Prospek Pengembangan Jagung di NTB

JAGUNG saat ini merupakan salah satu komoditas yang paling banyak diminta dipasaran baik regional, maupun internasional, bahkan Indonesia beberapa tahun terakhir ini trend import jagungnya terus meningkat.

Kalau dilihat dari potensi lahan, Indonesia memiliki lahan yang cukup luas, namun faktualnya kita masih belum dapat memenuhi kebutuhan jagung kita sendiri. Oleh karena itu kita perlu secara sungguh – sungguh untuk berswasembada jagung dengan melibatkan seluruh pemangku amanah (Stakeholders) secara optimal, sehingga jelas pembagian peran, siapa dan berbuat apa.

Ada beberapa hal yang membuat jagung memiliki keunggulan, diantaranya (1) Sudah menjadi tanaman utama (Main Crop) petani pada lahan kering dan tanaman kedua (Second Crop) setelah tanaman padi pada lahan sawah. (2) Dapat tumbuh pada hampir semua jenis lahan dan kondisi lahan. (3) Mudah dibudidayakan dan relatif lebih aman dari gangguan hama dan penyakit tanaman. (4) Memiliki nilai tukar yang tinggi dibanding dengan tanaman pangan lainnya.

Berdasarkan keunggulan tersebut, maka tepatlah Pemerintah Propinsi NTB telah menetapkan jagung sebagai salah satu komoditas unggulan NTB yang tertuang dalam program PIJAR, sehingga dapat mewujudkan petani yang beriman, sejahtera, dan berdaya saing.

POTENSI LAHAN

Di Nusa Tenggara Barat berdasarkan potensi lahan yang dapat ditanami jagung, lahannya dapat ditanami di setiap musim. Sehingga memiliki peluang yang besar untuk menyuplai pabrik – pabrik pakan yang ada untuk setiap saat.

Potensi lahan jagung di NTB seluas 585.425 Ha. Dapat ditanami pada musim hujan (MH) seluas 298.552 Ha, pada musim kemarau I (MK I) seluas 205.656 Ha, dan pada musim kemarau II (MK II) seluas 81. 217 Ha.

Dari tabel diatas , di NTB setiap bulan selalu ada tanaman baru sehingga akan menjamin kontinyuitas produk, sedangkan asesibilitas tergantung pada transportasi yang akan dipilh oleh perusahaan sesuai dengan kondisi masing – masing wilayah.

Dari luas potensi lahan tersebut, belum seluruhnya dapat dimanfaatkan (ditanam) yaitu 117.030 Ha yang ditanam pada tahun 2012. Namun demikian luas tanaman jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun (Lampiran 2). Jadi masih terbuka peluang besar untuk pengembangan komoditas ini kedepan. Sebagai komoditas strategis dalam pengembangan usaha, aksesibilitas, dan kontinyuitas produk menjadikan pertimbangan usaha. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :

PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS

Pada tahun 2013, berdasarkan ARAM V BPS, produksi jagung NTB sebesar 624.445 ton dengan tingkat produktifitas 54,4 Kw/Ha KP. Produksi dan produktifitas tahun terakhir cenderung meningkat, meskipun demikian masih ada celah / peluang untuk ditingkatkan baik melalui pengembangan areal maupun produktifitasnya. Produktifitas aktual masih ada peluang ditingkatkan, karena masih ada kesenjangan dengan produktifitas potensial (potensi genetis) Jagung Hibrida tersebut, melalui teknik – teknik budidayanya.

Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan oleh MICRA Foundation yang mengambil sampel di Pulau Lombok, ditemukan bahwa sebagian besar petani jagung di Lombok belum menggunakan pupuk berimbang (Urea dan NPK), sebagian besar menggunakan pupuk urea, itupun dilakukan dengan cara dilarutkan (dikocor) dan disiramkan pada pangkal tanaman. Benih yang digunakan masih 2 benih/lubang, serta jarak tanam belum sesuai dengan anjuran. Sehingga populasi tanaman /Ha kurang dari 66 ribu rumpun. Dan petani di Lombok hampir tidak melakukan perlindungan tanaman terhadap OPT serta tidak menggunakan pupuk organik. Sedangkan benih yang digunakan pada umumnya menggunakan benih jagung hibrida meski jenis atau varietasnya sangat variatif.

Semuanya itu ditengarai menyebabkan produktifitas yang dicapai masih belum sesuai dengan harapan. Dari hasil uji coba yang dilakukan oleh PT. SYNGENTA Indonesia di dua Lokasi yaitu di Priggabaya, hasil jagung yang diperoleh sebesar 21 ton /Ha kering tongkol dan di Lembar sebesar 17 ton / Ha kering tongkol, kedua lokasi ini panennya dilaksanakan oleh petugas BPS NTB. Jadi berdasarkan hal ini masih terbuka lebar upaya peningkatan produktifitas jagung.

PASCA PANEN DAN PEMASARAN

Penangan pasca panen perlu mendapatkan perhatian yang serius oleh semua pemangku amanah (Stakeholders), khususnya pada panen MH dan MK II karena masih ada hujan sehingga kualitas produk kurang memuaskan karena sarana dan prasarana seperti mesin pengering sangat terbatas. Kondisi ini membuat petani sering menjual hasil panennya dengan sistem tebasan di lahan, dengan alasan tidak memiliki fasilitas pasca panen.
Jagung yang dijual oleh petani di Lombok pada umumnya dalam bentuk tongkolan sedangkan di pulau Sumbawa dalam bentuk pipil kering panen, dan dijual pada pedagang pengumpul desa atau pada mitra usahanya. Pedagang pengumpul daya belinya terbatas, karena modal, sarana gudang, dan lantai jemur yang kecil sehingga harga yang diterima petani kurang memadai. Pada waktu – waktu tertentu petani tidak dapat menjual barangnya (jagung) khususnya pada panen MH dan MK II, karena pihak pedagang pengumpul sering mengatakan gudang sudah penuh/tutup. Hal seperti ini membuat petani kurang beruntung selain harga yang rendah pada panen MH baik karena luas panen ataupun iklim dan juga iklim pada MK II.

KEMITRAAN

Tidak bisa dipungkiri bahwa meningkatnya areal tanam jagung di NTB tidak lepas dari mitra usaha / perusahaan yang semakin banyak menempatkan kegiatannya di NTB, selain BUMN yang sudah ada seperti PT. SHS maupun PT. Pertani dengan GP3K-nya. Dalam pelaksanaannya, kemitraan ini perlu juga mendapatkan perhatian serius oleh semua pihak, karena kedua belah pihak yang seharusnya mengedepankan win – win solution (saling membutuhkan, saling menguatkan, dan saling menguntungkan), tapi tidak jarang keduanya saling merugikan diantara mereka, karena hilangnya makna kemitraan diantara kedua belah pihak.

Untuk menjadikan NTB bersaing maka perlu kembali di “Format Ulang” implementasi PIJAR ini sehingga kedepan cita – cita tersebut dapat kita wujudkan bersama karena permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan Agribisnis jagung kedepan adalah persaingan pasar yang semakin kuat sejalan dengan era Globalisasi terutama berlakunya masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dan pasar ekonomi ASEAN – CHINA, sehingga produksi, kualitas, dan kontinyuitas komoditas jagung NTB dapat bersaing dipasar nasional maupun Internasional.

MASALAH YANG DIHADAPI

Masalah yang dihadapi yaitu, (1) Penerapan anjuran teknologi produksi jagung yang dilaksanakan petani belum optimal, sehingga produksi yang diperoleh belum sesuai harapan. (2) Terbatasnya sarana dan prasarana pasca panen sehingga kualitas jagung pada musim hujan relatif rendah. (3) Pola kemitraan yang ada, Varietas jagung hibrida yang diberikan tidak seperti yang diharapkandan harga sarana produksi  yang diberikan ke petani relatif lebih tinggi dari harga pasaran. (4) Masih dijumpai petani yang terlilit ijon karena bunga yang diberikan cukup tinggi antara 5 – 10% /bulan. (5) Lemahnya / kurangnya pendampingan yang diberikan kepada kelompok tani sehingga petani menjalankan usahataninya apa adanya.

LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS KEDEPAN

Langkah-langkah strategis, (1) Meningkatkan pendampingan pada kelompok tani / Gapoktan dalam menerapkan teknologi produksi sampai dengan pasca panen agar petani berorientasi agribisnis tidak sebagai petani biasanya (Farmers as Usual). (2) Pemerintah Propinsi NTB bersama pemerintah kabupaten membentuk satgas khusus dari perencanaan program sampai dengan pengawasan pelaksanaan program, baik yang dilaksanakan melalui program Dinas maupun pihak swasta untuk mewujudkan rasa aman dan nyaman pada semua pihak. (3) Membangun sarana / prasarana pasca panen berskala kecil untuk kawasan – kawasan tertentu unt
uk memudahkan petani meraih nilai jual yang layak, khususnya di Pulau Lombok perlu mendapatkan perhatian khusus karena satu – satunya di Pulau Lombok (Pringgabaya) sampai saat ini belum berjalan sesuai yang kita harapkan sebagaimana rencana berdirinya. (3) Membuka ruang atau kesempatan kepada pelaku utama (petani) dan pelaku Usaha (pedagang) untuk memperoleh akses permodalan dengan mudah. (4) Membentuk lembaga lembaga pedagang local sebagian bagian dari MAJ, apakah dalam bentuk Asosiasi maupun Koperasi untuk menyeragamkan harga pembelian. Khususnya untuk melindungi kepentingan petani dan sekaligus kepastian pasokan kepada pihak konsumen (Pabrik Pakan), yang selama ini para petani belum memungkinkan untuk bermitra langsung dengan pabrik pakan, tapi harus melalui pedagang perantara ini.

Tulisan dari : L. M. SYAFRIARI (Pemerhati Pertanian NTB)