Wilayah kegiatan PT. Bunga Raya Lestari (PT. BRL)

Sumbawa, MATARAMnews – Mesin Crusher (Pemecah Batu) dan AMP (Pengolahan Aspal) yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sumbawa, ternyata tidak memiliki izin dari KPPT Sumbawa. Seperti yang dilakukan perusahaan rekanan milik PT. Bunga Raya Lestari (PT. BRL)  yang memiliki 3 titik operasi di Lunyuk, Lenangguar dan Moyo Hulu, yang telah berlangsung setahun lamanya. Selain PT. BRL kegiatan serupa juga dilakukan perusahaan crusher PT. Lancar Sejati (LS) di Jompong Kecamatan Plampang yang hingga kini dipersoalkan warga setempat.  

Perusahaan crusher dan AMP milik kedua perusahaan tersebut ngotot tetap beroperasi, walau tidak mengantongi izin. Tentu saja, Kepala KPPT Sumbawa, Zulkifli, dibuat gerah oleh ulah oknum kontraktor tersebut. Dia mengakui bahwa perusahaan crusher dan AMP tersebut sejauh ini hanya mengantongi rekomendasi dari BPM-LH, Dinas Pekerjaan Umum dan Distamben Sumbawa. Sementara KPPT sebagai intansi yang berkompeten menerbitkan ijin, belum memberikan ijin sama sekali.

Kendati demikian, lanjut Zulkifli, yang bertanggungjawab terhadap kegiatan perusahaan-perusahaan itu adalah Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben).

“Kami hanya mempelajari rekomendasi dari instansi teknis. Persoalan ini menjadi kewenangan instansi teknis,” ujarnya.

Terhadap sanksi yang akan diberikan lantaran proses ini telah berlangsung hampir setahun, Zulkifli mengaku masih kebingungan. Pasalnya, sejauh ini belum ada legalitas kegiatan perusahaan.

“Tidak ada perjanjian sebelumnya dengan perusahaan itu. Apalagi mengenai kontribusi ke PAD,” ungkapnya. Sehingga, sulit baginya untuk mendongkrak prediksi pendapatan bagi perizinan pada institusinya.

Di satu sisi, perusahaan-perusahaan tersebut terus mengeruk bahan galian C di Sumbawa. Di sisi lain, terjadi kerusakan lingkungan di wilayah beroperasinya mesin tersebut. Ironisnya,   kontribusi atau pendapatan bagi daerah tidak ada sama sekali.


(kon-ln-wartapost-sumbawa)





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !