Aktivis : Ada Upaya Sistimatis, Pasung Pemberantasan Korupsi

MN, MATARAM –Aksi teror terhadap Komisioner KPK pada 9 Januari 2019 lalu, dianggap merupakan upaya sistimatis memasung pemberantasan korupsi. Para aktivis anti korupsi di NTB meminta agar aksi teror yang sudah jelas merupakan public enemy harus ditangani serius oleh aparat penegak hukum dengan mengungkap pelaku dan dalang dibalik aksi teror tersebut.

Dari catatan aktivis anti korupsi yang tergabung dalam Jaringan Peradilan Bersih NTB, bahwa punggawa KPK telah mengalami terror setidaknya sebanyak 5 kali dan selama ini belum pernah terungkap pelaku aksi terror tersebut.

Direktur Samanta, Dwi Sudarsono mengatakan bahwa ada kekhawatiran nantinya aksi terror serupa akan terulang terus jika aparat penegak hukum tidak serius mengungkap pelakunya.

“Rangkaian aksi terror tersebut patut diduga kuat terkait dengan koruptor yang melibatkan para pejabat
teras dan elit politik,” ucap Dwi dalan rilis yang diterima media ini, Jumat (11/1/2019) petang.

Menurut dia, aksi teror paling fenomenal dialami penyidik senior KPK, Novel Baswedan yang hingga kini belum terungkap pelakunya. “Apakah hal ini menjadi sinyal aparat penegak hukum tidak mampu mengungkap aksis terror tersebut,” ujarnya dengan penuh tanda tanya.

Sementara itu koordinator Jaringan Peradilan Bersih NTB, Amri Nurhadi SH,mengatakan kasus terror tidak hanya dialami KPK, tetapi juga kerap dialami para pegiat anti korupsi yang bertujuan melemahkan pemberantasan korupsi.

Oleh karena itu, Dwi menegaskan bahwa pemerintah dengan segenap aparatnya harus serius bertanggung jawab melindungi KPK dan pegiat anti korupsi, karena korupsi merupakan tindak pidana kejahatan luar biasa. Daya rusak korupsi telah memberikan efek domino dari gangguan perekonomian negara, menghambat upaya penanggulangn kemiskinan, mengancam demokrasi, melemahkan penegakan hukum hingga meruntuhkan kewibawaan pemerintah.

Alumni Fakultas Hukum Unram ini juga mengajak semua pihak baik pemerintah dan publik harus memberikan dukungan kepada para punggawa KPK dan gerakan anti korupsi. Oleh sebab itu, jaringan peradilan bersih NTB dengan tegas menyatakan sikap “Kami tidak takut ancaman koruptor”.

“Pernyataan sikap tersebut harus menjadi semangat untuk terus menggelorakan gerakan melawan koruptor dan upaya pelemahan pemberantasan korupsi,” pungkasnya. –(mn-07)