L.M. Syafriari ketika memberikan penyuluhan kepada kelompok tani binaanya di Lombok Tengah
- advertisement -

Merubah Paradigma Petani di NTB dengan Mengakrabkan Petani dengan Teknologi Pertanian

MENJADIKAN masyarakat petani mengenal tekhnologi pertanian yang baik, tidak cukup dengan penyuluhan, tetapi harus dikawal mulai dari pembibitan sampai dengan pemeliharaan di lapangan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Inilah salah satu yang dilakukan Micra Fondation yang digawangi LM. Safriari bersama rekan-rekannya, dengan terus berupaya menggandeng pihak-pihak yang memiliki misi sama, membangun petani lokal di NTB menjadi petani modern.

Sejak non job dari jabatan kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah, LM. Safriari tidak merasa kehilangan jabatan, bahkan dengan waktu banyak yang ia miliki justru bisa lebih dekat dengan masyarakat petani.

Langkahnya membantu memberikan pembinaan kepada masyarakat petani dinilai para petani sangat membantu bahkan dengan turun langsung ke lahan pertanian milik petani kerap dianjungi jempol para kelompok tani binaan yang mendapat sentuhan tangan dari seorang pemerhati pertanian Miq Ari sapaan yang kerap dilontarkan para petani ini.

“Kita bersyukur ada orang-orang seperti Miq Ari, karena kita merasa sangat terbantu dengan pembinaan yang maksimal, produksi hasil pertanian kami meningkat”, kata H. Ahmad mewakili sembilan kelompok tani, usai mendapatkan pembelajaran soal menangani bibit padi hibrida dengan benar dan baik di desa Taman Indah, Pringgarata, Lombok Tengah, Rabu (12/2/2014).

Siapa yang tidak kenal sosok Miq Ari. Begitu yang sering dilontarkan para petani ketika ditanya media ini, terutama petani di Lombok Tengah. Bahkan dengan banyak terobosan nyata yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat petani di NTB, para petani mengaku merasa telah menemukan aura dan semangat baru untuk bertani lebih giat lagi, karena setelah mendapatkan arahan bagaimana menjadi petani yang mengenal teknologi, para petani mampu meningkatkan hasil produksinya.

Dalam misinya membangun petani modern, ia tidak jarang mendapat kendala seperti gesekan-gesekan yang timbul antara pihak birokrasi dengan timnya yang notabane lembaga non formal alias penyuluh swadaya. Namun, ia menilai hal itu sebagai pengalaman positif bahwa tidak semua kegiatan positif dinilai positif oleh orang lain.

Bahkan ia menjadikan itu sebagai pemicu semangat untuk lebih giat melakukan terobosan-terobosan dalam meningkatkan hasil produksi petani, sehingga sejalan dengan misi pemerintah menjadikan provinsi NTB menjadi salah satu provinsi di Indonesia menjadi lumbung padi bahkan menuju swasembada pangan. *





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !