Lombok Tengah, MN – Dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) Covid-19, ratusan Jamaah, santri para tuan guru alim ulama dan masyarakat dari berbagai penjuru melangsungkan doa dan istigasah dalam rangka Haul ke-2 almagfurlah TGH Ahmad Taqiyuddin Mansyur (Tuan Guru Taqiudin), paa Sabtu (10/10/2020) malam yang berlangsung di Pontren Almansyuriah Taklimusshibyan NU Bonder Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah dengan penuh khidmah.

Doa dan istighasah tersebut ini tidak hanya difokuskan di pondok pusat Bonder melainkan tersebar juga di penjuru Madrasah cabang maupun masjid yang tersebar paling banyak ditiga kecamatan Praya Barat, Praya Barat Daya dan Pujut.

Sebelum istigasah juga ditayangkan testimoni dari berbagai tokoh masyarakat, birokrat, politisi, unsur organisasi maupun tokoh masyarakat tentang pengetahuan mereka terkait sosok beliau semasa hidup.

Ketua yayasan Pontren Almansyuriah NU Bonder, Baiq Mulianah mengucapkan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut. Keluarga besar Almansyuriah bisa bersama sama mengadakan doa bersama pada saat ini.

Tidak terasa almagfurlah telah meninggalkan keluarga besar pondok pesantren. Apa yang beliau telah rintis telah diwariskan berupa sistem pendidikan tatanan kehidupan perilaku ajaran, tentu saja menjadi spirit bagi keluarga besar.

“Kami tentu sangat kehilangan. Kami yakin kami percaya beliau tidak pergi tinggalkan kami beliau masih tetap membimbing dan membina kami,”ungkap Mulianah.

“Terbukti malam ini ketika keluarga besar melangsungkan Haul II dan Harlah Pondok Pesantren ke 57 tidak disangka sangka antusias jamaah meski ditengah Covid-19. Namun kami sudah sangat meminimalisir kehadiran para jamaah,” tambahnya.

Sejak Sabtu (09/10) pagi hingga sore jamaah yang sudah terdata berziarah ke makam almagfurlah secara bergiliran mencapai 9000 orang baik dari masyarakat umum maupun dari 10 lembaga pendidikan yang dikelola di Pontren Almansyuriah sendiri. Pada malam doa dan istigasah juga berlangsung di 30 titik diluar pondok secara virtual dengan jumlah jamaah sekitar 7000 an orang.

“Terimakasih kepada bapak ibu yang berkenan hadir memberikan doa tulus ikhlas mendoakan beliau,” ucap rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Mataram itu.

Dengan nada sedih Mulianah mengingatkan pesan pesan penting yang sangat berharga sejak mendampingi almagfurlah 23 tahun baik dalam mengelola sistem pendidikan di Pondok Pesantren maupun dalam pengembangan ekonomi masyarakat yang diwariskan kepada semua jamaah. Beliau selalu hadir memberikan semangat ketika dalam suasana kegaualan putus asa didalam perjuangan.

Satu kalimat yang selalu dipegang teguh dalam mengelola lembaga pendidikan baik di Pontren maupun di kampus UNU.

“Apa bedanya anak yang kamu harapkan terjadi baik di anakmu maka itu pula yang harus terjadi baik kepada anak orang lain. Apa bedanya anak kamu dengan anak orang lain yang dititipkan ke kita semuanya merupakan titipan Allah. Kalau kamu memimpikan anak mu menempuh pendidikan tinggi maka itu juga yang harus kamu pikirkan untuk anak orang lain karena sama sama tanggungjawab amanah Allah,” sebutnya.

Pesan kedua saat malam terakhir dimana sekitar pukul jam 12 malam Mulianah menjadi saksi pesannya dalam diskusi sepulang dari masjid sekitar pukul 21.00 malam dimana betapa almagfurlah memimpikan sebagai jamaah nahdiyin memiliki satu cara pandang, NU harus diimplementasikan dalam seluruh harakah maupun ijtimia’iyah. Almagfurlah sangat mencita-citakan NU di NTB bisa bekembang dan maju bukan saja secara organisasi melainkan dalam prinsip hidup.

“Walaupun lima meter tingginya surban orang itu mengajak kamu keluar dari NU maka jangan pernah kamu ikut,” katanya.

Ketua Tanfiziah PWNU NTB, TGH Masnun Tahir mengatakan banyak hal yang diajarkan diwariskan oleh almagfurlah. Almagfurlah orang pemikir, pejuang, penulis maupun khatib. Itu terbukti karya berupa tulisan dipamerkan di acara Haul tersebut.

Dalam prinsip hidupnya beliau mengingatkan agar selalu menyebarkan kebaikan kebaikan meski dalam satu tulisan Sebab hal itu akan menjadi saksi meski orang itu sudah meninggal.
Almagfurlah pun mengajarkan ilmu bagaimana memperjuangkan NU dan kemanusiaan. Konsep kemanusiaan almagfurlah melampaui batas. Pergaulan dalam hidup tidak hanya sesama hamba Allah melainkan juga sesama hamba Tuhan.

“Meski kita berbeda dalam hidup tapi ada prinsip kemanusiaan persaudaraan diatas segala galanya,” ucap Masnun menyampaikan prinsip hidup almagfurlah.

NU begitu kehilangan almagfurlah. Namun demikian NU meyakini meski secara fisik tidak ada tetapi ruh hadir bersama jamaah semuanya.

“Atas nama NU kami tetap merasa kehilangan. Wapualun secara fisik tidak ada tetapi secara ruh beliau hadir,” pungkasnya.

Dalam acara tersebut ceramah diisi putra bungsu almagfurlah langsung dari Maroko. Sambutan Kakanwil NTB, KH Zaidi Abdad. Diakhir acara dilakukan pelantikan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Almansyuriah NU Bonder dikukuhkan.

Diketahui dalam acara itu dihadiri oleh sisten III Pemrov NTB, HL Syafi’i, Rais Syuriah PCNU TGH. Ma’rif Makmun, Ketua Tanfiziah PCNU Lombok Tengah HL. Pathul Bahri, Banom NU dan jamaah yang berkesempatan hadir.

(mn-05)