bakal calon kepala daerah. Sehingga publik tertarik untuk mendukungnya.

Kesuksesan bakal calon dalam mencitrakan dirinya agar dikonstruksi baik oleh masyarakat ditentukan oleh citra yang ditampilkan melalui virtual. Menurut McGinnis (1968), pemilih sesungguhnya melihat kandidiat bukan berdasarkan realitas yang asli melainkan dari proses kimiawi antara pemilih dan citra virtual. Citra yang baik dengan sendirinya akan meningkatkan popularitas dan elektabilitas, begitupun sebaliknya. Sehingga semakin dapat menampilkan citra yang baik, maka peluang untuk meraup dukungan masyarakat menjadi semaking besar.