Para undangan dan warga NU yang hadir dalam pembukaan Konferwil XII NU NTB di Duman

Lobar, MATARAMNews – Pembukaan Konfrensi Wilayah (Konferwil) Nahdlatul Ulama (NU) NTB yang dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah Duman, Kecamatan Lingsar, Lobar dari tanggal 9-11 Juli 2012. Dibuka dengan resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, HM. Nur mewakili Gubernur NTB yang berhalangan hadir.

Hadir juga dalam pembukaan Konferwil itu, Rois Syuriah PB NU Prof. DR. KH. Ishomuddin, Sekda NTB HM. Nur, Asisten I Pemprov NTB, H. Ridwan Hidayat, Kanwil Kemenag NTB H. Usman, anggota DPD RI HL. Abd Muhyi Abidin, Bupati Lobar HM. Zaini Aroni, DR. HL. Said Rupina dari Masyarakat Adat Sasak, tuan guru se-pulau Lombok dan para tamu undangan lainnya.

Setelah Sekda NTB, HM. Nur membacakan sambutan Gubernur NTB, dilanjutkan pemukulan beduk yang didampingi Rois Syuriah NU NTB, TGH.L.Khairi Adnan dan TGH. Anwar MZ, sebagai tanda dibukanya secara resmi acara Konferwil ke-XII NU NTB.

Ketua Panitia H. Sulaiman Hamid dalam sambutannya menyampaikan, “Konferwil NU NTB ke-XII ini dilakasnakan sesuai dengan rencana, sehingga acara pembukaan dapat terlaksana ini berjalan baik. “Mari kita menjaga kondisi keamanan dan ketertiban,” ungkap ketua panitia selaku penyelengara.

Menurutnya, stabilitas keamanan dan ketertiban terutama internal NU, sebaiknya dilakukan dengan musyawarah untuk mendapatkan hasil yang baik.

Sedangkan, Ketua PW. NU NTB, Ir. H. Moch. Mahfudz, MM mengatakan, kehadiran semua warga NU di acara ini sebagai bentuk kasih sayang terhadap NU secara menyeluruh. Bahkan hingga kini beberapa Ponpes telah kembali ke NU, dan secara umum warga NU masih solid, apalagi NU telah berperan aktif dalam memberikan solusi-solusi terhadap kondisi masyarakat. Disatu sisi pemerintah berperan sebagai pelopor di berbagai aspek.

“Kami ingin menegaskan bahwa jangan mencari besra di NU, namun besarkanlah NU,” tegsanya.

Sementara Tausyiah yang langsung disampaikan oleh Rois Syuriah PB NU, Prof. DR. KH. Ishomuddin mengatakan, ada beberapa faktor yang lenyapkan substansi agama, diantaranya pertama orang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, kedua Islam tidak dilaksanakan secara profesional, ketiga orang islam tidak mau belajar atas ketidak tahuannya, keempat banyak orang islam yang pura-pura tidak tahu, kelima apabila kita melarang orang yang ingin belajar tentang islam.

Dengan kondisi ini, lanjutnya maka pesantren sebagai basis NU terutama di pelosok-pelosok NTB harus terus dikembangkan, karena pesantren ada ditengah-tengah masyarakat, terutama di pelosok-pelosok. Sedangkan untuk agenda Konferwil NU NTB kami berharap agar melalui proses musyawarah untuk mufakat.  

Pembukaan Konferwil ditutup dengan do’a dipimpin oleh TGH.L. Khairi Adnan. Setelah pembukaan dan istrihat sejenak para peserta dari seluruh cabang NU se-NTB langsung mengikuti acara Bahsul Masail yang membahas terkait persoalan hukum nyongkolan, hukum shalat jamaah yang ke dua dan hukum iddah sang istri apakah di hitung sebagaimana ba’da dukhul dan qabla dukhul.

Untuk pengisi materi Bahsul Masail, diantaranya langsung oleh Rois Syuriah PBNU Prof. DR. KH. Ishomuddin, DR. HL. Said Rupina, SH, MH selaku Majelis Ada Sasak, dan juga para tokoh-tohoh Tuan Guru yang membahas hal tersebut.






Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !