Sri Sudarjo, jalani pemeriksaan penyidik Polda NTB

Terungkap, Dari Kasus Masyarakat Mekaki, Mengarah Kepada Tukar Guling Fiktif


Mataram, MATARAMnews – Pemeriksaan terhadap Sri Sudarjo yang ditetapkan sebagai tersangka langsung oleh penyidik Polda NTB, pada Rabu (18/7/2012). Sri Sudarjo sendiri dilaporkan PT.TMK ke Polda NTB dengan tuduhan pemerasan dan pencemaran nama baik. Usai pemeriksaan, kepada wartawan Sri Sudarjo menceritakan bahwa arah pertanyaan penyidik terkait laporan terhadap dirinya, hingga keluarnya pertanyaan seputar tukar guling tanah, “yang ditanyakan, ya saya tidak pungkiri, artinya memang betul saat itu kami yang mengungkap kasus pembunuhan ini, dan yang mengungkap kasus pembantaian, perampasan serta tukar guling piktif,” katanya.

Ia juga mengatakan, hari ini (Kamis,red) akan mengungkap bukti-bukti tentang terjadinya tukar guling fiktif yang ada di Gunung Tuna, yang membuktikan memang HGB 01 itu palsu, begitu juga dengan rekomendasi Gubernur tahun 1997 serta yang meminta kepada gubernur NTB saat ini, karena sesuai dengan peruntukan perijinan.

“Disanakan ada perpanjangan waktu karena izinnya 5 tahun, namun sampai hari ini tidak dilakukan, dan pemerintah harus mengeluarkan izin itu. Sekarang bagaimana kita tidak mengatakan perampasan, disitu ada tukar guling fiktif yang merugikan negara sebesar 312 Ha yang lokasinya digunung Tunak Loteng dan 500 Ha berupa kawasan wilayah Mekaki yang ditempati oleh penduduk,” jelas Sri Sudarjo.

Tukar guling yang diatur itu, lanjutnya, pertama pengusaha semestinya menyiapkan lahan yang sama luasnya dengan lahan yang ditukar guling, kedua pengusaha itu wajib menyiapkan dana untuk mereboisasikan kembali hutan tersebut.

Sri Sudarjo juga membeberkan hasil penelusuran yang dilakukannya beberapa hari yang lalu, ternyata Gunung Tuna itu adalah perkampungan penduduk, disana terdapat tiga kampung, diantaranya kampung Bumbang, kampung Akar-Akar dan kampung Kesik di dusun Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
“Tinggal bagaimana sekarang pihak yang berwenang baik kepolisian dan kehutanan rame-rame melakukan investigasi tentang persoalan piktif asset negara itu, jika benar merupakan asset negara,” cetusnya. Menurutnya, alasan tukar guling itu sebetulnya hanya untuk mengeluarkan masyarakat adat Mekaki dari tempatnya dan hal itu tidak dipungkiri.

Sementara, penetapan dirinya selaku tersangka diakuinya sangat bagus, kerana dari proses pemeriksaan yang dilakukan penyidik terhadap semua kasus, baik kasus pembunuhan, pembantaian dan kemudian mengarah kepada tukar guling piktif akan menjadi lebih terang benderang, “sehingga akan lebih cepat menentukaan langkah dalam menyelesaikan proses carut marutnya persoalan persekongkolan perusahaan tersebut dengan aparat maupun pemerintah,” harapnya.

“Jika setelah penyidikan ini, kami yang telah mengungkap kasus pembunuhan dan pembantaian terhadap masyarakat Mekaki, kemudiaan menjadi tersangka, maka kami simpulkan, apakah ini memang hukum yang berlaku di negara ini? Wallahu’alam,” kata Sri Sudarjo seraya kembali masuk ke ruang penyidik Polda NTB.


(kon-ln)





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !