MATARAM- Seorang mantan nahkoda kapal berinisial A warga Dusun Kaung Atas Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) terpaksa harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Pasalnya A yang saat ini yang sudah beralih profesi menjadi pedagang tersebut ditangkap dalam kasus kepemilikan ribuan bahan peledak jenis detonator.

Penangkapan terhadap A yang juga residevis dalam kasus yang sama tersebut dilakukan oleh tim gabungan dari Dit Polairud Polda NTB bersama Direktorat Polisi Air Baharkam Polri dalam sebuah penggrebekan di wilayah Labuan Lombok Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur (Lotim) pada Rabu (2/6/2021) malam.

Direktur Polairud Polda NTB Kombes Pol Kobul Syahrin Ritonga, mengatakan bahwa penangkapan terhadap A dilakukan di losmen di wilayah Labuan Lombok Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.

“Dalam penggrebekan tersebut berhasil diamankan barang bukti berupa 12 kotak detonator, masing masing kotak berisi 100 detonator, berjumlah 1200 detonator, uang 175 ribu dan Hp serta sim card, ” ucapnya pada wartawan Senin (7/6/2021) pagi.

Baca Juga:  Ditresnarkoba Polda NTB Perkuat Zona Integritas Menuju NTB Zero Narkoba

Menurutnya bahwa berdasarkan pengakuan pelaku BB tersebut di beli di pulau Jawa dan rencananya akan dipergunakan diperarairan NTB.

“Detonator ini akan dirakit untuk bom ikan, ” ungkapnya berdasarkan pengakuan pelaku.

Namun lanjutnya bahwa apa yang menjadi keterangan dan pengakuan pelaku akan terus diproses dan akan dilakukan pembuktian.

“Apakah ini benar untuk dirakit bom ikan atau untuk kegiatan lain tapi kami terus penyelidikan.”terangnya.

Sementara itu identitas penyuplai detonator sendiri sudah dikantongi, sedangkan
BB iakan dibawa ke Jakarta.

Ditambahkan oleh Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto, mengatakan bahwa pelaku merupakan seorang residivis dalam kasus yang sama yaitu kepemilikan detonator.

“pelaku merupakan seorang residivis,”ucapnya.

Baca Juga:  Percepat Vaksinasi, Polda NTB Bentuk Drive Thru Vaksin Covid-19

Menurutnya bahwa pelaku pernah ditangkap pada tahun 2010 oleh bea cukai ketika menjadi nahkoda karena membawa bahan peledak sebanyak 1800 karung dengan berat 25 kg.

Kemudian pada Desember 2018 diatas kapal saat menyeberang Poto Tano- Kayangan, pelaku diamankan karena membawa dan menyimpan detonator di kok sepeda motor sebanyak 22 kotak berisi 2200 buah detonator.

“pelaku sempat menjalani hukuman penjara 1 tahun 6 bulan pada tahun 2010 dan tahun 2018 selama 6 bulan penjara, “ungkapnya.

Kepada wartawan saat ditanya asal detonator yang diamankan oleh petugas, pelaku mengaku bahwa detonator tersebut diperoleh dengan cara dibeli dari seseorang diwilayah Surabaya.

” Saya beli di Surabaya harganya Rp 1,5 juta dan saya jual Rp 1,7 juta, saya dapat untung hanya Rp 200 ribu saja, “ucapnya santai dengan tangan terborgol.

(mn-07)