Hasil KF Desa Bentek Tak Penuhi Harapan

MATARAMnews (KLU) – Hasil pelaksanaan pembelajaran keaksaraan fungsional sebagian besar di wilayah Desa Bentek tidak memenuhi harapan. Hal ini dikatakan Adianto, salah seorang pengajar KF Desa Bentek.Menurutnya, masih banyak Warga Belajar (WB) belum lancar membaca denga baik. Sehingga proses belajar mengajar masih banyak yang perlu ditingkatkan kedepan. Sebagian WB belum memenuhi kriteria kelulusan seperti membaca, menulis, dan berhitung. Apalagi kelulusan para WB dibuktikan dengan penerimaan ijazah. Masih jauhnya tingkat keberhasilan KF ini membuat wilayah desa setempat mesti mendapatkan program KF selanjutnya.

{xtypo_info} Foto : Adianto Tutor KF KLU {/xtypo_info}

“Tingkat keberhasilan KF masih belum memenuhi harapan kita semua. Ini karena masih ada WB yang belum lancar membaca dan menulis. Masalah ini harus menjadi perhatian serius semua kalangan, bagaimana pelaksanaanKF berikutnya bisa membuahkan hasil sesuai target,” ujarnya pada Mataramnews Sabtu, (12/11/2011).

Ia menambahkan, dari 20 orang yang diajarkannya hanya 14 orang saja yang lancar membaca dan menulis, sedangkan sebagian lainnya belum lancar sesuai target yang diinginkan. Sementara untuk berhitung rata-rata WB belum lancar.

Di kelompoknya, tutur Adi, tingkat keberhasilannya baru mencapai 86 persen atau sekita 16 orang dan mereka yang masuk dalam hitungan persentase itu berhak mendapat ijazah karena sudah memenuhi kriteria ketuntasan sesuai pedoman yang ada.  Sementara 4 orang lainnya atau sekitar 14 persen belum berhak memperoleh ijazah bila dilihat dari pedoman penilaian kelulusan. Walau begitu, ia tidak tahu apakah 4 orang itu lulus atau tidak. Sebab, masalah ijazah menjadi otoritas penuh Pusham Fakultas Hukum Unram yang bekerjasama dengan bidang pendidikan luar sekolah Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Lombok Utara selaku pihak yang membuat dan mengeluarkan ijazah.

Ditanya soal proses pembelajaran, ia mengatakan, bahwa proses belajar mengajar berlangsung lancar sesuai jadwal. Para WB rata-rata sopan, ramah dan disiplin saat belajar. Namun, ia belum bisa mengidentifikasi penyebab masih adanya WB yang belum bisa membaca. Meskipun para Warga Belajar tampak serius mempelajari  materi-materi yang diajarkan. “Mungkin itu hukum alam, karena dalam hidup mesti ada yang berhasil dan ada yang kurang berhasil bahkan gagal sekalipun. Itulah kehidupan dunia,” tuturnya.

Batu Ringgit dan Baru Murmas, masih banyak WB yang belum bisa membaca meski para tutor setempat telah menempuh berbagai cara dalam mengajar. Namun kesulitan-kesulitan sering kali muncul, seperti tidak konsennya WB, banyak WB melamun saat belajar, banyak WB yang lupa dan lain-lain.

Nur Andayani, Koordinator KF Desa Bentek, membeberkan hal ini saat ditemui di rumahnya. Proses belajar KF di wilayah-wilayah itu memang seperti itu adanya. Hambatan utama para tutor terletak pada sulitnya menyeting suasana belajar yang nyaman dan kondusif. Dampaknya, capaian KF masih jauh dari harapan. Begitu di Dasan Bangket dan Todo. Meskipun proses pembelajaran di kedua dusun tersebut berjalan lancar tapi masalah tetap saja muncul . Di Todo ada WB yang tamatan SMP. Ini menyalahi aturan yang ada terutama terjadi di Lowang Sawak. “ Pelaksanaan KF di Lowang Sawak salah sasaran. Saya tidak tahu kenapa bisa muncul masalah seperti itu. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah beri tahu tutor yang mengajar di sana.,” katanya.

Sementara itu, proses pembelajaran KF beberapa daerah di KLU sedang berlamgsung, seperti di Kecamatan Kayangan. Contohnya di Desa Santong, KF baru mulai berjalan. Hal ini diakui, Indar Febriana saat dihubungi  Ia menuturkan pembelajaran KF di Santong baru setengah perjalanan. sedangkan strategi pengajaran yang dijalankan ialah belajar secara kooperatif, dimana para WB disarankan mencari pasangan. Lalu, mereka diminta belajar materi secara bersama-sama dengan pasangannya. Tutor mengajar dengan sistem komunikasi dua arah. Ini ditempuh untuk menghindari munculnya kesan adanya jarak antara WB dan tutor. “Saya sengaja membuat sistem kooperatif dalam belajar agar WB merasa sejajar dengan lainnya hingga mereka fokus untuk belajar. Dengan cara ini, tutor memberi keleluasan pada WB agar pikiran mereka terkonsentrasi pada materi pelajaran,” ucapnya.

(Laporan : Sarjono | KLU)

Bagikan :