Kasi Pengurangan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, I Made Wibisana Gunaksa, SSTP

MATARAM– Pengolahan sampah organik andalan, hasilkan rupiah tuntaskan masalah (PESONA HARUM) ikhtiar dalam mengelola sampah organik yang merupakan bagian dari Gerakan Menuju Lingkungan dengan Sampah Nihil (LISAN) dalam mewujudkan NTB Zero Waste.

“Sampah organik berjumlah lebih dari 60 persen dari keseluruhan sampah yang dihasilkan. Ini menjadi suatu peluang dalam menyikapi permasalahan sampah di Kota Mataram,” kata Kasi Pengurangan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, I Made Wibisana Gunaksa, SSTP., kepada media ini, Jumat (4/6/2021).

Kasi Pengurangan Sampah DLH, Wibi sapaan akrabnya, melihat sampah organik saat ini lebih seksi. Pasalnya, banyak pilihan cara pengolahan sampah organik, dan yang perlu digaris bawahi bahwa 40 persen sampah organik dapat diselesaikan dengan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang biasa disebut dengan maggot, sehingga BSF menjadi prioritas dalam menyelesaikan sampah organik, sebagai upaya meningkatkan persentase pengurangan sampah.

Dalam PESONA HARUM, dijelaskan Wibi, ada beberapa cara pengolahan sampah organik yang dapat diterapkan oleh masyarakat yaitu Maggot BSF, Komposter Bag, Lubang Sisa Dapur, Biopori, Fermentasi Aerob maupun Anaerob, Takakura, Tong Pemakan Sampah, Biogas maupun Biodegester. Masyarakat diberikan pilihan untuk mengolah sampah yang mereka hasilkan, sesuai dengan karakter masyarakat sekitar. Mereka bisa memilih satu atau lebih cara pengolahannya.

Baca Juga:  Telkom NTB 'Clean Up' di Rinjani, Ikhtiar Zero Waste untuk NTB Gemilang

“Diharapkan dengan banyak pilihan, semakin banyak masyarakat yang berperan serta dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Dijelaskan Wibi, ada beberapa kelebihan maggot dibandingkan metode pengolahan lainnya, maggot dapat memakan sampah organik terutama sisa makanan dalam waktu cepat, 1 kilogram maggot dapat memakan 2 sampai 5 kilogram sampah organik dalam satu hari.

“Maggot dapat dijadikan pakan unggas dan ikan, proteinnya sangat tinggi, bisa diberikan langsung ke ternak, dikeringkan terlebih dahulu ataupun dibuat menjadi pelet. Kotoran maggot merupakan pupuk organik yang sangat bagus, dan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman,” jelas Wibi.

Menurutnya, melalui PESONA HARUM, tempat pemeliharaan maggot disinergikan dengan kolam ikan dan sayur organik, yang berarti program ini mendukung peningkatan kualitas ketahanan pangan.

Lebih lanjut dijelaskan Kasi Pengurangan Sampah DLH, di Kota Mataram sendiri ada beberapa pilot project PESONA HARUM, baik yang timbul dari kesadaran masyarakat sendiri maupun inisiasi dari pemerintah dan dibantu oleh beberapa pihak atau lembaga yang mempunyai kepedulian seperti DASI, Rumah Maggot Lombok, Komunitas Nol Sampah, STIKES YARSI, Bank Sampah LISAN, TP PKK dan GOW Kota Mataram, Kelurahan Dasan Cermen, Kelurahan Mataram Barat, Kelurahan Mataram Timur, Kelurahan Pejanggik, dan Kelurahan Dasan Agung Baru, telah memulainya dan diharapkan dapat ditiru oleh Kelurahan lain.

Baca Juga:  Industrialisasi Zero Waste, NTB Mampu Mengelola Sampah Plastik Jadi Solar
Foto: Black Soldier Fly (BSF)

Pemerintah Kota Mataram, kata Wibi, melalui Dinas Lingkungan Hidup siap memberikan sosialisasi maupun pelatihan terkait hal tersebut. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, harus mendapatkan dukungan dari masyarakat, swasta, BUMN, praktisi, dunia usaha dan dunia pendidikan.

“Harapan kami, semakin banyak kelompok masyarakat di lingkungan atau kelurahan maupun lembaga yang terlibat, maka semakin banyak sampah organik yang dapat kita kelola, sehingga angka pengurangan sampah pun meningkat,” ujarnya.

Artinya, menurut Wibi, semakin sedikit juga sampah yang harus dibuang ke TPS maupun TPA, pelayanan pengangkutan sampah bisa lebih maksimal, penghematan APBD, memperpanjang usia TPA, mengurangi dampak negatif gas metan yang ditimbulkan penumpukan sampah organik di TPA, dan meningkatkan ekonomi kelompok masyarakat pengelola (KSM, Bank Sampah, Komunitas, Pokja, dan lainnya).

“Singkatnya, PESONA HARUM adalah pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah organik sebagai bagian dari Gerakan menuju LISAN,” pungkasnya.

(mn-red)