MataramNews – Masyarakat adat, dalam pandangan sebagian orang sering disebut sebagai masyarakat yang kumuh dan terbelakang. Padahal kenyataannya masyarakat adat memiliki banyak potensi baik dari Sumber Daya Manusia (SDM) maupun dari Sumber Daya Alam (SDA).

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Pranata Adat Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, Rianom, S.Sos, pada acara pertemuan yang dihadiri oleh tamu dari Filipina, Albert dan aktifis lingkungan hidup, Nina Dwita Santi dan Ir. Catur Kukuh dari yayasan Samdana yang berlangsung 1/10, di Balai Pusaka Sebaya Tanta Gubug adat Karang Bajo.

{xtypo_info}FOTO: Pertemuan di Balai Sebaya Tanta{/xtypo_info}

Menurut Rianom, potensi yang dimiliki masyarakat adat bila dikembangkan tentu akan mampu membawa perubahan positif, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan komunitasnya. “Lebih-lebih sekarang ini kita telah memiliki Balai Pusaka Sebaya Tanta sebagai tempat pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda”, katanya.

Terkait dengan pertemuan tersebut, menurut Rianom, para tamu yang berkunjung ingin mengetahui sejauh mana kesiapan masyarakat adat dalam menghadapi pemanasan global atau istilah bahasa adatnya disebut madang dunia. “Madang dunia ini perlu kita cari tau penyebabnya dan langkah-langkah apa yang akan dilakukan masyarakat adat untuk menghadapinya”, ungakp Rianom.

Hal ini diakui oleh Catur Kukuh yang memfasilitasi pertemuan tersebut. “Tujuan kita melakukan pertemuan ini,  ingin belajar dan menggali lebih jauh pemahaman masyarakat adat khususnya mengenai perubahan iklim atau pemanasan global, dan langkah-langkah apa saja yang dilakukan untuk mengantisipasinya”, jelas Catur.

Sementara Nina Dwita Santi dalam kesempatan tersebut mengatakan, dampak dari perubahan iklm dewasa ini sudah dirasakan masyarakat dunia, dan masyarakat adat khususnya harus mampu beradaptasi dengan kearifan lokal yang dimilikinya. “Masyarakat adat sudah mengatahui tanda-tanda itu, dan inilah yang mau kita gali”, katanya.

Menanggapi hal tersebut, H. Abdurrahman, pengurus wilayah Nahdhatul Wathan KLU menjelaskan, kejadian ini )madang dunia-red) sudah dirasakan sejak lima tahun terakhir ini, yang kondisi cuaca sulit dibaca. “Misalnya pada tahun 2010 terjadi hujan sepanjang tahun, sehingga apapun yang ditanam tidak berhasil. Sedangkan pada tahun 2011 ini, sebagian besar petani sukses memetik hasilnya, tapi harga barang atau hasil pertanian seperti padi, kacang dan lainnya anjlok”, tegasnya memberi contoh.

(Laporan: Ari | Lombok Utara)