Ilustrasi: anak-anak belajar di rumah di masa pandemi

Oleh: Dewi Ayu Lestari (Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis, jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang)

Hampir sepuluh bulan ini dunia dihadapi dengan wabah Virus Corona (Covid-19) yang berasal dari kota Wuhan, China. Virus yang menyerang sistem pernafasan ini menular dengan sangat cepat dan hanya dalam hitungan bulan sudah menyebar dipenjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Penyebaran yang cepat tersebut membuat beberapa negara di penjuru dunia menerapkan kebijakan lockdwon untuk mencegah penyebaran virus.

Negara Indonesia pun memberlakukan sistem pencegahan penyebaran virus tersebut yang disebut sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sistem PSBB ini mengharuskan masyarakat untuk melakukan pembatasan kegiatan di luar rumah. Pembatasan tersebut mengakibatkan masyarakat bekerja di rumah. Sistem pendidikan pun diwajibkan untuk kegiatan pembelajaran di rumah dengan sistem daring atau online.

Di Indonesia sistem daring sudah diterapkan dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi sejak bulan Maret tahun lalu. Awalnya sistem daring diprediksikan akan berakhir pada akhir semester ganjil 2020/2021. Pada konferensi pers digital, Jumat (20/11/2020) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, mengatakan akan mengizinkan sekolah tatap muka yang dimulai pada awal semeter genap 2020/2021 dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Namun, rencana tersebut dibatal karena tingginya kasus Covid-19 di Indonesia yang menembus 882.000 kasus, hingga pada tanggal 16 Januari 2021 kasus Covid-19 semakin meningkat sebanyak 14.224 kasus.

Oleh karena itu, sistem daring diperpanjang oleh Menteri Pendidikan. Namun, perpanjangan sistem ini menuai pro dan kontra masyarakat. Meskipun pemerintah telah memberikan sarana dan pra-sarana pembelajaran daring, seperti pemberian kuota internet gratis untuk siswa, mahasiswa, maupun guru dan dosen. Banyak pihak yang mengeluhkan sistem pembelajaran daring ini.

Tidak hanya siswa dan mahasiswa yang mengeluhkan sistem daring ini. Akan tetapi, wali murid dan guru ikut serta mengeluhkan sistem daring. Terutama wali murid siswa tingkat Sekolah Dasar (SD). Apalagi pada siswa SD kelas 1. Salah satu wali murid kelas 1 MI Attaqwa mengatakan, “Anak pertama masuk sekolah kelas 1. Tapi anak dari awal tidak mengenal lingkungan sekolah, guru, maupun teman sekolah. Selian itu, saya wanita berkarir jadi tidak dapat mendapingin anak dengan maksimal dalam mengerjakan tugas sekolah. Jadi saya bingung dengan pembagian waktu saya kerja dan mendapingi anak. Saya juga memiliki anak dua yang sekolah jadi lebih bingung lagi untuk mengajari anak jika tidak paham dalam pelajaran.” ucap wali murid.

Guru pun mengeluhkan pembelajaran daring ini. “Saya jadi kurang mengenal murid kelas 1 karena sistem daring ini. Lebih ribet dan memakan waktu banyak untuk memberikan tugas dan menggoreksi tugas siswa. Apalagi saya guru yang mendekati purna, jadi saya sedikit kesulitan tentang IT.” kata guru SD Kalipuro.

Walaupun dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau semua pihak harus tetap mengikuti sistem pembelajaran daring ini. Selain itu, masyarakat harus selalu mengikuti protokol kesehatan sesuai dengan anjuran dari pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 agar segera membaik.